Asal Muasal Kompas [1] Pintu Besar Selatan

Akibat panasnya ruangan, para wartawan yang kegerahan membuat berita dengan bertelanjang baju, tinggal berkaus singlet, yang kadang sudah bolong-bolong.

Jumat, 26 April 2019 | 20:06 WIB
0
1151
Asal Muasal Kompas [1] Pintu Besar Selatan
Edisi pertama Harian Kompas

 

Mulai hari ini PepNews menayangkan sejarah Harian Kompas yang selama ini belum terungkap dan tidak diketahui publik,  ditulis oleh wartawan senior Mamak Sutamat yang bekerja mulai tahun 1970 hingga pensiun di 2004.

NAMA Harian Kompas tidak begitu saya kenal ketika siang itu, bulan Juni 1970, saya mengitari daerah Kota, di utara Jakarta, untuk mencari kantornya. Kakak saya hanya memberi alamat, Jalan Pintu Besar Selatan no 86-88, naik oplet jurusan Kota turun di Stasiun Kota. Ketika saya temukan, ternyata terletak di salah satu dari sederet petak bangunan bertingkat dekat Stasiun Kota.

Di lantai dasar yang nampak kotor, panas, dan bau timah itu saya menanyakan di mana tempat pimpinan Harian Kompas. Begitu naik lantai II, terdapat deretan meja-kursi karyawan PT Kinta yang ketika itu selain melola administrasi Harian Kompas dan Majalah Intisari juga Harian Sinar Harapan, Majalah Djaja, dan kemudian Majalah Varia.

Di sebelah kiri, saya mendapatkan ruangan kecil, sederhana, dan banyak orang sedang bekerja. Di situ saya menjumpai Pak Jakob Oetama, Pemimpin Redaksi Harian Kompas yang duduk satu ruang bersama anak buahnya.

“Mas Alfons you kenal dengan anak ini?” tanya Pak Jakob kepada Alfons Taryadi, salah seorang wartawan yang duduk di depannya setelah saya mengutarakan lamaran pekerjaan sebagai penata wajah (layoutman).

“Tidak Mas, tapi saya kenal kakaknya, Susilomurti, wartawan KNI,” jawab Alfons. Pertanyaan yang sama diajukan ke wartawan lain, umumnya mereka kenal dengan kakak saya yang saat itu bertugas di Balaikota. “Baik, tiga hari lagi you datang pada saya.”

Tiga hari kemudian saya datang, ketika saya beranikan bertanya berapa gaji saya, Pak Jakob bertanya kepada orang yang duduk di depannya yang kemudian saya kenal sebagai Pak Ojong: “Untuk layoutman berapa?”

“Delapan ribu lima ratus,” jawabnya sambil terus mengetik.

“Hari ini mulai bertugas ya, sore nanti temui Mas Roestam Afandi,” kata Pak Jakob. Hari itu, 28 Juni 1970, tepat pada HUT ke-5 Harian Kompas, saya mulai bekerja di situ.

Dua tahun lamanya saya berkantor di Pintu Besar Selatan, sebelum pindah ke Palmerah Selatan. Dua bulan pertama saya masih difungsikan sebagai korektor berita (proof reader), mengakurkan naskah yang dicetak dengan aslinya, kemudian baru diminta mengerjakan layout Kompas. Ini sesuatu yang baru di Kompas, bahkan di seluruh penerbitan koran di Indonesia saat itu.

Pintu Besar Selatan, jantung Harian Kompas selama tujuh tahun pertama, mencetak banyak kader pimpinan di kemudian hari. Bersama RB Sugiantoro, wartawan Kompas yang lebih dulu masuk, saya dapat melukiskan keadaannya sebagai berikut.

Ruangan itu terletak di lantai dua sebuah gedung tua tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota. Ruang berukuran sekitar sembilan kali 14 meter tersebut dibatasi empat dinding, dengan hanya satu dinding di sebelah timur yang berjendela dan berjeruji besi.

Melongok keluar dinding ini, yang terlihat hanyalah dinding-dinding kusam bangunan tetangga yang sering menghalangi udara segar masuk ke jendela tersebut. Mulai pukul 10.00 uap timah dari dapur pracetak di lantai bawah menyeruak masuk melalui jeruji besi, membuat sesak penghuni ruang tersebut.

Satu-satunya tanda bahwa ruangan tersebut adalah sebuah kantor, hanyalah karena praktis hampir semua lantainya dipenuhi meja-meja kerja dengan mesin-mesin ketik di atasnya. Mesin ketik itu tidak seragam, besar-kecil dengan merk yang berlainan, antara lain Olympia, Olivetti, dan Underwood. Sedangkan di sepanjang dinding bagian selatan, berjajar lemari kaca yang dipenuhi buku-buku lama peninggalan harian Keng Po dan majalah mingguan Star Weekly. Di dinding bagian utara terdapat dua almari buku besar sedangkan di bagian barat sebagian tertutup kaca, di bawahnya teronggok koran-koran bahan dokumentasi.

Kumpulan buku di ruang ini kebanyakan berbahasa Belanda dan Inggris, seperti buku seri kearsipan tahunan Keesing yang terkenal itu. Melihat kondisi buku-buku tersebut, nyatalah betapa wartawan tempo dulu banyak memanfaatkan kepustakaan dalam pekerjaannya karena banyak di antara buku tersebut yang menunjukkan sering dipakai serta bercatatan pensil di dalamnya.

Selain buku-buku, di bagian bawah lemari itu juga terdapat laci-laci yang berisi koleksi foto-foto peristiwa dari Ipphos, Aneta, AP, UPI dan sebagainya. Banyak dari foto hitam-putih itu yang di bagian belakangnya telah diberi tanda-tanda ukuran kolomnya (biasanya dengan pensil merah), yang berarti foto tersebut pernah dimuat baik oleh Harian Keng Po maupun Mingguan Star Weekly.

Koleksi itu terdiri dari foto peristiwa luar maupun dalam negeri, antara lain mengenai foto-foto aksi militer Belanda dan perlawanan Indonesia di berbagai daerah, perang Korea, konflik Indocina, suasana di Eropa dan lain-lainnya yang untuk ukuran sekarang pasti bernilai tinggi.

Walaupun pada masa itu TV sudah mulai ada, meskipun masih hitam-putih, namun ketika itu tidak ada satu pun televisi yang dipasang di kantor untuk mengikuti berita aktual dari TVRI. Satu-satunya “bunyi-bunyian” yang ada hanyalah sebuah radio Philips yang digunakan J. Widodo, salah seorang wartawan, yang hanya dipakai malam hari untuk mendengarkan berita-berita dari radio luar negeri.

Hanya dengan radio itulah satu-satunya cara memperoleh berita luar negeri yang paling baru. Karena bulletin Antara yang terbit sore hari termasuk unedited news-nya yang diambilnya dari kantor-kantor berita luar negeri yang “dimonopolinya” waktu itu, tidaklah mungkin mengejar berita paling akhir kecuali siaran berita radio luar negeri. Pesawat televisi baru ada di ruangan itu pada tahun 1971.

Kelengkapan lain dari kantor redaksi Kompas tersebut adalah seperangkat kursi tamu yang ditempatkan persis di depan jendela dan depan pintu masuk ruangan. Satu set kursi tamu tersebut hanyalah terbuat dari tali-tali plastik warna biru-putih dengan satu meja kayu yang sederhana. Di kursi-kursi plastik itulah baik para wartawan maupun tamu duduk bersama, karena memang tidak ada tempat lain lagi.

Beberapa meja kerja dekat pintu masuk disediakan untuk bagian administrasi redaksi. Jumlah meja kerja di ruangan itu sekitar 10 buah, ditambah beberapa meja kecil untuk mengetik. Ruangan itu terasa sempit, apalagi jika para wartawan siang hari sudah berdatangan sementara karyawan administrasi belum pulang. Bahkan karena tidak muat lagi, ada staf redaksi pagi yang terpaksa ditempatkan di luar ruangan, di samping pintu masuk, sehingga seperti resepsionis masa sekarang.

 **

MENGINGAT kondisinya yang begitu sempit, maka di ruang Pintu Besar Selatan (PBS) ini hampir-hampir tidak ada privasi. Semua yang diomongkan baik lewat telepon maupun langsung antarkaryawan atau pimpinan di ruang tersebut pasti terdengar oleh yang lainnya. Lebih-lebih apabila Pak Jakob sedang paring duko dengan suara baritonnya yang cukup keras itu, maka semua telinga di ruangan itu mau tidak mau akan ikut mendengarnya.

Ya, karena alasan kondisi dan teknis seperti itu, maka “keterbukaan komunikasi” ketika itu ternyata mungkin lebih baik dan lebih apa adanya daripada masa sekarang yang diam-diam bisa lewat e-mail dan semacamnya. Keadaan ini pula yang menyebabkan Pak Jakob dan Pak Ojong harus keluar kantor kalau akan membicarakan strategi perusahaan. Bahkan seringkali Pak Ojong mengajak stafnya minum kopi di warung dekat Stasiun Kota untuk membicarakan pekerjaan.

Sebagai pemimpin redaksi, Pak Jakob yang sering disebut dengan Pak JO, duduk di deretan utara di meja kerja yang dahulu dipakai oleh Inyo Beng Goat, pemimpin redaksi Harian Keng Po, tokoh pers pada masanya yang meninggal di meja kerja tersebut pada 3 November 1962. Pak Jakob duduk menghadap ke selatan sedangkan Pak Ojong duduk di depannya, menghadap ke timur.

Walaupun belum secara tegas membagi pekerjaan, secara otomatis karena Pak Jakob pemimpin redaksi maka ia mengurus segala macam yang berkaitan dengan urusan redaksi. Hingga beberapa tahun Pak Jakob bisa dikatakan penguasa tunggal di redaksi, sehingga semua urusan keredaksian dialah yang harus menyelesaikan. Padahal rata-rata wartawan Kompas saat itu baru belajar sehingga belum mampu mendeteksi mana berita baik dan mana yang buruk. Sementara itu situasi politik saat itu sangat rawan bagi kehidupan koran, salah sedikit bisa tamat riwayatnya.

Jalan keluarnya, Pak Jakob harus menuntun mereka setiap hari dan mengawasinya secara ketat. Dampaknya, tanpa disadari “tensinya” gampang naik, dan pendidikan terhadap wartawan pun dilakukan dengan keras. Namun sikapnya itulah yang kemudian banyak disadari para kadernya sebagai sikap yang benar dan mendidik mereka.

**

JUMLAH wartawan dari waktu ke waktu bertambah seiring dengan perkembangan tiras Kompas yang meski pelan tetapi pasti terus merambat naik. Hal ini  tentu saja tidaklah mungkin menampung semuanya dalam satu ruangan itu sekaligus. Kecuali staf redaksi yang karena sifat pekerjaannya lebih banyak di belakang meja, maka para wartawan lapangan tidaklah mempunyai meja kerja sendiri ataupun tempat bekerja yang tetap. First in, first sit, first out, begitulah kira-kira dalil yang berlaku ketika itu.

Caranya adalah memakai meja kerja secara bergilir, termasuk P. Swantoro sebagai Wapemred yang juga “penguasa malam”, setiap sore hingga larut tengah malam menduduki meja Pak JO. Asistennya, Roestam Afandi, memakai tempat Adisubrata. Sedangkan meja kerja lainnya, termasuk meja sekretariat redaksi adalah free for all sifatnya. Karena keterbatasan tempat seperti itu, maka “mobilitas”` para wartawan pun cukup tinggi, jarang ada yang ngendon berlama-lama di tempat kerja. Sehabis ngetik, masing-masing lantas menyerahkan meja kerjanya kepada wartawan lain yang sudah menunggu giliran, sehingga arus berita pun ketika itu relatif cukup lancar.

Sesudah para karyawan dan staf redaksi pagi pulang kantor pukul 14.00, maka sering tampak pemandangan menarik di ruang redaksi. Sebagai akibat panasnya ruangan karena kurangnya aliran udara segar dari luar, maka para wartawan yang kegerahan banyak yang membuat berita dengan bertelanjang baju, tinggal berkaus singlet, tak peduli masih utuh ataupun sudah berlubang. Pada jam-jam itu tidak ada lagi karyawan atau staf redaksi wanita, semuanya sudah pulang, kecuali almarhumah Threes Nio yang bisanya datang petang atau malam.

Pada sore hari manakala para anggota redaksi malam yang dikomandani P. Swantoro mulai tiba maka boleh dikata yang tinggal hanyalah mereka bersama satu-dua wartawan lain yang masih sibuk ketak-ketik karena meliput acara sore (biasanya wartawan olahraga) atau terlambat kebagian meja kerja.

Rupanya lokasi kantor yang jauh di pojok utara Jakarta waktu itu ditambah sistem transportasi yang masih terbatas, membuat para wartawan enggan berlama-lama nongkrong di kantor. Mereka yang berdinas malam, jika belum punya kendaraan sendiri, bersama karyawan lain diantar mobil pick up Chevrolet biru. Mobil ini multifungsi: antar-jemput karyawan, antar koran, dan juga materi-materi lain untuk percetakan.

(Bersambung)

Mamak Sutamat, wartawan purnatugas Harian Kompas 1970-2004

***