Asal Muasal Kompas [15] Kebangkitan Koran Daerah

Begitulah perjalanan panjang pemasaran Harian Kompas, dari jawilan di gereja hingga mesin otomatis dan internet.

Selasa, 14 Mei 2019 | 13:58 WIB
0
312
Asal Muasal Kompas [15] Kebangkitan Koran Daerah
Desain Kompas

Selagi mempersiapkan diri untuk menghadapi perkembangan teknologi, Kompas disentakkan oleh berkembangnya pers di daerah-daerah.  Ini berawal ketika muncul gaung perlunya pers Pusat membantu koran daerah yang nyaring terdengar, terutama dalam rapat-rapat Serikat Penerbit Surat kabar (SPS).

Kompas sebagai koran terbesar, menjadi ajang protes dari para penerbit daerah yang tidak juga berkembang. Mereka memasalahkan banyak hal, mulai protes banyaknya koran Pusat beredar di daerah, dominasi iklan, dan dukungan terhadap perkembangan bisnis mereka.

Dalam setiap rapat SPS yang mayoritas anggotanya adalah penerbit dari daerah, isinya memasalahkan dominasi koran Pusat di daerah. Koran daerah yang eksis di daerahnya biasanya paling nyaring bersuara agar koran Pusat tidak beredar di daerah untuk melindungi dirinya.            

Akhirnya dibuatlah berbagai peraturan yang diharapkan bisa membantu koran daerah dan koran-koran bertiras kecil. Di antaranya, koran besar harus memimbing  koran daerah  atau koran kecil dengan bantuan manajemen atau modal dengan cara ikut serta dalam kepemilikan di koran tersebut (tapi nggak boleh mayoritas – keluar duit tapi nggak boleh berkuasa!).

Pada saat itu setiap penerbitan harus mendapatkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) dari pemerintah cq Departemen Penerangan. Untuk mendapatkan SIUPP harus ada rekomendasi dari SPS yang diketuai menteri penerangan dan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)  yang ketuanya (biasanya) orangnya Menpen. Dengan demikian menpen ini mahakuasa dalam urusan SIUPP.

Awalnya Kompas mendapat tawaran untuk bekerjasama dengan Jawa Pos yang ternyata tidak ada kata sepakat dengan pemiliknya . Pada tahun 1985 Jawa Pos bekerjasama dengan kelompok Majalah Tempo dan dipimpin korespondennya, Dahlan Iskan. Koran bermanajemen baru ini ternyata dengan cepat melesat dan menggerogoti tidak saja koran sedaerahnya tetapi juga koran Pusat, terutama Kompas.

Usaha Kompas memenuhi imbauan SPS untuk membantu koran kecil, pertama kali dimanifestasikan dengan menerima sodoran Menpen Harmoko pada tahun 1987.  Pak Jakob dan Menpen bersepakat untuk mengelola bersama Harian Sore TERBIT yang terbit di Jakarta.

Namun upaya ini gagal karena tidak tercapai kesepakatan di antara calon pengelolanya. Upaya ini diulagi dengan pengelolaan Harian Surya di Surabaya pada tahun 1989.

**

Kehadiran Jawa Pos dengan manajemen baru pada tahun 1985 banyak mempengharuhi peta sirkulasi koran secara nasional. Apalagi ketika kemudian Jawa Pos mendirikan koran di berbagai daerah dengan bekerjasama dengan penerbit setempat.

Oplah koran secara nasional meningkat tajam karena koran daerah dengan pemberitaan lokalnya berhasil menambah pembaca. Sementara itu oplah Kompas sejak tahun 1987 menurun , tidak saja di Jawa Timur tetapi juga di berbagai daerah. Paling drastis memang di Jatim,  pada tahun 1980 sekitar 36.000 eksemplar tapi tahun 1995 tinggal 12.433 eksemplar.

Baca Juga: Asal Muasal Kompas [1] Pintu Besar Selatan

Selain itu dari penelitian mencuat data bahwa persentase peredaran Kompas di daerah makin mengecil.  Jika tahun 1986 peredaran di luar Jabotabek mencapai 40% dari oplah maka tahun 1997 menurun menjadi 32,17%. 

Ketika Jawa Pos mencanangkan akan menjadi koran nasional, Kompas pun baru tersadar. Apalagi ketika koran pimpinan Dahlan Iskan tersebut dengan cepat “membeli” surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) dan mengembangkan koran serupa Jawa Pos di daerah-daerah.  Kompas seolah terkepung.

Keterbatasan halaman memang menjadi kendala utama Kompas untuk bisa memuat semua berita yang terjadi di Tanah Air. Padahal proximity, kedekatan berita pada pembacanya menjadi hal penting bagi sebuah koran. Selain itu, gaya hidup masyarakat sudah banyak berubah, mereka membutuhkan informasi secepat mungkin. Informasi terdahulu, itulah yang paling berharga.

Kehadiran Kompas di daerah-daerah  selalu ketinggalan dengan koran setempat. Dua hal inilah yang kemudian mendasari kebijakan Kompas menggunakan sistem cetak jarak jauh dan mendirikan koran di daerah-daerah.

Sistem yang biasa disebut dengan cetak jarak jauh atau CJJ ini sebenarnya hanya pracetaknya yang dilakukan dari jarak jauh, mencetaknya tetap di daerah tempat mesin cetak dipasang. Data digital bahan yang akan dimuat per halaman ditransfer dari Palmerah ke daerah melalui saluran telekomunikasi.

Di percetakan daerah, begitu diterima kemudian dikeluarkan dalam bentuk film negatif. Selanjutnya dari  film inilah dibuatkan plat untuk mencetak koran Kompas yang diedarkan di daerah. Dengan demikian, pagi-pagi Kompas bisa beredar di daerah sekitarnya.

Sistem CJJ pertama didirikan di Bawen, Jateng, pada tahun 1987 untuk melayani pelanggan di DIY/Jateng dan sebagian Jatim, Madiun khususnya. Selanjutnya PT Gramedia bekerjasama dengan percetakan di Makasar (1997), Surabaya (2000), Palembang (2001),  Banjarmasin (2003), dan mendirikan percetakan sendiri di Medan (2003), dan Bandung (2005).

**
Oplah di Jawa Timur bisa menjadi contoh bagaimana Kompas digerogoti pasar koran daerah. Pada tahun 1980 ketika pengelolaan koran Jawa Pos belum ditangani tenaga dari Majalah Tempo, oplah Kompas di seluruh Jawa Timur mencapai 36.000 eksemplar. Begitu Jawa Post ganti pemilik dan dikelola orang-orang Majalah Tempo pada tahun 1985, oplah Kompas pun menurun.

Dan sejak itu dua keunggulan koran daerah (kecepatan dan kedekatan dengan pembaca) benar-benar bekerja sehingga pada tahun 1995 oplah Kompas di Jawa Timur tinggal 12.433 eksemplar. Selanjutnya koran Jawa Pos yang sebelumnya pernah ditawarkan ke Kompas ini, semakin hari semakin besar hingga sekarang menjelma menjadi sebuah penerbitan yang besar, menyaingi Kompas dalam skala nasional.

Perkembangan koran daerah terutama dalam segi pengelolaan memang berkembang pesat. Dari segi isi, teknologi memungkinkan agar tidak ketinggalan dengan koran terbitan Jakarta. Apalagi ketika koran-koran daerah itu membuat jaringan dan perwakilan di Ibukota, maka tak ada yang kalah dalam hal mencari narasumber.

Sementara itu dari kecepatan menjual informasi ke pembaca, tentu saja koran terbitan daerah tak mungkin dilawan koran terbitan Jakarta. Bahkan sejak tahun 1985 koran-koran dari Jakarta baru bisa beredar di kota Surabaya setelah pukul 11.00.

Walaupun koran tersebut diangkut dengan pesawat dari Cengkareng pukul 06.00 dan tiba di Surabaya sejam kemudian namun nyatanya koran itu baru bisa keluar gudang dan beredar setelah pukul 11.00. Tentu saja ini salah satu “kecanggihan” bagian pemasaran koran-koran pesaing Kompas di Surabaya.

Sebuah koran pagi baru sampai ke pembaca pukul 11.00 bahkan 12.00 tentu saja membuat informasinya sudah basi. Informasi yang akan disampaikan kepada pembacanya sudah sangat ketinggalan, bahkan kebanyakan sudah berubah. Sehingga layaklah jika Kompas akhirnya ditinggalkan para pembacanya di daerah, dalam hal ini yang paling drastis di Jawa Timur.

**

Kelompok Kompas Gramedia sadar perkembangan penerbit di daerah tidak hanya koran tetapi juga produk media cetak lainnya. Apalagi beberapa penerbit di daerah kemudian juga meluaskan penerbitannya ke bidang majalah, buku, dan sebagainya. Itulah sebabnya kemudian KKG membentuk Kelompok Pers Daerah (Persda) untuk menjawab perkembangan penerbit di daerah.

Untuk menahan kemerosotan oplah di Jawa Timur, Kelompok Persda KKG menerbitkan koran Surya di Surabaya pada tahun 1989. Harapannya, Surya bisa berlaga dengan koran-koran setempat dan Kompas bisa tetap kokoh sebagai koran nasional.

Ketika usaha ini dirasakan tersendat, KKG pun mencetak Kompas di Surabaya dengan sistem cetak jarak jauh pada tahun 2000. Dengan CJJ ini Kompas bisa hadir di Surabaya pagi hari sama dengan koran setempat. Namun pesaing sudah keburu “lari” jauh sehingga CJJ ini hanya mendongkrak oplah hingga sekitar 15.000 eksemplar saja.

Ketika upaya ini dirasakan kurang mujarab, pada tahun 2000 Kompas mencoba memenuhi kebutuhan informasi Jatim dengan menerbitkan dua halaman yang khusus berisi berita yang terjadi di kawasan itu. Dua halaman khusus ini menggantikan dua halaman milik Desk Metro dan Nusantara.

Artinya koran terbitan Jawa Timur dibandingkan dengan daerah lain (edisi nasional) dalam hal jumlah halaman sama tetapi ada dua halaman yang isinya berbeda. Pada saat itu pasar iklan Jawa Timur mulai dijajaki. Jika ada yang memasang, ditambahkan pada iklan edisi nasional yang sudah ada.

Langkah selanjutnya, menerbitkan empat halaman tambahan khusus berisi berita-berita yang terjadi di Jawa Timur. Ini berarti jika edisi nasional terbit 40 halaman maka di Jawa Timur ditambah empat halaman menjadi 44 halaman. Di sini bagian iklan mulai aktif mencari order di Jawa Timur dengan target hasilnya bisa membiayai penerbitan edisi khusus yang empat halaman tadi.

Pada HUT Kompas ke- 38, tanggal 28 Juni 2003, jumlah halaman edisi Jawa Timur ditingkatkan menjadi 12 halaman. Ini berarti jika edisi nasional terbit 40 halaman maka Kompas di Jawa Timur terbit 52 halaman tanpa tambahan harga. Pemenuhan kebutuhan akan informasi Jawa Timur nampaknya memang ditunggu.

Pada bulan Juni 2004 oplah Kompas di Jawa Timur mencapai 29.000 eksemplar. Kiat memenuhi kebutuhan akan kecepatan dan kedekatan informasi bagi pembaca dengan CJJ dan penerbitan edisi daerah, menjadi pola yang dikembangkan Kompas.

Pada tanggal 01 Maret 2004 Kompas menerbitkan edisi Jateng/Jogja sebanyak delapan halaman dengan memanfaatkan percetakan di Bawen. Ini berarti jika Kompas edisi nasional terbit 40 halaman maka di Jateng 48 halaman dan di Jatim 52 halaman. Pada HUT ke 39, tanggal 28 Juni 2004 edisi Jateng/Jogya dipecah, DIY dibuatkan edisi sendiri, masing-masing delapan halaman.

Pada saat yang sama diterbitkan dua halaman khusus untuk Jawa Barat dengan pola yang sama ketika Jatim dan Jateng/Jogya memulai edisi daerahnya. Penerbitan dua halaman yang “dicangkokkan” pada edisi nasional ini merupakan langkah awal menuju penerbitan edisi lokal yang mandiri (hidup dari iklannya sendiri).

Pada tahun 2005 PT Gramedia membangun percetakan di Bandung dan diperkirakan pada tahun itu Kompas edisi Jawa Barat setebal delapan halaman akan terbit.

Perkembangan teknologi memang memungkinkan Kompas untuk tetap bertahan sebagai koran nasional.

**

Ketika pada zaman reformasi persyaratan surat izin penerbitan pers dihapuskan, jumlah koran dan media cetak lainnya semakin tak terhitung banyaknya. Pada saat itu persaingan antarpers pun memuncak sehingga jumlah diskon atau nilai hadiah yang diberikan kepada calon pelanggan pun terus meningkat.

Untuk menghadapinya, berbagai kiat promosi dan pemasaran pun digelar. Keadaan ini menyadarkan Kompas untuk “muncul” di permukaan dengan berani mempromosikan diri, sesuatu yang selama itu tabu dilakukan. Pimpinan Kompas sadar, citra lembaga itu harus ditegakkan, dibangkitkan, agar namanya tidak dilupakan orang.

Baca Juga: Meski Cuma Debu, Ini Catatan Tertulus Saya untuk HUT Ke-85 Pak Jakob

Untuk menunjang kerja sirkulasi, pada tahun 2003 Kompas membentuk unit Marketing Communication (Marcom). Lembaga ini bekerjasama dengan biro iklan Bates, melahirkan motto Buka Mata dengan Kompas yang tidak saja dimuat di korannya tetapi juga disiarkan di televisi, radio, billboard, baliho, bahkan ditulis di gerbong-gerbong kereta api listrik. Ini untuk pertamakalinya Kompas mengiklankan dirinya sendiri.

Pada tahun itu juga koran Kompas bisa dibeli melalui 126 mesin otomatis semacam ATM yang tersebar di banyak negara. Mesin yang disebut press point itu, dioperasikan oleh Satellit Newspapers yang berkantor di Nederland, Amerika, dan Hongkong. Press point ini ditempatkan di bandara-bandara, pusat-pusat bisnis, dan hotel-hotel tingkat internasional. Di Indonesia mesin tersebut sempat dioperasikan di tiga hotel di Bali: Intercontinental Resort, Jimbaran; Nusa Dua Beach Hotel, dan Radison Hotel.

Cara membeli korannya, pilih benua Australia tempat Kompas terbit (dalam mesin ini Indonesia dimasukkan dalam kelompok Australia) dengan menekan peta yang tertera dalam monitor mesin. Setelah muncul gambar peta Australia, pilih negara Indonesia kemudian pilih nama korannya, Kompas. Setelah itu gesekkan kartu kredit Anda, beberapa saat kemudian akan keluar koran Kompas dalam ukuran setengah halaman koran hitam-putih, maksimal 40 halaman, harganya US $ 4.

Bekerjasama dengan Newsstand, sebuah lembaga distributor koran digital tingkat internasional yang berkedudukan di Texas AS, Kompas mulai Maret 2005 dapat dibeli langsung melalui internet secara langganan maupun eceran.

Begitu membuka website www.newsstand.com siapa pun bisa berlangganan atau membeli eceran Kompas dengan memberikan data kartu kreditnya untuk didebet seharga langganan/harga ecerannya. Pembuka internet bisa mendapatkan seluruh halaman Kompas secara lengkap persis koran aslinya, bahkan bisa dicetak setelah datanya di-down load.

Dengan demikian Kompas bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja. Ini suatu langkah baru dalam perluasan oplah untuk menghadapi era digital yang datang begitu cepat. Pelanggan atau pembeli koran digital ini bisa dihitung sebagai oplah bagi pemasang iklan karena mereka membeli datanya. Menurut data Newsstand, hingga pertengahan tahun 2004 tercatat 112 koran yang dijualnya, sembilan di antaranya koran Asia. Upaya ini nampaknya tidak berkembang.

Begitulah perjalanan panjang pemasaran Harian Kompas, dari jawilan di gereja hingga mesin otomatis dan internet.

(Bersambung)

Mamak Sutamat, wartawan purnatugas Harian Kompas 1970-2004.

***

Tulisan sebelumnya: Asal Muasal Kompas [14] Akhirnya Kompas Stagnan