Jokowi Makin "Lamis", Lalu "Cash" Alam Menghukumnya

Setelah ide perpanjangan jabatan dan pen-tiga periode-an nya gagal, wajar Jokowi berkepentingan untuk menjadi "King Maker" untuk memilih siapa pun yang paling pantas menggantikannya.

Kamis, 9 Juni 2022 | 09:40 WIB
0
103
Jokowi Makin "Lamis", Lalu "Cash" Alam Menghukumnya
Presiden Joko Widodo dan Ganjar Pranowo (Foto: rmol.id)

Dalam kultur Jawa, yang sangat rumit dalam idiom. Ada istilah pasemon di mana satu kata bisa dinyatakan dengan banyak kalimat lain. Penerapkan dalam kehidupan keseharian yang bisa pada konteks apa saja: urusan politik, hubungan bisnis, pergaulan sosial, cara beragama, apa saja. Satu patah kata yang sama,walau memiliki makna sama. Bisa diucapkan dalam banyak pilihan kalimat berbeda. Perbedaannya tentu saja pada tone, intonasi dan kedalaman maksud dan tujuan yang berbeda. 

Misalnya saja kita mau bilang seseorang ini buruk atau jelek atau berbohong atau apa pun yang konteksnya negatif. Di satu sisi ia bisa dibilang "wis tau apik", di sisi lain dianggap "wis dadi elek". 

Wis tau apik, maknanya ia pernah baik, sebaliknya wis dadi elek, artinya lalu jadi jelek. Perbedaannya, pada konteks "wis tau apik" di dalamnya "tone"-nya masih tersisa rasa hormat. Bahwa dulunya ia tidak begitu loh. Tapi pada "wis dadi elek" itu cerminan pada hilangnya rasa simpati sama sekali, tak tersisa lagi respek apalagi rasa hormat. Dalam konteks ini, mungkin orang Jawa sedang menghibur diri bahwa "aja gumunan". Jangan mudah terpukau, jangan mudah terkagum-kagum!

Dalam kosmologi Jawa, sebenarnya ini adalah perputaran roda hidup saja bahwa ia pernah baik, ia pernah sangat mengagumkan, pernah sangat dicintai. Tapi ketika roda berputar, ia berbalik sangat menyebalkan, bikin sakit hati, hingga kita sedemikian membencinya. Sialnya, saya harus bilang 90% politisi di Indonesia pernah atau akan terus akan menjalani siklus tersebut. Apa yang dalam budaya Jawa disebut sebagai "cakra manggilingan". 

Saya pikir, tak ada satu pun politisi di era kontemporer ini mampu melewati siklus tersebut. Kalau tampak tidak, artinya bukan tidak. Tapi belum saja...

Dalam konteks Jokowi, sebetapa pun ia berusaha konsisten bekerja, tetap tutup telinga kepada para haters-nya, dan pada titik-titik tertentu (cilakanya) juga tak mau merespon secara cepat dan tepat para pengkritiknya. Yang sesungguhnya para kritikusnya tersebut adalah rata-rata justru adalah para pendukungnya yang tanpa pamrih! Mereka-mereka yang tak pernah hibuk dan sibuk untuk urusan balas budi jabatan atau proyek atau konsesi atau apa pun. Mereka-reka yang justru sekali pun tak pernah dia sapa, dan juga barangkali karena memang tidak butuh...

Di dunia Kejawen non-klenik yang saya ikuti. Ada sebuah kepercayaan bahwa kekuatan utama Jokowi berasal dari doa-doa yang dipanjatkan, diumbulkan, atau dilantunkan dengan diam. Mereka yang tersembunyi di banyak tempat, tanpa pernah terekspos dan banyak koar-koar. Mereka yang sangat tulus, tanpa banyak berharap, karena memang mereka tak tercatat. Mereka-reka yang siang malam berdoa untuk kelanggengan jabatannya, kesuksesan program2nya, dan tercapainya banyak maksud baiknya. 

Rata-rata dari mereka kini sudah sangat kecewa. Saya tak ingin cerita kenapa? Nanti terlalu subyektif, dan ujung2nya malah SARA. 

Perlu juga saya sampaikan bahwa memang harus dibedakan antara mereka yang klenik dan yang bukan. Karena secara umum, pada yang klenik itulah yang terkadang terlalu menonjol. Klenik yang bukan melulu mistis. Karena makna dasar klenik sendiri artinya adalah ngarep, berharap, pamrih. Klenik itu (sama sekali) bukan berarti mereka-mereka yang berbekal asap dupa, kembang setaman, dan kemenyan. Tapi terutama yang membawa interest agama, kuasa politis, yang ujung-ujungnya sama saja pamrih ekonomi yang memang sudah sedemikian kebangetan melecehkan akal sehat itu!

Pada mereka-mereka ini, Jokowi "keterlaluan" memberi perhatian. Tidak selalu secara materi, sebagaimana dulu masa SBY yang memang benar-benar "gila pencitraan" itu. Tetapi apa yang dalam budaya Jawa sebagai "lamis". 

Apa itu "lamis"? Maknanya janji manis melalui mulut manis. Sekedar membuat orang merasa senang dan tentram. Apa yang bahasa Jawa disebut ayem. Yang kemudian lamis tujuan akhirnya ngayem-ayemi. Lamis adalah harga termurah sebagai sebuah bayaran bagi rakyat kebanyakan yang memandang pemimpinnya sebagai tokoh pujaan, panutan, atau idola. Dan hal itu tidak selalu dalam konteks politik tapi terutama yang paling menyedihkan adalah agama! 

Saya beri satu contoh saja yang paling bikin hati mendendam! 

Dalam bidang otomotif yang paling mencolok mata! Dulu awal mula, Jokowi menjadi sangat populer adalah kepeduliannya terhadap mobil Esemka. Proyek yang dianggap sebagai cikal bakal paling konkret terhadap gagasan mobil nasional yang paling membumi dan merakyat. Idenya berasal dari sekolah daerah, guru sekolah kreatif, dan yang mengerjakan siswa-siswa sekolah tersebut. Tampak "sangat ideal, luhur, dan nasionalis". 

Hingga ia dianggap sangat pro-rakyat, proletar! 

Tapi sepuluh tahun kemudian, mobnas tersebut masih berhenti sebagai prototype, tak pernah ada acara launching secara nasional. Walau konon pabriknya di Boyolali Jawa Tengah sudah berdiri megah, infrastruktur industrinya sudah siap, dan konon pemasarannya juga sudah sangat representatif.

Kenapa mandek? Tiba-tiba Pak Presiden kita itu mimpinya berubah pada mobil Tesla. Bertahun-tahun ia merayu brand tersebut, yang saya yakin sampai kapan pun tak akan pernah menjadi "mobil rakyat" itu. Untuk membangun industri pabriknya di Kabupaten Batang, (lagi-lagi) Jawa Tengah!

Belakangan setelah, kurang cukup ampuh mengirimkan Luhut B. Panjaitan sebagai "tangan kanan"-nya yang paling dipercaya ia "merlokne", meluangkan waktu sendiri untuk menjumpai Elon Musk di tengah-tengah acara lain di saat masa depan Konferensi G20 Bali yang sangat suram itu. Dan cilakanya, publik membacanya itu (hanya) dalam rangka pengembangan mobil listrik nasional. Dan bagi haters-nya ia dianggap sudah sedemikian melet-melet!   

Mengapa harus Tesla yang mahal dan tak mungkin terjangkau harganya oleh rakyat. Apalagi India yang terlebih dulu mencoba menjangkaunya pun gagal, karena tampaknya Elon Musk terlanjur terikat dan terpesona pada apa yang ditawarkan Pemerintah China. Lagian, apa yang bisa bikin mobil listrik hanya Tesla.

Nyaris semua produsen otomotif dunia juga telah melakukannya. Bahkan Hyundai yang produsen otomotif Korea saja, sudah rela menjadikan salah satu brand mereka sebagai karya anak bangsa Indonesia. Lah apa perlunya Tesla? 

Alahmak. Demikian cara kerja media mainstream untuk menyesatkan cara pandang publik! 

Tak ada satu pun, media yang membacanya dengan cukup kritis. Kenapa Jokowi sekali lagi "merlokne" menemui Elon Musk dalam konteks pembelian "Twitter" oleh orang superkaya di dunia itu. Seorang yang dengan mudah memanipulasi dirinya sebagai figur pekerja keras, bergaya hidup sederhana dan tak pernah butuh previlege itu. Bagaimana ia menjadi pemilik mayoritas atau barangkali satu-satunya media sosial yang sialnya sebenarnya tak populer-populer amat itu! 

Twitter sendiri penggunanya di dunia maupun global, tidaklah sementereng Facebook (plus Whatapp-nya), sedikit lebih baik dari Instagram. Tapi juga ia mulai tergeser oleh TikTok. Tapi Twitter adalah satu-satunya platform yang paling banal (baca: seronok), ia bisa digunakan sebagai medsos politik maupun bisnis yang paling ampuh. Sependek yang saya tahu, bila di Facebook dan Instagram sudah ada kebijakan untuk membendung apa-apa yang berbau porno-aksi, atau hate-speech, atau berita-hoax. Di Twitter satu-satunya yang masih bebas merebak.

Ia dibeli Elon Musk dengan harga sangat mahal, justru karena fungsi uniknya sebagai media orang ceriwis yang suka menulis singkat. Karenanya ia bisa digunakan untuk menaikturunkan popularitas seseorang secara politik. Twitter bisa digunakan untuk menaikkan harga komoditi dalam trading, bahkan mempromosikan atau sebaliknya menghabisi suatu brand tertentu Cryptocurrency dalam sekejap! Dan hal tersebut sudah dibuktikannya, bagaimana ia menjadikan Bitcoin sebagai mainannya...

Saya sungguh heran, kenapa tak ada yang hirau terhadap fenomena itu. Saya pikir setelah ide perpanjangan jabatan dan pen-tiga periode-an nya gagal. Jokowi tentu saja wajar bila berkepentingan untuk menjadi "king Maker" untuk memilih siapa pun yang paling pantas menggantikannya. Ia butuh sebuah jaminan secara sosial media bahwa "putra mahkota" yang dipilihnya tidak diganggu gegap gempita sosial media yang tak terkendali. 

Sayangnya, ya sekali lagi sayangnya. Alam terlalu cepat membongkar siasat itu dan mengingatkan. Bila tidak malah menghukumnya. Bila ia bilang "aja kesusu", tapi bacaan alamnya berbeda. Sebenarnya ia sudah sangat kesusu!

Kesusu ngelus-elus calone dewe. Sedemikian takut kalah oleh siapa -pun yang tak sejalan dengan dirinya...

NB: Tulisan ini sebenarnya, hanya ingin mengingatkan ketika seseorang menggunakan idiom-idiom yang sangat Jawa. Apalagi bila itu dinyatakan dalam komunitas masyarakat Jawa. Berhati-hatilah! Apalagi, bila tujuannya adalah membuat bingung, alam yang akan menunjukkan apa maksud sebenarnya. Karena pada realitasnya, tidak semua orang bingung untuk menafsirkannya. Tidak semua orang sedemikian mudah dimanipulasi.  

Sesederhana itu!

Ketika dalam pertemuan di minggu lalu, Jokowi bilang kepada Komunitas Projo yang notabene adalah pendukung setianya. Bahwa dalam menentukan calon presiden berikutnya "aja kesusu" walau mungkin calonnya ada di sini. Tentu saja dengan gampang, publik menafsirkan calonnya adalah Ganjar Pranowo. Yang di dalam banyak survai, popularitas dan elektabilitasnya entah kenapa bisa sedemikian tinggi!

Dan sehari kemudian, alam sekali lagi "alam" menghukumnya. Di Pantai Pelabuhan Tanjung Mas yang ada di kota Semarang tiba-tiba terjadi banjir rob yang dahsyat. Mengerikan bila ukurannya di era dimana bencana alam sudah sangat bisa diprediksi. Saya hanya bisa menangis, melihat bagaimana para buruh menuntun motornya dengan ketinggian air nyaris sepinggang mencapai dada mereka. 

Lagi-lagi rakyat kecil yang tak tahu apa-apa harus yang menanggung bebannya. Bagaimana mungkin, kita memahaminya. Kalau bukan itu adalah isyarat alam mengingatkan. Bahwa pilihannya itu tak pantas. Ngurus rumah kecilnya saja tak becus! Saya hanya bisa ngungun di dalam hati: alam itu adil, sekaligus kejam...

***