Mutasi Gen Politik Yusril Ihza Mahendra

Selasa, 6 November 2018 | 18:53 WIB
0
476
Mutasi Gen Politik Yusril Ihza Mahendra
Yusril Ihza Mahendra (Foto: kabar.news)

Dalam dunia binatang ada yang dinamakan "mutasi gen atau mutasi genetik" yang terkadang bisa memunculkan hewan jenis baru dari segi warna dan perilaku. Biasanya dinamakan "albino". Hal itu bisa terjadi kalau mutasi gen secara besar-besaran.

Mutasi gen juga bisa menyebabkan perubahan perilaku. Penyebabnya tidak tunggal. Ada yang karena faktor lingkungan, juga ada karena faktor radiasi.

Nah, dalam jagad politik tanah air akhir-akhir ini dan ini biasanya terjadi dalam lima tahunan dalam ajang perebutan kekuasaan untuk menduduki singgasana di jalan Medan Merdeka Utara Jakarta, banyak tokoh politik yang mengalami "mutasi gen politik".

Ada yang dulu menjadi bagian pemerintah sekarang atau menjadi menteri, karena terkena pergantian atau reshuffle akhirnya mereka menyeberang ke kubu oposisi. Dan mereka mulai mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah, padahal dulu mereka pembantu presiden. Ini termasuk politikus yang mengalami "mutasi gen politik".

Atau dulu oposisi dengan pemerintah, tiba-tiba berubah mendukung pemerintah, yang dulunya mengkritik sekarang berubah sanjung dan puji kepada pemerintah. Bahkan dalam dukung mendukung, perubahan perilaku mutasi gen politik ini juga membawa gerbong atau massa atau pemilih. Dari yang dulunya tidak mendukung atau memilih menjadi mendukung dan memilih.

Seperti yang baru-baru ini ada seorang ketum Partai yang juga seorang pengacara handal tanpa tanding dalam hal tata negara, yaitu Yusril Ihza Mahendra menjadi Lawyer dari pasangan calon presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Dan yang bersangkutan juga tidak dibayar.

Yusril Ihza Mahendra adalah pengacara dan politikus. Ia sering mengkritik atau menyerang Joko Widodo sebagai presiden. Bahkan ia menyebut "goblok dan bodoh" yang ditujukan kepada presiden Jokowi, sekalipun tidak menyebut nama pada waktu mengatakan "goblok dan bodoh".

Bukan itu saja, Yusril juga pernah mengatakan presiden Jokowi  lebih pantas menjadi kepala daerah, bukan sebagai presiden. Sedangkan Yusril sendiri untuk menjadi calon kepala daerah DKI Jakarta tidak masuk dalam nominasi.

Bahkan dalam kebijakan presiden Jokowi yang sering melakukan penggantian kabinet atau menteri, juga mendapat kritikan dari Yusril dengan mengatakan bahwa seringnya pergantian kabinet atau menteri menunjukkan tidak adanya kepemimpinan yang kuat dan dianggap pemimpin yang tidak tegas, karena itu kinerja bawahan (menteri) tidak jelas arahnya.

Yusril juga mengatakan, kalau dirinya ditunjuk menjadi kabinet atau menteri dalam pemerintahan Jokowi, ia tidak mau. Karena persoalan bukan pada menteri tetapi pada diri pemimpin atau presiden.

Tapi namaya dunia politik, hari ini memaki-maki atau mengkritik dengan pedas, esok hari sudah berubah dan bisa saling berjabat tangan sebagai tanda untuk mendukung.

Sebenarnya tanda-tanda Yusril akan merapat ke Jokowi sudah nampak dari jauh-jauh hari. Yusril yang awalnya mendukung ijtima ulama karena ada unsur ulama. Mulai berubah karena namanya tidak masuk dalam nominasi sebagai cawapres. Apalagi setelah pengumuman Sandiaga Uno sebagai cawapres mendampingi Prabowo Subianto.

Bahkan Yusril mengeluarkan unek-uneknya terkait partainya PBB yang nyaris tidak lolos dalam pemilu 2019, partai-partai kubu Prabowo tidak ada yang membantu, malah ada partai sekuler yang justru menawarkan diri untuk membantu menjadi saksi di KPU dan Bawaslu. Dan partai yang dimaksud Yusril yaitu PDIP.

Sekarang Yusril Ihza Mahendra sudah menjadi Lawyer kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam pilpres 2019. Artinya Yusril akan lebih sering bertemu tim sukses Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan tidak menutup kemungkinan akan sering bertemu dengan presiden Joko Widodo.

Apakah dengan menjadi Lawyer Joko Widodo-Ma'ruf Amin,Yusril ingin merasakan kue kekuasaan kelak kalau Joko Widodo terpilih kembali? Segala sesuatunya mungkin dalam politik kekuasaan.

Memahami politik tanah air memang tidak mudah, karena banyak tokoh politik yang mengalami mutasi gen politik.Kalau di AS tidak ada tokoh partai pindah partai atau dukungan atau mutasi gen politik hanya karena persoalan "kecewa".

Dalam dunia politik kadang seperti LBGT, hari ini kawin dengan yang sejenis, esok hari kawin dengan tidak sejenis. Dan sering berganti-ganti pasangan, tergantung situasi dan kondisi.

***