Harianto Badjoeri [20]: Senang Kunjungi Makam di Malam Hari

Jika kebanyakan orang membagikan hanya satu dari 10 rezeki yang dia dapat untuk orang lain maka HB membagikan sembilan dari 10 rezeki yang dia dapat.

Minggu, 10 November 2019 | 21:33 WIB
0
166
Harianto Badjoeri [20]:  Senang Kunjungi Makam di Malam Hari
Sobari, pengawas TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan (Foto: Dok. pribadi)

Umumnya orang menziarahi makam pada siang hari, tetapi Harianto Badjoeri alias HB ini justeru kebalikannya, malam hari.

Ketika orang sedang terlelap tidur di tempat tidur dengan mimpimnya, HB justeru datang ke makam untuk bermalam di sana hingga jelang pagi. Keunikan ini tidak lain hanya untuk menyelami arti kehidupan dan kematian.

“Dengan sering datang ke makam, saya banyak meresapi arti hidup dan mati,” kata HB.

Apa yang dilakukan HB ini bukan bohong tapi disaksikan oleh Sobari, petugas pengawas makam di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Sobari lah yang selalu menemani HB menghabiskan waktu malam di pemakaman.

“Pak Harianto kalau datang ke sini jam 12 malam sampai 3 pagi. Pernah datang ke makam ini tiga malam berturut-turut,” kata Sobari bersaksi.

Ketika datang ke makam, HB yang sudah berkursi roda ini membawa tempat tidur lipat atau yang disebut valbed. Valbed ini digunakan HB untuk merebahkan di kala dia lelah duduk di kursi roda.

Di tengah makam yang sunyi itu, HB menyerap ilham tentang arti hidup dan mati. Hidup baginya adalah perjalanan manusia dalam mencari bekal untuk mati, bukan memupuk harta untuk dinikmati selamanya.

“Sedangkan mati adalah kehidupan sesungguhnya, karena di sana lah semuanya akan menemukan harta abadi yang ditabung ketika masih hidup,” ujar HB.

Selama bermalam di makam, Sobari melihat sendiri HB juga banyak membagi rezeki kepada orang lain. Mulai dari pengamen yang hingga pedagang di sekitar makam dia beri uang. Bahkan ada dua dari empat pengamen remaja yang dibiayai sekolahya oleh HB.

Pengamen remaja itu berlatar belakang mengenaskan. Mereka sekeluarga mulai adik sampai orangtunya juga mengamen. Jumlah saudaranya juga tidak sedikit, delapan orang.

“Saya harap, dengan terus bersekolah,  pengamen kecil itu bisa lebih baik pendidikanya dibanding orangtuanya,” kata HB sedih.

Dengan sering datang ke makam maka setiap orang akan menemukan arti hidup yang sesungguhnya. Dia akan tahu bahwa hidup seharusnya diisi dengan banyak menebar kebaikan.

“Dan, siapa yang mengingat tentang kematian maka dia pasti akan berbuat baik. Jika semua manusia berbuat baik maka dunia akan damai dan aman,” katanya.

Sebaliknya, jika orang tidak pernah mengingat mati maka dia cenderung sulit berbuat kebaikan. “Jika kebaikan tidak banyak ditebar maka kejahatan akan merajalela di bumi ini,” kata HB.

Itulah kenapa HB selalu mengajak kepada orang-orang di sekelilingnya untuk rajin datang ke makam. Tujuannya agar selalu ingat kematian dan kemudian senang berbuat kebaikan.

Dalam menebar kebaikan pun, HB juga rajin “berinvestasi” pada kematian. Misalnya, dia rajin berderma berupa mobil ambulan. Dengan mobil ambulan itu, dia mengirim pesan kepada orang lain agar selalu mengingat mati.

“Kalau orang selalu mengingat mati maka dia tidak tega berbuat jahat, apalagi korupsi yang merugikan orang banyak,” kata HB.

Di pemakaman Tanah Kusir itulah, HB juga disadarkan arti pentingnya berbagi kelimpahan harta kepada yang membutuhkan. “Memberikan sebagian besar rezeki yang saya dapat kepada orang lain, justeru saya mendapat kebahagiaan,” katanya.

Jika kebanyakan orang membagikan hanya satu dari 10 rezeki yang dia dapat untuk orang lain maka HB membagikan sembilan dari 10 rezeki yang dia dapat.

“Sulit dipercaya memang prinsip hidup Pak HB ini,” kata salah seorang sahabatnya sambil geleng-geleng kepala.

 Krista Riyanto

***

Tulisan sebelumnya: Harianto Badjoeri [19]: Tak Punya Anak, Tetapi “Anaknya” di Mana-mana