Kompetisi "Kuantitatif" versus "Kualitatif" dalam Debat Capres

Selasa, 26 Februari 2019 | 04:42 WIB
0
100
Kompetisi  "Kuantitatif" versus "Kualitatif" dalam Debat Capres
Jokowi dan Prabowo (Foto: Tempo.co)

 

 

Debat kedua calon Presiden telah berlalu hampir dua minggu lalu. Namun menyimak ulang tayangan debat melalui rekaman yang banyak beredar di channel youtube tetap bisa dilakukan kapan saja , dimana saja dan oleh siapa saja. 17 Februari 2019 lalu sejatinya saya berada di kawasan parkir senayan.Tak lain untuk mengikuti jalannya debat dalam kegiatan nonton bareng yang digelar tak jauh dari lokasi hotel tempat dilangsungkannya debat Kandidat Presiden. 

Namun suara ledakan petasan oleh sekelompok orang iseng tidak bertangung jawab benar-benar membuat saya tidak fokus dalam menyimak paparan debat. Bunyi ledakan  petasan di kawasan parkir timur senayan itu hanya berjarak kurang lebih 500 meter dari tempat saya berada. Beruntung tidak memakan korban jiwa. Meski demikian saya tetap butuh sekian waktu untuk bisa melupakan ketegangan dan kecemasan yang saya rasakan saat malam Debat berlangsung.

Hingga menyimak ulang tayangan debat kandidat Presiden pun saya lakukan untuk memperoleh sebuah catatan tersendiri. Namanya juga debat, pasti keduanya akan diarahkan untuk saling adu argumen. Sejatinya debat kandidat Presiden bukanlah ajang perlombaan yang mencari siapa juara dan diumumkan di akhir selesainya debat.

Rivalitas politiklah yang menjadikan debat kandidat seolah menunjukkan menang-kalah saat itu juga. Padahal debat kandidat diharapkan menjadi salah satu bentuk sosialisasi visi misi, cara berfikir, dan sejauh mana calon presiden menguasai aspek permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara.

Perbedaan yang cukup siginifikan saya rasakan saat menyimak secara langsung ditayangkannya debat kandidat dengan saat menyimak ulang melalui channel digital. Luapan emosi dan ekpresi jelas mendominasi saat menonton siaran langsung. Subjektifitas begitu tinggi sehingga terkadang sorak sorai dan gemuruh tepukan lebih diprioritaskan dibandingkan untuk mencerna apa yang disampaikan.

Beruntungnya para pegiat medsos sedemikian tangap untuk menyalin ulang apa yang disampaikan masing-kandidat melalui kreatifitas digital. Rangkuman debat berupa potongan ekspresi wajah, Meme lucu dan kolase data yang menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing kandidat cepat beredar di media sosial maupun WA Grup. 

Berbeda halnya saat saya menonton ulang tayangan debat melalui jejak digital saya rasakan benar. Objektifitas saya kedepankan. Apa yang disampailkan oleh tiap kandidat membuat saya mampu berfikir sedikit "out of the box".

Bukan bermaksud berada di ranah abu-abu atau  sok netral. Nyatanya saya memiliki asumsi diluar pengakuan dukungan. Atau karena debat kedua tersebut menghadirkan sederet kalangan akademik, pengamat dan ahli-ahli terkait tema Insfrastruktur, energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup?.

Ada sisi lain yang turut menjadi pengamatan saya. Yakni adanya rangkaian segmentasi dalam debat kedua. Segmentasi disini bukan menyoal siapa segmen pendengar, atau segmen pemilih. Melainkan semacam sessi yang terdiri dari 6 bagian.

Diawali dengan sessi penyampaian visi Misi,  dilanjutkan dengan pendalaman visi misi dalam bentuk menjawab pertanyaan yang dibacakan oleh moderator, kemudian sessi debat eksploratif, debat inspiratif dan diakhiri dengan closing statement.

Kompetisi Kuantitatif Vs Kualitatif

Sedari awal pemaparan visi misi, berbedaan yang mencolok dari kedua kandidat adalah terkait penyampaian data. Jokowi selaku petahana lebih menguasai ranah data kuantitatif. Sementara Prabowo yang terbiasa melakukan orasi politik, pidato kebangsaan cenderung bertahan argumen kualitatif. Bukan bermaksud melakukan dikotomi sudut pandang ala penelitian.

Biar bagaimanapun selama ini Kuantitatif Vs Kualitatif adalah dua ranah  yang berbeda. Kecuali keduanya menempuh jalan tengah yakni menggabungkan antara data kuantitatif dan kualitatif yang memunculkan pola campuran.

Jokowi selain menggunakan back up kuantitatif juga cenderung menggabungkan beberapa argumen kualitatif. Upaya Jokowi ini bisa dinilai sebagai sebuah langgam yang luwes. Metode campuran membuat kesan berkurangnya lawan debat t "Njomplang" dalam kapasitas berargumen.

Memang tidak ada pakem kuantitatif Vs Kualitatif dalam debat. Semua bebas menentukan gaya, dan argumen yang menguatkan untuk bertahan bahkan menyerang. Kemandirian, berdiri di atas kaki sendiri dan swasembada pangan, energi dan air agar survise sebagai suatu bangsa disampaikan oleh Prabowo.

Tak segan-segang PBB disebut sebagai  faktor penguat argumen. Dengan berapi-api Prabowo menyebut Badan bertaraf internasional itu menjadikan 3 masalah utama itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan suatu negara. Dan seterusnya .Apa iya?

Sementara Jokowi dengan gaya kalemnya memilih memaparkan capaian kinerja pemerintahannya secara kuantitatif. Dibidang insfrastruktur Jokowi menyebut   sebanyak 187 Triliyun dana desa diantaranya untuk membangun  191.ooo km jalan desa dan  58 ribu unit irigasi yang bermanfaat bagi petani. Bidang pangan , Jokowi mengucapkan terima kasih kepada petani jagung dengan menyebut tahun 2014 import jagung 3,5 juta ton.

Tahun 2018, import hanya. 180 ribu ton jagung. Ada lonjakan produksi jagung dalam negeri sebanyak 3,3 juta ton. Dengan data yang disampaikan, jelas menutup celah bagi lawan untuk menyerang argumen kuantitatif. Namun menghafal sekian banyak data beserta menguasai celah permasalahanya bukanlah perkara yang mudah. Inikah keunggulan Jokowi?

Menginjak sessi pendalaman Visi misi, tim panelis yang menghadirkan para akademisi dan ahli terkait tema mengajukan pertanyaan tertulis yang dipilih secara acak oleh kandidat. Dasyatnya lagi, pertanyaan tim panelis diajukan tanpa ada kisi-kisi yang diberikan kepada para kandidat.

Dalam menjawab pertanyaan panelis, Jokowi menyisipkan argumen kualitatif saat menjawab pertanyaan lawan. Hal ini terkait dengan peralihan  budaya masyarakat dalam menggunakan trasnportasi umum hingga istilah ganti untung dalam biaya pembebasan lahan untuk pembangunan insfrastruktur. Tak ayal, argumen serangan dari Prabowo terkait visibiltas studipun dapat dipatahkan oleh Jokowi.

Data ekstrim pun disampaikan oleh Jokowi saat tema reforma agraria  dan sumber daya alam terkait pertanian, perkebunan. Tidak disangka Jokowi mengetahui luas lahan Prabowo seluas 220 ribu Hektar, 120 Ribu hektar di Aceh Tengah. Sontak semua tercengang.

Sementara Prabowo menanggapi dengan ekpresi senyum simpul. Dalam sessi selanjutnya Prabowo mengeluarkan argumen yang secara kualitatif mengesankan bahwa dia memiliki kepedulian terhadap masa kepemilihan lahan oleh negara.

Gaya kuantitatif Jokowi membuat penampilan Jokowi diatas panggung terkesen efektif dan efisien langsung ke sumber masalah. Sementara Prabowo sedikit "keteteran" dan sempat kehabisan argumen dengan berkata cukup dan mengaku sama dalam memberantas pencemaran lingkungan. Prabowo merasa jika tidak ada terlalu banyak perbedaan maka tidak perlu diadu-adu lagi. Dengan gaya khas, Jokowi pun mengiyakan apa yang Prabowo sampaikan.

Sederet data dan fakta pun Jokowi sampaian dalam tiap sesi. Sayangnya sungguh sayang, ketika Jokowi mencoba masuk ke logika kualitatif ala prabowo dengan pertanyaan terkait unicorn Indonesia, Prabowo semakin membuat prihatin para pendukungnya. Prabowo tidak yakin akan definisi unicorn itu sendiri.

Kualitas masing-masing kandidat pun terlihat semakin nyata. Hingga pernyataan penutup terjadi, Jokowi menegaskan bahwa dirinya telah memiliki pengalaman dalam tata kelola sebuah kota, sebuah propinsi hingga negara.

Untuk kepentingan nasional, rakyat , bangsa dan negara Jokowi tidak takut selain kepada Tuhan YME. Dan itu semua untuk Indonesia Maju. Optimisme yang kuat terlihat dalam argumen yang disampaikan.

Bagaimana dengan lawannya? saat closing statement disampaikan Prabowo dengan hati-hati. Prabowo datar menyebut cita-cita dan semangaat UUD pasal 33. Dengan tambahan terkait tanah yang dia miliki.

Bahwa setiap saat negara bisa mengambilnya kembali dan Prabowo Rela mengembalikannya. Prabowo pun menyebut dirinya Nasionalis dan Patriot. Konon benarkah demikian?

Meski dalam debat kedua saya mengedepankan objektifitas, namun terkait pilihan sudah pasti jelas..

Jokowi Wae ya Mbak, Massssss! 

***