Penulis Perempuan pun Bersatu Deklarasikan Pemilu Damai

Kamis, 21 Februari 2019 | 07:01 WIB
0
147
Penulis Perempuan pun Bersatu Deklarasikan Pemilu Damai
Penulis perempuan pun mendeklarasikan Pemilu Damai

Hidup bebas mengutarakan pendapat memang sejatinya yang diinginkan oleh kita sebagai warga negara. Namun sering kali kebebasan berpendapat menjadi disalahartikan. Pendapat diutarakan berkembang menjadi hujatan, caci maki bahkan memprovokasi orang lain.

Alih-alih hendak menyuarakan pendapat, malah jadi takut apabila suara yang kita keluarkan menjadi disalahartikan. 

Sebagai penulis yang menulis di blog pribadi, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk menulis tentang politik. Walau hanya mengamati dalam bentuk membaca dan mengikuti perkembangan politik di tanah air, ada keinginan untuk ikut menyuarakan.

Mungkin benar seperti yang dicurhatkan salah satu rekan penulis perempuan mbak Lia Wahab, bahwa masih banyak penulis perempuan yang belum berani unjuk gigi, salah satunya saya pribadi.

Dorongan dari berbagai pihak terutama keluarga terkadang membuat hati jadi terbelah. Toh politik bukan hanya untuk kaum pria,kan? Tapi mungkin karena belum terbiasa kaum perempuan berbicara politik.

Jangankan untuk menulis panjang lebar tentang situasi politik sekarang ini..berkomentar tentang salah satu artikel yang kemudian dishare dalam laman pribadi saja sudah menjadi sorotan keluarga. Perempuan tuh ga usahlah ngomongin politik..onde mande.

Beruntung sekali saya mendapat kesempatan hadir pada Deklarasi 30 penulis yang diwadahi PepNews dan Kang Pepih Nugraha sebagai foundernya. PepNews sebagai portal media online dengan taglinenya "Write It Right" membuka mata saya bahwa menulis itu merupakan hak kita dalam menyuarakan pendapat.

Namun menulispun bukan asal menulis. Menulislah dengan benar. Menulis dengan hati, berdasarkan fakta, bukan hoax. 

Deklarasi 30 penulis untuk Pemilu Damai merupakan satu keputusan bahwa pemilu bisa kok tercapai dengan damai. Bukan hanya oleh penulis, tapi profesi apapun bisa ikut berpartisipasi dalam usaha mewujudkan Pemilu Damai.

Hadir dalam acara Deklarasi 30 Penulis untuk Pemilu Damai ini yaitu bang Zulfikar Akbar dan Elli Salomo. Belajar dari kasus yang menimpa bang Zulfikar bahwa menyuarakan pendapat itu harus didukung oleh mental baja. Itu baru pendapat lho, gimana urusan pilihan politik.

Bagaimana tidak jika apa yang disuarakan malah berimbas pada hilangnya pekerjaannya. Tapi itulah, pendapat harus tetap disuarakan. Suka tidak suka pasti ada yang pro dan kontra. Tapi kalau tidak begini, bagaimana masyarakat kita dapat belajar bahwa perbedaan pendapat itu seharusnya dapat diterima. Tidak selamanya kita dapat menyenangkan orang lain.

Lain halnya yang dialami oleh bang Elli Salomo. Sebagai aktifis yang ikut terjun langsung dalam gerakan reformasi tahun 1998 bang Elli tahu benar bagaimana rasanya menyuarakan pendapat tapi bukan dihargai malah diberi (beri bahasa Betawi artinya dipukul,dihajar).

Peristiwa 1998 banyak meninggalkan luka mendalam, banyak korban yang juga dari pihak perempuan. Ketika peristiwa itu terjadi, kebetulan sekali saya masih menuntut ilmu di Jogjakarta. Dari beberapa teman, saya mendapatkan informasi tentang pergerakan dan peristiwa reformasi. 

Peristiwa 1998 menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Menyuarakan pendapat tidak seharusnya dibungkam. Dan perempuanpun kini berani unjuk gigi menyampaikan suaranya, menyuarakan kebenaran.

Let's Write It Right! Salam Damai Damai Damai.

***