Rocky Gerung: Antara Akal Sehat dan Kedunguan

Jumat, 1 Februari 2019 | 16:27 WIB
0
358
Rocky Gerung: Antara Akal Sehat dan Kedunguan
Ilustrasi Rocky Gerung (Foto: Facebook/Agus Amarullah)

Nama ‘Rocky Gerung’ seakan sudah melekat pada hal-hal tentang silogisme yang kadang banyak orang belum siap untuk menyikapinya. Satir-satirnya akan terasa pahit bagi yang tidak satu barisan, bahkan bisa memutarbalikan fakta masa lampau menjadi framming ‘kebenaran’ di masa kini.

Bagi mahluk medsos tampaknya sudah tidak asing lagi dengan sebutan cebong dan kampret. Dikotomi yang tercipta sejak Pilpres 2014 yang eksistensinya masih ‘terawat baik’ dalam kehidupan sosial kita sampai sekarang.

Dulu, kaum cebong dikenal punya nuansa pembawaan yang santai dan humoris setiap mengcounter isu serangan. Sebaliknya, kaum kampret punya nuansa ngamukan dalam mengcounter serangan yang datang. Di zaman itu pula muncul idiom baru yang dilekatkan ke sifat-sifat ngamukan seperti itu sebagai kaum sumbu pendek. Meski, sebutan yang satu ini tidak sepenuhnya buat kaum kampret.


Zaman pun berganti. Kehidupan pun ikut berganti. Cebong yang dulunya santai dan humoris banyak yang murtad menjadi kaum yang baperan dan sama-sama ngamukan. Banyak yang kehilangan akal sehatnya. Di sisi lain, kaum kampret banyak yang punya argumen-argumen bernas saat mengkritisi kebijakan Jokowi yang diangkat sebagai isu serangan.

Sebagai orang cerdik, Rocky Gerung membidik sisi ini sebagai gimmick marketingnya.

Sebutan-sebutan fenomenal seperti IQ sekolam, boneka, dan dungu berhasil beliau ciptakan. Tak pelak lagi hal itu dialamatkan buat kaum cebong. Sementara untuk kaum sebelah, Rocky Gerung selalu membawa narasi-narasi heroik sebagai ‘perawat akal sehat’.

Berkat kecerdikan Rocky Gerung-lah, semua berhasil diputarbalikkan tanpa ampun.

**

Namun jauh di luar itu, banyak celetukan-celetukan Rocky Gerung yang selain sebagai pemanas lantai dansa, juga penuh nilai-nilai perenungan yang sangat dalam. Banyak kritikan yang tampak dari luar seperti ditujukan buat sebuah kaum, tapi pada hakikatnya kritikan itu sangat universal. Hanya kita saja yang suka geeran dan baperan dalam menyikapinya.

Perhatikan celetukan-celetukan beliau ini yang berlaku bagi siapa pun…

Kalian terlalu dungu untuk memahami satire. Faktanya kedunguan itu memang tidak hanya milik satu kaum saja, bahkan banyak para wakil rakyat yang sepertinya berlaku seperti ini.

Kebebasan itu melampaui netralitas. Faktanya netral itu bukan berarti tidak mempunyai pendapat atau bahkan terpenjara oleh kenetralitasan itu sendiri.

Sopan santun itu tata krama, bukan cara berpikir. Faktanya banyak orang terbelenggu kebebasan berpikirnya karena khawatir disebut tidak punya adab, takut berpikir keluar dari kotak kelaziman.

Analisis artinya menguraikan dengan akal. Bahkan bila data tak cukup. Itu gunanya logika. Faktanya banyak berita hoax yang sudah dijelaskan dengan logika masih tetap diimani sebagai sebuah kebenaran.

Skeptis adalah hakekat akal. Supaya anda tak jadi pemuja. Skeptis itu bukan tak percaya pada fakta. Melainkan tak percaya bahwa benar/salah itu faktual. Faktanya skeptis adalah filter pertama dalam memerangi berita hoax, dari siapa pun sumber berita itu berasal.

Memulai dengan asumsi, berarti tak boleh mengambil konklusi. Apalagi ngamuk. Faktanya di zaman medsos seperti sekarang telah banyak melahirkan pakar-pakar di setiap bidang dengan asumsi-asumsinya yang super canggih.

2019 bukan cuma terjadi pergantian presiden, melainkan juga cara berpolitik. Dari sontoloyo ke berakal. Faktanya, politik kita sekarang sudah sangat memuakkan. Meski parlemen terbukti kinerjanya sangat buruk, tapi ironisnya tak kurang dari 89% caleg yang maju sekarang adalah caleg-caleg lama.

Berkuasalah bila memang ingin.Tapi jangan pongah. Itu dungu. Faktanya, dalam konteks kekuasaan kepongahan itu akan hinggap di kubu mana saja.

Tugas kaum liberal itu jaga akal sehat. Bukan jaga kolam. Faktanya, bagaimana pun juga Rocky Gerung itu orang liberal, dia mencoba menyuarakan yang menjadi tugasnya. Hanya karena ada terma ‘kolam’ disisipkan dalam cuitan itu, jadinya kaum kampret yang sangat membenci kaum liberal sekali pun berteriak kegirangan, dan kaum cebong pun meringis baper karena merasa tersinggung.

**

Semua orang sebenarnya mafhum kalau fenomena Rocky Gerung ini sangat kental dalam suasana kehidupan politik menjelang Pilpres, maka banyak cuitan-cuitan beliau menjadi terdistorsi bahkan jadi nyinyiran murahan. Tapi semurah-murahnya nyinyiran beliau, sangat menarik untuk disimak.

Coba simak cuitan-cuitan kontroversi beliau ini….


Rupiah nyungsep karena otak reptil.

Cuitan responsif ini terjadi saat pemerintah sedang berjibaku untuk mempertahankan rupiah dari efek terjangan resesi dunia yang diakhir ceritanya happy ending: rupiah menjadi mata uang terkuat ke-2 di dunia!

Kehangatan berbangsa. Itu yang tak dibangun rezim ini. Dungu.
Negeri yang robek. Robek oleh kekuasaan yg dungu.

Ini stigma yang dibangun seakan pemerintah Jokowi sebagai pemecah persatuan, perobek tenun kebangsaan. Jika demikian, para wakil rakyat harusnya segera bertindak, kalau ada celahnya, impeachment sekalian.

Besok itu reuni akal sehat.

Ini cuitan untuk mengetuk pintu ke sebuah golongan, memproklamirkan diri berdiri di mana. Hasilnya? Sekarang Rocky Gerung bisa dengan leluasa berceramah di masjid, lengkap dengan sambutan teriakan takbir yang menggema, sekali pun beliau adalah seorang ‘kafir’. Dalam hal ini Pak Djarot yang jelas-jelas muslim, menjadi kalah telak oleh beliau.

Khusus untuk cuitan yang menggunakan terma ‘dungu’, terlihat jelas ada arogansi Rocky Gerung yang melihat orang lain jauh lebih bodoh dari dirinya. Bahkan beberapa cuitan sangat jelas kepada siapa cuitan dungu itu diarahkan.

Logika adalah cara belajar melalui kedunguan orang lain.

Misalnya: Planga-plongo. Itu bukan esensi dungu. Itu ekspresi kedunguan saja. Ekspresi cara berpikir.
Junjunganmu terlalu dungu untuk memahami kalian. Sekolam sepedunguan.


Lagi-lagi, bukan Rocky Gerung kalau tidak bisa bermain kata dan logika. Memahami dirinya ada di pusaran kehidupan politik, maka lahirlah sebuah kebijakan seperti ini:

“Politik adalah rangkaian asumsi. Tak ada yang salah tak ada yang benar. Menyimpulkan artinya menunggu reaksi”.

Atau saat beliau berada dalam lingkaran drama kolosal Ratna Sarumpaet, maka beliau cukup berlogika sederhana saja dengan mengatakan: Saya juga dibohongi.

Bagi kita sebagai rakyat imut penghuni bumi Indonesia pasti berkelebat sebuah tanya, apakah Bung Rocky Gerung itu orangnya netral?

“Saya bukan bagian tim sukses ini, tapi saya mengharapkan timses ini sukses!”, tutupnya.

Karena beliau sudah menutupnya, tulisan ini pun harus segera ditutup juga.

Jegrek…!!!

***