Poor Enzo Allie...

Enzo yang begitu gagah, ganteng, imut, pintar, dan sangat ingin membela bangsanya melalui dinas militer tiba-tiba terkena dampaknya karena pengaruh para pengkhianat bangsa.

Jumat, 9 Agustus 2019 | 09:33 WIB
0
308
Poor Enzo Allie...
Enzo Allie (Foto: Poskota News)

Saya sungguh merasa sedih dan nelongso melihat wajah Enzo Allie taruna Akmil yang ganteng itu. Gara-gara virus HTI maka studi dan karirnya di militer Indonesia terancam. Tidak seharusnya Enzo yang lugu dan imut ini yang harus menanggung akibat virus HTI. Seharusnya kalian, para orang tua baik yang akademisi, guru, pejabat, kyai, tokoh agama dan masyarakat, tentara, polisi, ketua ormas dan orpol yang bertanggung jawab atas hal ini.

Ini semua karena kalian membiar-biarkan dan menolerir virus HTI berkembang biak beranak pinak dan meracuni warga dan umat sampai generasi muda kita keracunan juga. 

HTI memang sudah resmi dilarang dan dibubarkan, meski sebenarnya agak terlambat. Kerusakan yang dibuatnya sudah cukup parah. Langkah pemerintah melarang juga tidak tegas dan tampak gamang. Para pengasong khilafah masih berkeliaran di mana-mana dengan bebas tanpa ada tindakan tegas pemerintah. Padahal, sudah sangat banyak anak-anak muda muslim yang berhasil diracuninya dan bahkan banyak PNS/ASN yang sudah terlanjur menjadi bagian dari organisasi pengkhianat bangsa ini. Dan pemulihannya itu sungguh tidak mudah.

Yang saya heran sebenarnya adalah mengapa para petinggi bangsa ini tidak melihat dan tidak menyadari betapa berbahayanya organisasi ini? Padahal sangat banyak bukti dan contoh dari negara lain atas sikap berkhianat dari organisasi ini dan mereka juga sudah terang-terangan memproklamirkan diri untuk mendirikan khilafah di Indonesia.

Baca Juga: Jangan Kejam

Mereka bahkan sudah berupaya untuk mengajak militer untuk ikut agenda mereka. Kok ya para petinggi negara tenang-tenang saja. Terus terang saya sangat gregetan. Sampeyan itu sebetulnya memang tolol atau sekedar tidak punya nyali? 

Yang juga mengherankan saya adalah banyaknya akademisi muslim cemerlang yang justru ikut terperosok pada agenda organisasi politik transnasional yang bahkan di negara asalnya saja ditendang tapi di Indonesia malah dipuja-pujanya. What’s wrong with you, guys? Gelarmu PhD dari luar negeri tapi kok masih pekok juga kamu pada hal seperti ini? Sakjane ngajimu itu di mana sih?

Ada yang bertanya pada saya bagaimana pendapat saya pada beberapa ulama dan tokoh nasional yang membela HTI. Jawab saya bisa dilihat pada banyak artikel yang saya tulis tentang HTI ini. Siapa pun yang membela HTI maka pada dasarnya mereka adalah pengkhianat bangsa. Organisasi ini sudah begitu mengancam bangsa ini sehingga Indonesia yang semula aman, tentram, dan damai akhirnya menjadi kacau dengan datangnya organisasi politik ini.

Semua umat Islam diprovokasi untuk menentang pemerintahnya dan diajak untuk mengkhianati bangsa dan negaranya. Banyak kyai dan pesantren yang berteriak mengingatkan pemerintah bahwa semestinya organisasi ini dilarang sejak awal.

Jadi coba pikir bagaimana mungkin masih ada pejabat dan akademisi yang membela HTI dengan mengatasnamakan sikap kritis dan kebebasan berpendapat?

Ini bukan lagi soal sikap kritis dan kebebasan berpendapat. Ini soal apakah Anda mau membela bangsa ini atau mau menyerahkan bangsa ini pada ideologi partai politik transnasional yang sudah terbukti mengacau dan dibubarkan di berbagai negara. Tidak peduli rektor, pejabat, kiai, atau dosen sekali pun, kalau ia membiarkan, apalagi mendorong, mahasiswa Indonesia untuk berikrar utk menegakkan atau bersumpah setia pada sistem khilafah ala HTI maka ia adalah pemimpin sesat yang ingin mengkhianati perjuangan bangsanya sendiri.

Orang-orang seperti ini kalau di Turki oleh Erdogan telah disikat habis. Jangan tanya kalau di Arab Saudi. Baru mangap sedikit sudah dipopor senjata congornya. 

Bagaimana mungkin mahasiswa penerus generasi bangsa dibiarkan untuk menukar kesetiaannya pada bangsanya kepada sistem khilafah ala HTI?

Semua pemimpin yang waras akan berupaya sekuat tenaga agar generasi penerusnya setia kepada bangsa dan negaranya, bukannya membiarkan mereka tertipu dan berikrar pada sistem kekhalifahan ala HTI. Seorang pemimpin umat mau pun bangsa tidak akan mungkin membiarkan umat Islam dan generasi bangsa digerus kesetiaannya pada bangsanya dan menjadi pengkhianat. Setia pada bangsa dan negara adalah kewajiban bagi umat dan warga.

Baca Juga: Jangan Undang Radikalis Kelola Negara

Bayangkan…! Ketika berbagai bangsa dan negara lain telah dengan secara tegas membubarkan organisasi Hizbut Tahrir di negara mereka, baik itu negara Islam atau pun bukan, dan bahkan dengan tegas menangkapi anggotanya tanpa perlu bikin Perppu segala, sebagian dari kita malah ada yang membelanya.

Di negara-negara lain HT dibubarkan dan dilarang dan anggotanya ditangkapi dan dijebloskan ke penjara dengan alasan keamanan dan tidak ada gejolak tapi di negara kita pemerintah justru dituding menjadi diktator padahal belum ada satu pun anggota HTI yang ditangkap. What’s going on with you, guys

Sekarang kita melihat Enzo yang begitu gagah, ganteng, imut, pintar, dan sangat ingin membela bangsanya melalui dinas militer tiba-tiba terkena dampaknya karena pengaruh para pengkhianat bangsa. Padahal ia mungkin tidak seberapa paham dan sekedar ikut-ikutan provokasi orang di sekitarnya yang pekok itu. 

Saya sungguh kasihan dan nelongso melihat Enzo ini. Semestinya kalian yang pekok-pekok itu yang terkena resikonya dan bukan Enzo. Kalian telah merusak moral bangsa ini saking pekoknya kalian. 


KA Mutiara Selatan Surabaya-Bandung, 9 Agustus 2019

Satria Dharma

***