In Memoriam Pak Adjie Damais

Rabu, 15 September 2021. Pak Adji meninggal di usia 79 tahun. Figur terakhir dari Trio Pelangi, sebuah kelompok manusia unik yang bisa menjadikan heritage, sejarah, dan ilmu pengetahuan menjadi sangat trendi.

Kamis, 16 September 2021 | 06:26 WIB
0
42
In Memoriam Pak Adjie Damais
Soedarmadji Jean Henry Damais (Foto: mediaindonesia.com)

Pada masanya, Indonesia (eh nggak ding Jakarta tepatnya) punya "Trio Pelangi" yang sungguh dahsyat. Ketiganya adalah orang yang memiliki kesamaan minat, peran, dan sumbangan yang luar biasa besar terhadap pemaknaan "heritage" di Indonesia. Ketiganya adalah Soedarmadji Damais, Ong Hok Ham, dan Joop Ave. Kedua nama awal tentu sangat saya kenal dengan baik, ndilalah nama terakhir walau seorang kelahiran Jogja malah saya tak pernah betul-betul mengenal.

Ndilalah lainnya, ketiganya adalah "orang Indo", dalam artian bukan original Indonesia. Dalam arti pribumi, seratus persen berdarah Indonesia. Apa juga istilah brengsek ini? Hari gini masih membicarakan ke-originalitas-an seseorang. Emang manusia sama dengan kopi? Walau sama-sama "indo", ketiganya berasal dari kultur yang berbeda. Pak Adjie keturunan Perancis, Pak Joop sangat Belanda, dan Pak Ong sebagaimana mudah kita tebak adalah seorang Tionghoa.

Tapi demikian adanya. Pak Adjie justru mentertawakan ketiga-tiga diri mereka sebagai "indo-kerupuk". Entah apa maksudnya? Apakah karena pada diri mereka yang tersisa "sisi jeleknya" tinimbang superioritas rasnya. Atau karena memang mereka sama-sama crunchy, renyah dan kemripik. Mungkin saya lebih setuju pada alasan terakhir ini. Bila kita sudah masuk dalam lingkaran dalam pergaulan mereka. Kita akan menemukan sisi menarik ilmu pengetahuan yang bersilang sengkarut dengan selera dan gaya hidup yang sungguh sangat unik, indah, dan menyenangkan.

Yah.... pokoknya sarwa-gurih.

Di tangan figur-figur seperti mereka. Kita jadi lebih mudah memahami bahwa justru kekayaan terbesar bangsa ini ada pada sisi budaya. Kultural yang tak ada habisnya dikaji, nyaris tak ada bandingnya di dunia. Keberagaman sebagai kekayaan yang justru saling mengikat dan membuat kita betah dan bangga hidup di dalamnya. Mereka-mereka inilah peletak dasar apa yang disebut sebagai "indonesian heritage", sebuah terminologi yang sungguh tidak tepat jika diterjemahkan sebagai "pusaka" atau "warisan sejarah" atau istilah sinonim lainnya. Heritage itu ya heritage...

Dalam diri Soedarmadji Jean Henry Damais, kita akan menemukan jejak panjang perkawinan antarras yang memberikan sumbangan besar pada kajian sejarah masa lalu bangsa ini. Ayahnya, Louis- Charles Damais (1911-1966) adalah seorang epigraf. Pembaca huruf kuno yang menikah dengan seorang perempuan Jawa yang bernama Soejatoen Abdul Arief Poespokoesoemo seorang pegawai perpustakaan di Museum Nasional Jakarta.

Sang ayah adalah anggota French Institute for Far East Studies (EFEO), generasi awal orang Perancis yang memberikan minatnya terhadap "Nusantara". Ia seorang poliglot, yang menguasai banyak bahasa. Ia gemar mempelajari penanggalan-penanggalan kuno. Ia seorang epigrafis yang banyak membaca inskripsi kuno Nusantara. Sumbangannya terhadap arkeologi klasik Nusantara sangat besar. Sayang ia meninggal di usia 55 tahun pada tahun 1966, terhitung sangat muda untuk ukuran arkeolog yang umumnya hidup lanjut dalam panjang usia.

Ironisnya sebagai seorang sejarahwan, justru pada kuburnya yang harus dipindah-pindahkan. Mulanya ia dikuburkan di pemakaman Blok P yang lalu tergusur oleh kantor Walikota Jakarta Selatan sehingga dipindahkan ke Pemakaman Jeruk Purut. Sependek catatan saya, kantor-kantor walikota Jakarta itu umumnya dibangun di atas tanah kuburan. Salah duanya yang di Selatan dan di Pusat (eks-Kebon Jahe). Makanya watak pemerintahannya juga gak pernah "jejeg dan jenak" hingga hari ini....

Adjie Damais lahir di Menteng Jakarta, November 1942. Tumbuh dan besar di kawasan Menteng, menyebabkannya telah memperoleh pergaulan global sejak usia dini. Kemudian ia melanjutkan kuliah di École Nationale des Beaux-Arts Perancis mengambil mayor jurusan Arsitektur. Latar belakang ilmunya inilah yang kemudian membuatnya menerima saran dari Dello Strollogo seorang desainer Amerika berdarah Italia untuk mengembalikan fungsi lapangan di depan Stadhuis dalam bentuk aslinya sebagai alun-alun.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, di samping digunakan sebagai stasiun trem. Plaza di depan Balai Kota Batavia ini kemudian digunakan sebagai terminal bis, oplet dan sado yang menjadikan area ini sangat kumuh.

Dari gagasan sederhana inilah, Pemprov DKI jakarta kemudian mengikutinya dengan dialih-fungsikannya bekas Stad-Huis itu menjadi Museum Sejarah Jakarta. Di mana ia menjadi direktur-nya untuk kurun waktu yang sangat lama. Di bawah Gubernur Ali Sadikin pula, ia berperan sangat besar menyulap gedung-gedung tua di Jakarta menjadi museum-museum baru dengan nafas konten ke-Indonesia-an yang kuat. Hanya dalam tiga tahun antara 1974-1977, ia berhasil melahirkan 10 buah museum baru. Seperti Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional, dll.

Setelah purna tugas ia pindah rumah dari Menteng ke kawasan Kemang. Sebuah kawasan sejuk di selatan yang dianggap sebagai Bali-nya Jakarta. Yang memungkinkannya memiliki pergaulan yang lebih erat dengan para "ekspatriat generasi baru". Hal yang meneruskan minat bahkan memperluasnya dalam hal heritage. Tidak sekedar pada pelestarian bangunan, tetapi juga pada barang-barang yang menjadi apa yang disebut "collector items" apakah itu keramik, perhiasan, tekstil, dll.

Ia kemudian dikenal sebagai figur yang tanpa kenal lelah mendirikan banyak lembaga dan mensupervisi banyak kegiatan bertema heritage. Seperti Lembaga Warisan Budaya Indonesia dan Badan Kerja Sama Kesenian Indonesia pada 2004, untuk melestarikan seni tradisional dari kepunahan.

Ia kemudian menjadi orang di balik suksesnya alih fungsi Kantor Javasche Bank kemudian menjadi Museum Bank Indonesia. Juga menjadi konsultan dari seorang bisnisman kelas wahid di bidang perhotelan bernama Adrian Zecha yang mengembangkan jaringan Aman Resort. Sebuah konsep peristirahatan yang sangat eco-friendly yang berbasis budaya lokal yang nyaris tak ada yang sama di setiap tempatnya. Seleranya memang dahsyat, apa-apa yang ada di tangannya jadi tampak istimewa. Walau mulanya kadang dipandang sebelah mata. Menunjukkan latar belakang arsitektur bila dikawinkan dengan heritage akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Salah satu koleksinya yang tertinggal di Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah kotak unik, semacam filling kabinet kayu model lama. Isinya adalah satu seri koleksi foto karya M. Ali. Seorang fotografer kerurunan Arab yang unik, kalau tak bisa dibilang eksentrik. Hasil jebretannya pada serial itu adalah setiap sudut kawasan Kota Lama. Uniknya ia memotretnya kala lengang, saat tak ada manusia sama sekali. Ukuran fotonya kecil-kecil dan format penyimpananya juga unik, karena setiap foto dimasukkan ke dalam amplop kecil. Ukuran terkecil amplop yang biasa digunakan untuk sumbangan pas ada acara kematian.

Saat itu, saya pernah mengusulkan untuk mempamerkan karya-karya itu dan membukukannya. Dengan judul "Jakarta, Kota Mati dan Ditinggalkan". Karena karya-karya tersebut sangat kuat menyiratkan kemuraman, kekumuhan, dan kesunyian Jakarta di kawasan masa lalunya yang paling tua. Tentu usulan itu ditolak pak direkturnya saat itu. Dan sejak itu entah kemana dokumen sejarah itu tersimpan. Konon sudah dibawa pulang Pak Adjie, tapi Pak Adji bilang belum. Lalu? Ya embuhlah!.

Rabu, 15 September 2021. Pak Adji meninggal di usia 79 tahun. Figur terakhir dari Trio Pelangi. Sebuah kelompok manusia unik dan tak ada tanding yang bisa menjadikan heritage, sejarah, dan ilmu pengetahuan menjadi sangat trendi, dandy, dan chic....

Selamat jalan, sugeng kondur, au revoir Pak Adjie.

NB: Saya sangat berhutang budi sangat besar ketika menyusun Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage tahun 2006. Lima belas tahun yang lalu, sebuah judul yang hibrid, yang kemudian saya sadari justru menguatkan makna kosmopolitanisme Jakarta. Ia adalah salah satu figur yang menguatkan mental saya, di usia semuda itu sudah harus nanggung pekerjaan sebesar itu.

Sebagai penulis banyak buku sejenis, tentu ia sangat paham. Silogismenya sederhana: Catat dulu, tulis dulu, cetak dulu. Perbaiki dan sempurnakan kemudian.

Kok ya Tuhan itu aneh, ketika saya justru mulai menarik diri lagi dari dunia ramai, baik pergaulan nyata maupun sosmed. Ketika saya sedang menulis ulang naskah itu, berusaha keras memperbaiki dan menyempurnakannya. Ia tiba-tiba berpulang di kala pandemi yang sangat mencekik ini. Baiklah, saya akan terus lanjutkan pekerjaan lama dan tak sempurna itu.
Jika nyampe, dan selesai. Saya dedikasikan untuk panjenengan, Pak Adjie.

***