Gustine Rakyat Chendol Dhawet...

Didi Kempot waktu itu, tinggal bener-bener di bawah tebing jurang di pinggir jalan desa. Sementara kami berdua, kami dijamu menginap di villa khusus untuk tetamunya, di atas bibir jurang.

Selasa, 5 Mei 2020 | 07:24 WIB
0
630
Gustine Rakyat Chendol Dhawet...
Didi Kempot (Foto: jatimtimes.com)

Kangeeen sekali dengan suasana seperti ini. Suasana saat kita bisa lepas, bebas, rame-rame nyanyi dan berjoget. Bisa menjogetkan diri sendiri yang lagi ambyar dalam urusan asmara. Atau lagi bundhet di gaweyan, karir mawut, duit seret, dhapur istri ngga kemebul-kebul lagi. Kapan lagi ya?

Didi Kempot boleh patah hati, putus cinta, diingkari janji dalam semua lagunya. Tetapi publiknya tak pernah mau tinggal diam bergoyang riang. “Kalau patah hati, lebih baik dijogeti..,” kata penyanyi yang oleh sejumlah media disebut Godfather of Broken Heart ini. Didi Kempot menyebut “sobat ambyaar” para pendukungnya. “Yang penting hati semuanya bernyanyi…,” serunya.

Kalau sudah sampai giliran lagu “Banyu Langit” apalagi “Kalung Emas” dan “Pamer Bojo”, publik ambyar pasti gegap gempita. Meski berdesak di sekitar panggung, para sobat ambyar ini selalu aman, tertib, ngga mabuk. Namun hangat menyambar dengan yel yel, “Cendhol dhawet, cendhol dhawet. Pira? Limang atusan!” mengalahkan yel yel politik apapun yang pernah ada di pentas Jakarta.

Lalu ribuan orang itu bergelora meneriakkan senggakan, “Ji, ro, lu, pat, (Tu wa ga pat) “Tak kitak-kitak, tak kitak-kitak…. Tak kitak-kitak, tak kitak-kitak… Tak kitak-kitak-kitak. Yooo…. Menggetarkan hati yang patah jadi tegar.

Bunyi tak kitak-kitak, dhut, tak kitak-kitak dhut pun menghentak dari dentam ketipung yang dimainkan pemuda ganteng Dory Harsa, pemuda keren patah hati, yang ikut Didi Kempot sejak di bangku SMA. Dan seperti lagu-lagu Didi Kempot, nasib duda ganteng yang ikut Didi Kempot dari SMA sampai lulus sarjana komputer itu, senyatanya memang duda ditinggal ibu dua anaknya yang pindah ke lain hati….

Musik congdhut (keroncong dhangdut, dan juga campursari) di panggung Didi Kempot memang dinamis. Ritmenya boleh tetap. Tapi dalam ekspresi lagu-lagu, lirik-liriknya yang berbahasa Jawa sungguh ndudut ati, hati patah ini serasa copot. Diungkapkan dalam bahasa sehari-hari, bahasa rakyat. Dan setiap lagunya menngungkapkan nama tempat. Dari Stasiun Balapan Solo, Terminal Kerto Nagoro Ngawi, Langgran Wonosari Ngayogyakarta, Pantai Klayar Pacitan….

Baca Juga: "Second Life" Didi Kempot, Sang Bapak Patah Hati Nasional

Didi Kempot juga mengisi atraksi panggungnya dengan liukan pemanis biolawati cantik, Rendy, yang tak hanya memainkan biola listrik. Akan tetapi juga menjadi teman pentas penyanyi asli Ngawi, Madiun yang bernama asli Didi Prasetyo itu. Sembari mengayunkan liukan dangdutnya, dan mengayunkan strekstok biolanya.

Ketika gelombang virus Covid-19 praktis mematikan seluruh aktivitas di ibu kota Jakarta sejak awal Maret 2020 dan menyusul kemudian, seluruh kota dan kabupaten di Nusantara, pentas Didi Kempot tengah hangat-hangatnya di mana-mana. Lagi laris-larisnya. Dan dimana pun pentas Didi Kempot, tak pernah sepi yelyel.

Ribuan, bahkan puluhan ribu penonton bergoyang, dari Surabaya, Kediri, Yogyakarta, Temanggung, Semarang, Demak dan tentu juga Jakarta. Selalu gegap gempita dengan “tak kitak-kitak, tak kitak-kitak, cendhol dhawet, cendhol dhawet”. Seantero Jawa dibuatnya bergoyang.

“Sejak 1993 saya sudah diminta pentas di Belanda, dan menyusul kemudian 1994 pentas di Suriname…. Sembilan belas kali,” kata Didi Kempot, dalam acara Talk Show Kick Andy di Metro TV Desember 2019, hanya dua bulan sebelum Covid-19 menghentikan aktivitas manusia Jakarta, dan kota-kota lain untuk berkelompok, beranjang sana, bahkan juga beribadah bersama di mesjid, gereja, kuil. Jangankan seminar. Sekolah pun kudu dilakukan dari rumah, kuliah dari rumah, kerja dari rumah….. Work from Home.

"Suriname sudah sembilan kali ganti Presiden, Didi Kempot selalu populer di sana," kata Didi Kempot pada Andy Noya yang mewawancarainya. Didi Kempot lebih populer di Suriname, lebih dari Presiden mereka sendiri. Dan Satu lagu, "Kangen Nickerie" adalah nama tempat indah di Suriname. Sebuah lagu yang khusus dibuatkan untuk Dony Harsa, pemain ketipungnya yang ditinggal kabur istri.

Kehidupan manusia Jakarta yang tadinya hingar bingar, berubah jadi hidup masing-masing. Meski kita manusia makhluk sosial, kudu pasang kuda-kuda. Ambil jarak, minimal satu meter jika berdekatan.

Antri super market pun harus berjarak. Mobil pribadi maksimum dua orang, itupun penumpang kedua harus duduk di belakang. Motor ngga boleh boncengan (di Jakarta). Mudik Lebaran pun dilarang! Nggak boleh. Kalau nekat? Dipaksa putar haluan. Balik ke Jakarta lagi. Kalau balik ke Jakarta bagi yang sudah terlanjur nekat pulkam?

“Jangan harap bisa balik ke Jakarta dengan gampang….,” kata Gubernur Anies Baswedan, yang di Jakarta menggulirkan program “Kolaborasi Sosial Berskala Besar” (KSBB) pada saat berbagai kota di Jawa memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), istilah yang lebih lunak dari “Lock Down” menutup kegiatan di luar rumah sama sekali di negara-negara lain.

Suasana kini di Jakarta, juga di kota-kota lain di Jawa, berbanding terbalik dengan suasana tiga empat bulan lalu. Saat “sobat ambyar” dan “rakyat cendhol dhawet” tak henti bergoyang, bergantian dari kota-kota, dari kabupaten-kabupaten bergelora dengan “tak kitak-kitak, tak kitak-kitak, cendhol dhawet, limaratusan….,”

Tetapi dalam kesendirian di rumah, kita sebenarnya juga masih bisa menikmati konser "cendhol dhawet" Didi Kempot dari peralatan komputer kita. Konser rekaman Didi Kempot siap menghangatkan dan mencairkan suasana beku di rumah kita dengan tak kitak-kitak, tak kitak-kitak, cendhol dhawet, limang atusan dari konser-konser Gustinya Wong Ambyar, Gustinya Rakyat Cendhol Dhawet yang masih menggeletar suaranya pada usianya yang ke-53.

Suka Masak

“Saya memang suka masak…,” kata Didi Kempot, pada saya dan isteri saya, ketika dua malam kami menginap di rumahnya di lereng jurang di sebuah desa di Ngawi, Madiun, Jawa Timur pada Juli 2005. (Tulisan saya, tulisan gabungan dengan Frans Sartono dan Lusiana Indriasaari “Hidup Kaya bukan Lagi Impian” dimuat Kompas Minggu, 24 Juli 2005).

“Saya masakkan Sayur Pare, yaa….,” kata Didi Kempot, ketika pagi hari kami bangun tidur pagi-pagi, “Mumpung manten anyar, saya bikinkan minuman Redoxon ya?” kata Didi Kempot. Semua dilakukan Didi Kempot sendiri. Bukan pembantu, atau isterinya.

Baca Juga: Didi Kempot dan Seno Nugroho

Didi Kempot waktu itu, tinggal bener-bener di bawah tebing jurang di pinggir jalan desa. Sementara kami berdua, kami dijamu menginap di villa khusus untuk tetamunya, di atas bibir jurang. Jika kami membuka jendela? Terlihat pemandangan indah Gunung Lawu dari kejauhan, dan kehijauan pepohonan. Kami bicara, wawancara, dari petang sampai larut dinihari di rumahnya di Ngawi. Juga, disambung bicara di meja makan.

Tak hanya itu, Didi Kempot kami temui waktu itu (2005), selepas pentas di Solo, di penginapannya di Hotel Riyadi. Dan istimewanya, dia nyupiri kami dengan mobil minibusnya dari Solo tengah malam, sampai dinihari di Ngawi. Tak lupa, ngobrol sembari nyupiri kami, dan singgah di sebuah restoran di Sragen, langganan dia jika berkendara usai pentas dari Solo. Dua teman Didi Kempot, menyertai kami di mobil minibus.

Suatu ketika dia main di Hotel Santika Yogyakarta, beberapa tahun kemudian, Didi Kempot pun sempat menyapa, “Eh, bagaimana sudah punya momongan?” sempat pula ngobrol sembari di ruang makan. Sudah sekian tahun, ngga yakin Didi Kempot yang kini jadi super star ini mengingat saya lagi…

Kenapa Didi Kempot, padahal pipinya kembung? Tanya Andy Noya, dalam talk shownya akhir Desember 2019, saat saya putar rekamannya, sebuah acara Kick Andy yang mungkin paling meriah selama ini.

“Kempot itu nama kami ketika mengamen….,” kata Didi Kempot. Singkatan dari Kumpulan pengamen trotoar. Dan dulu memang di Jakarta, Didi Kempot mengamen di pinggir Jalanan di Slipi, dekat Bundaran Slipli. Hidup di kontrakan sangat super sederhana, di pinggir kuburan di Slipi.

“Saya di Jakarta selalu menginap di kamar yang sama, di tingkat yang sama di Hotel Ibis, Slipi,” kata Didi Kempot, pada saya 2005 silam. Dia selalu menyewa kamar yang itu-itu juga, yang jendelanya bisa memandang keluar, memandang ke trotoar tempat dia dulu setiap hari mengamen empat puluh tahunan silam. Dia selalu memandangi ke bawah, tempat dulu dia benar-benar jadi “orang bawah” yang penuh dengan kisah putus cinta, putus pacar, ditinggal pujaan. Kamar lengganannya duluuuu….. tapi. Entah, kalau sekarang. *

Jimmy S Harianto (Jakarta, 04/05/2020)

***