Cucilah Garuda Pancasila Merah Darah Itu!

Jika nilai kompromi Jokowi akan semakin rendah, karena periode ke-dua tak akan ada beban politik, maka harus lebih pasti dan berani lagi. Tegakkan hukum, tanpa kompromi.

Sabtu, 1 Juni 2019 | 13:26 WIB
0
293
Cucilah Garuda Pancasila Merah Darah Itu!
Ilustrasi Garuda Merah (Foto: Facebook/Sunardian Wirodono)

Dalam pergumulan pemikiran Sukarno, yang menginti pada Pancasila, sebagaimana pidato panjang-lebarnya dan mempesona pada 1 Juni 1945, ia hanya inginkan negara yang warganya bersatu-padu. Gotong-royong saling membantu. Menjadi bangsa dan negara berdaulat.

Tercapaikah puncak pemikiran Sukarno itu? Justeru dalam “usia” 74 tahun Pancasila, hari ini, kayaknya sekarang titik nadirnya. Titik nadir ketika kita sebenarnya ingin mengimplementasikan “Indonesia untuk semua, semua untuk Indonesia” dengan berdemokrasi. Demokrasi, sebagaimana tersurat dan tersirat dalam sila ke-4, dimaksudkan oleh Sukarno bukan demokrasi barat. Tetapi demokrasi dengan azas musyawarah dan gotong-royong.

Tapi apa yang terjadi, jika sekelas capres saja pun, cuma meniru cara berpakaian Sukarno? Bersafari militer. Berpeci. Kalau cuma model gitu doang, Ahmad Dhani juga bisa. Hanya mampu melihat penampilan fisik. Persis seperti RG terpesona Prabowo, sebagai wakil dunia kelas menengah terdidik.

Baca Juga: Semburkan Narasi Hoaks, Elektabilitas Gerindra Melorot

Golongan ningrat Indonesia, belum bisa menerima perobahan trend kepemimpinan berbasis kinerja atau track-record prestasi dan reputasi. Tapi dalam hitungan Pilpres, Jokowi dipilih 55,50% suara, sedang Prabowo, lagi-lagi kalah, dengan 44,50% suara.

Dari Pilpres 2014, kemudian Pilpres 2019, pesan sebagian besar rakyat sungguh sangat jelas. Secara historis, itu juga harus dilihat bagaimana Pilpres 2004 dan 2009 mengecewakan sebagian besar rakyat, karena kepemimpinan dari kalangan militer, tak ada ngaruhnya.

Di situ Prabowo kena tulahnya, dan mulai itu kepemimpinan sipil, Jokowi yang androginis, menjungkir-balikkan. Sebagaimana kata Sukarno, segala weltanschauung (pandangan dunia) tak ada artinya, tak bisa jadi realitet tanpa kerja keras. Sementara kaum oligarkis hanya ngomdo.

Jika kita main interpretasi, coba lihat ada kelompok yang melumuri Garuda Pancasila, lambang negara dengan warna total merah. Garuda Pancasila seperti siluet. Tak ada nilai-nilai atau sila di dalamnya, sebagaimana digambarkan pada tameng Garuda.

Ketutup kemarahan, atau mau bikin banjir darah? Dalam soal membaca dan mengartikulasikan symbol saja, ada kelompok bermasalah. Maka wajar jika terjadi tunggang-menunggang, dengan kelompok-kelompok lain yang sama bermasalahnya.

Jokowi ketemu atau tidak dengan Prabowo, tidak ngaruh. Nggak ketemu juga lebih baik. Kita, sebangsa dan setanahair ini seperti memanjakan satu anak abnormal, yang lagi tantrum dengan cara orang sakauw. Jadi tak jelas siapa yang sakit.

Jika nilai kompromi Jokowi akan semakin rendah, karena periode ke-dua tak akan ada beban politik, maka harus lebih pasti dan berani lagi. Tegakkan hukum, tanpa kompromi, pesan Iwan Fals dalam lagunya.

Siapa yang melanggar hukum, diproses. Jika menurut aturan hukum menyalahi pasal ini dan itu, jatuhkan vonis sesuai aturan. Garuda Pancasila, jika ingin dimengerti, cucilah lapisan merah yang ‘nutupin’ seluruh sendi dan nilai- nilainya itu.

***