Yusril, Kanselir Jerman, dan Nissan Antipeluru

Di luar isu seputar persidangan MK, saya tertarik dengan deretan mobil yang terparkir di garasi dan halaman depan rumah sang pengacara di kawasan Fatmawati.

Selasa, 25 Juni 2019 | 21:10 WIB
1
997
Yusril, Kanselir Jerman, dan Nissan Antipeluru
Yusril dan mobil koleksinya (Foto: Dokomentasi Pribadi)

Di awal reformasi saya punya pengalaman tak genah dengan Prof Yusril Ihza Mahendra. Kala itu Tabloid Penta tempat saya mengais nafkah memberi tugas untuk mewawancarainya terkait kesiapan Partai Bulan Bintang (PBB) menghadapi Pemilu 1999. Kebetulan Yusril sebagai ketua umum PBB menggelar jumpa pers di Padepokan Pencak Silat, TMII. Usai jumpa pers, saya mengajukan pertanyaan tambahan di luar arena jumpa pers.

Sebelum menjawab, dia yang didampingi politisi PBB MS Ka’ban menanyakan nama media tempat saya bekerja. “Oh tabloid… sudahlah Anda kutip penjelasan di jumpa pers tadi saja,” ujarnya singkat. Lalu dia ngeloyor bersama Ka’ban. Jujur ada rasa sakit hati menerima perlakuan tersebut.

Untuk diketahui, di awal reformasi sempat terjadi booming tabloid. Banyak orang berduit membuat tabloid. Begitu juga partai-partai politik. Ada puluhan tabloid yang beredar di pasaran waktu itu. Ketika kondisi internal Harian Berita Buana sudah tak memberikan rasa nyaman, saya mengikuti sejumlah senior untuk hijrah ke tabloid Penta. Karena tak mendapat sambutan di pasar, tabloid kami terkapar belum genap usia satu tahun. Lalu era dot.com bermunculan.

Baca Juga: Mutasi Gen Politik Yusril Ihza Mahendra

Kembali ke sosok Yusril. Sebagai pakar hukum tata negara dia memang cerdas. Tapi sikapnya kadang ketus, sinis. Dia tak segan mendamprat wartawan bila dianggap pertanyaan yang diajukan salah alamat atau terlalu remeh. Jangan pula coba memotong penjelasan yang sedang disampaikannya. “Anda ini wartawan atau jaksa, kok bertanyanya begitu? Dengar dulu penjelasan saya,” begitu suatu kali dia mendamprat wartawan TVRI di sela Sidang Umum MPR 1999.

Najwa Shihab saat masih menjadi reporter di Metro TV pun pernah kena semprot. Dia waktu itu mewawancarai Yusril yang sudah menjadi menteri via telepon. Karena beberapa kali memotong penjelasannya, Yusril terdengar gusar. “Anda menghubungi saya untuk meminta penjelasan, publik perlu mendengar penjelasan saya tapi kok malah dipotong-potong,” begitu kurang lebih Yusril menggerutu.

Ketika pada awal November 2018 Pemimpin Redaksi Detik.com Iin Yumiyanti mengusulkan program Blak-blakan untuk mewawancarai Yusril, saya tak merespons. Males! Masih ada tersisa perasaan sakit hati terhadap mantan Menteri Sekretaris Negara itu. Antusiasme justru datang dari Produser, Erwin Dariyanto. Dia langsung meminta waktu wawancara kepada sang Profesor dan diterima.

Saat menyambut kami di kantornya di kawasan Kasablanka, Yusril tampak lelah. Wajahnya kusut. Penampilannya pun tak serapi jali biasanya. Meski begitu, dia tak menunjukkan ekspresi sinis, apalagi bengis. Jujur, kepercayaan diri saya langsung melonjak. Merasa siap sepenuhnya untuk mewawancarainya.

Saya tekan dalam-dalam bahwa pengacara kawakan ini sikapnya pernah membuat saya sakit hati. Apalagi dia kemudian berujar, “Kalian siapkan saja peralatannya di ruang kerja, saya salat Ashar dulu.”

Wawancara yang berlangsung selama hampir 45 menit itu berlangsung hidup. Dia menjawab pertanyaan dengan lepas, dan sesekali tawa Yusril meledak. Secara garis besar dia menjelaskan perubahan sikap politiknya dari 2014 yang mendukung Prabowo dan ke Jokowi di Pilpres kali ini. Tercatat satu juga kali video wawancara ini ditonton via Youtube dalam tempo sepekan lebih. Tujuh bulan kemudian, angkanya sudah mencapai 2,3 juta. Alhamdulillah…

Menjelang putusan Mahkamah Konstitusi terkait perselisihan Pilpres antara Prabowo–Sandiaga dengan Jokowi–KH Maruf Amin, kami kembali ditugaskan untuk mewawancarai Yusril. Sebelumnya, Blak-blakan detik.com mewawancarai Prof Denny Indrayana sebagai wakil kuasa hukum Prabowo. Jadi ini semacam pengimbang atau menjaga keberimbangan. Maklum, sebagai media online terbesar di tanah air, gaya pemberitaan kami kerap mudah disalahartikan masing-masing pihak.

Sebelum mulai wawancara, Denny yang pernah menjadi kolomnis di detik.com mendapat kesan detik.com berpihak ke 01, Jokowi–Ma’ruf? “Dari pemberitaan selama persidangan sih saya menangkap kesan begitu,” ujarnya sambil tersenyum.

yusri

Baca Juga: Yusril Ihza Mahendra dan Masa Depan Partai Bulan Bintang

Kami tentu menyergah. Dalam wawancara saya sempat menyampaikan bahwa menjadi wajar bila banyak wartawan dan media bersimpati kepada Jokowi. Bukan karena kami takut, ditekan, atau dibeli. Tapi sikap Jokowi sejauh ini sangat humble dan welcome terhadap para wartawan. Bandingkan dengan Prabowo.

Yusril menyambut kami tidak dengan pertanyaan ‘insinuatif’ apakah mendukung Jokowi atau Prabowo. Dia tak mempedulikan itu. Selain menyuguhkan teh panas dan panganan sisa lebaran dalam toples.
Saya mewanti-wanti Produser agar memperhatikan durasi wawancara sama dengan Denny, sekitar 45 menit.

Di luar isu seputar persidangan MK, saya tertarik dengan deretan mobil yang terparkir di garasi dan halaman depan rumah sang pengacara di kawasan Fatmawati. Ada Mercedes S-450 dengan inisial namanya, YIM, Velfire warna putih, Toyota Hi-Ace, sedan sport mungil warna putih, dan lainnya.

Tapi yang lebih menggoda adalah sedan hitam bernomor B 18 NY. Hampir seluruh bodinya masih tertutup sarung. Bukan karena masih baru, tapi justru karena tergolong jadul. “Itu bekas KTT APEC di Bogor, November 1994. Hibah dari pembeli pertama yang kalau dijual mungkin harganya sekitar Rp100 juta. Tapi biaya servis dan upgrade lainnya saya habis sekitar Rp200 juta,” kata Yusril diiringi tawa kecil.

Biaya sebesar itu dikeluarkan antara lain untuk membeli velg baru seharga Rp30 juta, sebab velg aslinya sudah karatan. Juga beberapa onderdil lain yang harus dibeli langsung dari Jepang. Bodi mobil berkapasitas mesin 4.500 cc itu disebut Yusril antipeluru. Hurup pada kata ‘President’ di bagian bodi belakang dan tonjolan di bagian kap depan berwarna kuning karena bersepuh emas. “Saya dapat info saat KTT mobil ini digunakan Kanselir Jerman Helmut Kohl,” ujarnya.

Meski mengaku tak terlalu suka dengan interior berwarna merah marun, tapi dia sengaja tak mengubahnya. Mobil sesekali saja dia pakai pelesiran seputar Jakarta bersama istri, Rika Tolentino Kato dan kedua anaknya.

Sambil menunggu rombongan wartawan dari sebuah stasiun televisi yang mendapat giliran berikutnya untuk wawancara, Yusril tak keberatan untuk mengemudikan mobil tersebut. Saat dihidupkan suara mesinnya terdengar gaduh seperti diesel.

“Iya awalnya memang berisik tapi kalau sudah panas suara mesinnya halus kok,” ujar staf di kediaman Yusril.

***