Ketika Strategi Ke-7 Sun Tzu Menjadi Bumerang

Selasa, 22 Januari 2019 | 06:13 WIB
0
125
Ketika Strategi Ke-7 Sun Tzu Menjadi Bumerang
Sun Tzu (Foto: The San Francisco Examiner)

"Sebagai contoh, bagaimana bisa seorang gubernur gajinya hanya Rp 8 juta? Kemudian dia mengelola provinsi umpamanya Jawa Tengah yang lebih besar dari Malaysia dengan APBD yang begitu besar," kata Prabowo penuh percaya diri saat turun dalam ajang debat perdana Pilpres 2019 yang digelar di Jakarta pada 17 Januari 2019 (Sumber: Kompas.com)

Ketika Prabowo mengucapkan kata "besar", apa yang pertama kali terlintas dalam benak pemirsa debat perdana Pilpres 2019 yang digelar pada 17 Januari 2019? Apakah luas wilayah? Jumlah penduduk? Garis pantai? Ataukah jumlah personil militer?

Karena kalimat yang diucapkan oleh veteran dua kali pilpres tersebut tidak jelas, maka tidak tidak salah jika kemudian pendukung Jokowi mem-viral-kan sejumlah meme yang menggambarkan Prabowo menyebut luas Jawa tengah lebih besar dari luas Malaysia.

Meme-meme tersebut bukanlah bagian dari kampanye hitam apalagi disebut sebagai hoax. Tetapi, bagian dari bentuk kampanye negatif yang sah dalam pemiu di manapun dan kapanpun juga. Terlebih, menurut rekaman data yang disajikan Google, Malaysia memiliki luas wilayah  329.847 kilometer persegi, yang terdiri atas: Darat: 328.657 kilometer persegi. Dan luas Perairan: 1.190 kilometer persegi.. Sedangkan Jawa Tengah hanya 32.544,12 kilometer persegi atau sekitar sepersepuluh dari luas wilayah Malaysia.

BUkan hanya netijen, media pun menangkap "besar" yang diucapkan Prabowo adalah luas wilayah.

 

Grafis Kompas.com (Sumber Kompas.com)

Selang dua hari kemudian, pada Sabtu 19 Januari 2018, Sudirman Said selaku anggota Badan Pemenangan Pemilu Prabowo-Sandi mencoba meluruskan maksud kata "besar" yang diucapkan Prabowo. Katanya yang dimaksud "besar" oleh mantan Danjen Kopassus itu adalah jumlah penduduk.

 

Sudurman benar. Jumlah penduduk Jawa Tengah tercatat 33 522 663 atau lebih besar dari populasi Malaysia yang terdata sebesar 32,4 juta. Tetapi, pertanyaannya sederhana, apakah Sudirman mengetahui secara pasti tahu jika maksud Prabowo yang sebenarnya adalah jumlah penduduk, ataukah hanya persepsi pribadi Sudirman saja?

Ibarat segumpal awan yang menggantung di langit. Ada yang melihatnya berbentuk Prabowo. Ada juga yang menangkapnya berbentuk kepala ikan lohan. Tidak ada yang salah dari keduanya.

Akan tetapi, sekalipun pelurusan Sudirman benar, dalam artian "besar" yang dimaksud Prabowo adalah "jumlah penduduk". Tetap saja meme "Jawa Tengah lebih luas dari Malaysia" tersebut tidak bisa disalahkan. Sebab, menurut pepatah lawas "Sekali lancung ke ujuan, seumur hidup orang tak akan dipercaya lagi".

Begitu juga dengan Prabowo. Sekalipun Prabowo berkata benar, sebagian masyarakat sudah tidak lagi mempercayainya. Sebab, sudah berulang kali Prabowo dan tim BPN-nya melontarkan pernyataan-pernyataan yang jauh dari kenyataan atau fakta.

Sebagai misal, saat menyampaikan pidato kebangsaannya, Prabowo bercerita tentang kunjungannya ke beberapa daerah. Dalam ceritanya itu, Prabowo mengaku menemukan petani-petani yang bersedih karena ada impor saat mereka panen.

"Saya juga baru datang dari Klaten, di situ petani-petani beras bersedih karena, saat mereka panen, beberapa bulan yang lalu banjir beras dari luar negeri!" kata Prabowo pada 14 Januari 2019 sebagaimana yang dikutip Detik.com.

Bahkan, untuk acara debat Pilpres yang disaksikan oleh puluhan juta pemirsa saja tim BPN Prabowo-Sandi masih berani-beraninya melontarkan hoax. Katanya, saat berdebat Prabowo menggunakan isi kepala, sementara Jokowi dengan isi contekan.

"Waktu debat kemarin memang terlihat perbedaan Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Dalam menyampaikan visi dan misi saja Pak Jokowi harus dengan membaca catatan dari kertas kecil berlembar-lembar, kalau tidak salah warnanya kuning," sindir juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade pada 19 Januari 2019 (Sumber: Detik.com).

 

Meme Prabowo Sandi baca Teks (Dumber: Foro layar )

Padahal sangat jelas jika Prabowo dan pasangannya pun membaca kertas yang dibawanya.

 

"Kekreatifan" dalam urusan hoax memang patut diacungkan jempol.

Misalnya, pada 7 Januari 2019, beredar informasi yang menyebut ada 7 kontainer surat suara tercoblos asal China. Hanya berselang sehari informasi tersebut mendapat stempel "HOAX".

Atas stempel "HOAX" tersebut, netijen pendukung Prabowo ramai-ramai mem-viral-kan "Strategi Ke-7 Sun Tzu".

Kata Sun Tzu, "Buatlah sesuatu untuk hal kosong. Buatlah tipu daya dua kali. Setelah bereaksi terhadap tipuan pertama dan kedua, musuh akan ragu-ragu untuk bereaksi pada tipuan yang ketiga. Namun tipuan ketiga adalah serangan sebenarnya untuk menangkap musuh saat pertahanannya lemah".

Maksud dari netijen pendukung Prabowo ini, informasi surat suara tercoblos yang beredar pada awal tahun 2019 disebar sebagai tipu daya. Kemudian, beberapa waktu kemudian, tipu muslihat yang sama disebar untuk kedua kalinya. Tipuan ini membuat kubu Prabowo akan lengah dan meragu alias tidak akan percaya jika kemudian beredar informasi yang sama untuk ketiga kalinya. Dan, pada saat yang tepat, disebarkan informasi valid tentang surat suara tercoblos.

Padahal, kalau sedikit saja memanjangkan sumbu, sudah jelas kalau Strategi Ke-7 Sun Tzu tidak nyambung dengan informasi hoax surat suara tercoblos. Karena, pada saat kecurangan yang sebenarnya dilakukan, tidak perlu lagi repot-repot menyebarkan informasi.

Lagi pula surat suara tercoblos tidak mungkin bisa dipakai untuk mencurangi pemilu. Berapa pun jumlahnya

Seperti yang ditulis dalam Mirip Pilpres Iran 2009, Jokowi sedang Di-Ahmadinejad-kan

Menariknya, kalau dipikir-pikir, sebenarnya Strategi Ke-7 Sun Tzu yang di-viral-kan oleh pendukung Prabowo ini mantul  sendiri ke arah Prabowo. Dalam pepatah Indonesia, "Menepuk air didulang, terpercik muka sendiri".

Strategi ke-7 Sun Tzu yang semula dituduhkan ke arah kubu Jokowi akhirnya menjadi senjata makan tuan berbalik menyerang Prabowo. Malah, strategi ini berbaur dengan pepatah "Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya".   

Ya, ketika Prabowo baru sekali berkata ngawur, orang masih memakluminya. Begitu juga dengan pernyataan ngawur yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Tetapi, ketika Prabowo masih saja terus-menerus berulang-ulang berkata ngawur, masyarakat menjadi terbiasa. Dan, ketika Prabowo mengatakan yang sebenar-benarnya, masyarakat pasti menangkapnya sebagai sebuah ke-ngawur-an baru.

Karenanya, meskipun sebagian masyarakat ada yang menduga jika yang dimaksud "besar" oleh Prabowo adalah jumlah penduduk, tetapi sebagian lainnya tetap berpikiran jika yang dimaksud Prabowo adalah luas wilayah.   

***