Payung

Payung kebesaran itu sesungguhnya adalah perlambang negara. Ia sedemikian besar dan berat, sehingga yang dipayunginya pun harus memiliki dan memikul tanggung jawab yang setimbal besar dan beratnya.

Minggu, 2 Januari 2022 | 08:57 WIB
0
90
Payung
Payung lama (Foto: Dok. Pribadi)

Mungkin tidak banyak lagi orang Jawa yang tahu bahwa sinonim kosa kata "payung" adalah "songsong". Sebenarnya tidak tepat dikatakan sinonim, sebab kata itu bahasa krama inggil dari kata payung. Dan digunakan sangat terbatas di lingkungan kraton, bahkan sedemikian terbatas lagi di kalangan raja dan kerabat atau pembantu terdekatnya. Menjelaskan bahwa songsong adalah simbol pangkat dan penanda kebesaran seseorang. 

Karenanya payung, juga harus dibedakan menurut ukuran dan warnanya. Dalam konteks Kraton Yogyakarta maupun Surakarta sedemikian rumit. Karena di luar warna dasar, juga masih dibedakan lagi warna pinggiran tepi yang bisa sangat bermacam-macam. Semakin besar ukurannya dan semakin cemerlang warnanya, menunjukkan ketinggian pangkat seseorang. Hebatnya, abdi dalem mereka, memiliki tugas khusus untuk menghapal masing-masing payung tersebut! 

Padahal konon, sependek catatan saya ada sekitar 80 jenis payung dengan ukuran dan warna yang berbeda-beda. Dari tingkat terbawah kapanewon (setingkat kecamatan), kawedanan, hingga bupati. Kepala Tepas hingga Patih. Dan tentu saja, yang paling mudah dikenali adalah payung Sang Raja. Yang bukan saja karena ukurannya, tetapi karena warna dominasi emasnya yang mencolok mata.

Di zaman dahulu, ketika seseorang melakukan kunjungan ke kraton, yang kita kenal sebagai "pisowanan". Payung harus ditinggal, di luar kraton. Tepatnya di daerah pinggiran alun-alun, di bangsal-bangsal kecil yang berada di sisi Timur Alun-Alun Utara yang disebut Pekapalan. Kenapa disebut pekapalan, yang karena ukurannya kecil-kecil dan banyak. Situsnya masih ada, sayangnya sekarang lebih berfungsi sebagai warung jagung bakar dan wedang ronde. Menjelaskan betapa zaman semakin mengalami degradasi makna. 

Di situlah para tetamu raja menunggu, sebelum berkesempatan bertemu dengan raja. Di situ pulalah payung-payung itu ditinggal dan dilarang dibawa masuk ke dalam Sitiinggil. 

Kenapa payung dilarang dibawa masuk? Justru hal inilah yang menjelaskan kenapa ia disebut "songsong". Songsong memiliki arti dasar "melawan arah". Dalam konteks cuaca panas, ia membuang arah sinar matahari, agar yang dipayungi tidak kepanasan. Pun bila hujan tiba, ia juga mencegah air membasahi orang yang dipayungi.

Demikianlah makna dasar songsong. Jadi saya terkadang merasa aneh jika dalam menyambut sesuatu moment, orang mengatakannnya dengan pilihan kata "menyongsong". 

Dulu ketika kredo "dalam rangka" masih ramai digunakan, setelah kalimat itu digunakan kata menyongsong, apakah itu hari pemuda, hari kemerdekaan, program ini itu. Jadi kalau tujuannya sebenarnya tak tercapai, dan sekedar acaranya terlewati atau hanya terlaksana pada D-Day tersebut ya lumrah. Wong makna sebenarnya meleset jadi tidak tercapai. Hiks!

Pagi ini, saat sedang meriset foto lama tentang Kraton Surakarta saya menemukan sebuah gambar yang menurut saya sangat epik. Sebuah payung besar, yang kerap disebut "songsong ageng".

Sedemikian besar dan pasti beratnya yang dipegangi empat orang abdi dalem wanita. Mereka yang disebut sebagai abdi dalem keparakan, yang bertugas menemani atau menyertai raja. Tolong dibedakan konteks menemani, yang bukan berarti mengawal. Pengawal itu tugasnya prajurit dan tentu harus laki-laki.  

Bagi saya pribadi, foto ini seperti pesan dari masa lalu. Sangat sarat makna dan pelajaran. Sekaligus sebuah pesan yang aneh dan mengiris-iris hati. Kenapa mesti wanita yang cukup umur, kenapa harus jumlahnya empat orang. Mengapa posisinya ada yang saling berhadapan, ada yang berdiri, ada yang berjongkok. Lalu mengapa posisinya menghadap pada empat arah mata angin yang berbeda?

Ah, saya pikir saya menjadi terlalu sensitif dan sentimentil....

Payung kebesaran itu sesungguhnya adalah perlambang negara. Ia sedemikian besar dan berat, sehingga yang dipayunginya pun harus memiliki dan memikul tanggung jawab yang setimbal besar dan beratnya. Kenapa wanita yang justru harus memegang dan menahannya. Ya itu bukti bahwa perempuanlah soko guru negara. Ialah tiang negara, menjelaskan kenapa harus empat orang. Rumah tak pernah jadi rumah jika tiangnya kurang dari empat!  

Sebagaimana juga rumah, kemanapun arah hadapnya. Ia selalu berdimensi empat. Menghadap pada empat penjuru mata angin, apa yang dalam budaya Jawa disebut "papat kiblat lima pancer". Atau kalau pilihan kata "kiblat" terlalu berkonotasi Islamis atau kearab-araban. Orang Kejawen menyebutnya "sedulur papat lima pancer". Dimana keempatnya disebut kakang kawah, yang melindungi si adi ari-ari. Makanya timbul makna "kakang kawah adi-ari", yang merupakan asal muasal kelahiran yang menyertai setiap anak manusia hadir ke dunia fana.

Empat orang yang membuat si orang kelima menjadi sesuatu yang menggerakkan sekaligus digerakkan secara bersama-sama. Pesan ini meneladankan bahwa sebetapa pun kita ingin sendiri dan mandiri, sesungguhnya ada empat "sesuatu" yang lain yang senantiasa menyertai kita. Sejak dalam kandungan, saat lahir, bahkan ketika kita kelak menjalani masa kematian...

Sayangnya, mungkin gambar atau malah pemahaman seperti ini menjadi jatuh harga. Ketika seseorang yang bermakna dan berwatak kadrun akut. Memahami sebatas dasar kampanye poligami untuk beristri empat. Dan yang dilarang justru dalam konteks jangan lebih dari empat.

Kultur adiluhung Jawa selalu digunakan atau lebih tepatnya diselewengkan untuk demokratisasi dan egaliterisasi. Padahal kalau pun pesan yang sama digunakan, ia hanya patut diberikan kepada seorang sekelas raja sebagaimana pesan dari gambar ini. 

Ia yang dianggap mampu, dituntut bisa dan memang memiliki watak dan potensi untuk bisa bersikap adil. Hingga berhak memiliki previlege tersebut! 

Demikian dalil abadi yang sebenarnya telah disampaikan beratus tahun silam yang termatub dalam foto ini. Oh ya, Selamat Tahun Baru 2022. Pesan tulisan ini, tahun baru tidak usah disongsong karena kita akan dianggap melawan takdir. Juga tak perlu berlebihan disambut toh ia tetap akan datang dan berlalu.

Menjelaskan bahwa satu-satunya yang tak pernah berbohong atau berkhianat hanya waktu. Ia tetap akan hadir dan lewat, tanpa kita harus menunggu. Ia akan tetap pergi, walau setengah mati kita mencegahnya berlalu. 

Ia seperti cinta. Tak bisa kita tolak ketika ia datang, pun tak bisa kita cegah ketika ia harus pergi.....

***