Menguak Agenda Besar Oposisi dan Tabir "Otak Buaya"

Jumat, 11 Januari 2019 | 19:40 WIB
0
2393
Menguak Agenda Besar Oposisi dan Tabir "Otak Buaya"
Sumber foto: www.international.inilah.com

Pagi minggu lalu saya terbangun sebelum subuh, bukan karena mimpi, bukan pula karena maling, tapi karena suara ribut-ribut tetangga samping rumah saya. Masalah yang rumit, sang istri melabrak suaminya yang baru pulang dari kantor. Sang suami dituduh punya istri muda.

Selidik punya selidik, ternyata kabar sang suami punya istri muda adalah bohong. Sang suami pulang dini hari karena sibuk mengerjakan tender proyek kantor. Sang istri termakan hoax yang disebarkan oleh tetangga kami sendiri. Hanya berselang tiga rumah dari rumah saya.

Kami pun sibuk menjelaskan tentang fitnah hoax itu ke sang istri, tapi tidak mempan sampai detik ini, saat ini kami masih mencoba membantu sang suami. Karena kami tidak mau lingkungan kami terpapar hoax murahan.

Sampai akhirnya saya membuka sosial media yang menjelaskan soal 'croc brain'. 'Croc brain' sebetulnya adalah sebuah singkatan dari Crocodile Brain, alias otak buaya. Bukan buaya dalam arti 'suka selingkuh', tapi otak buaya dalam arti respon pada ketakutan, bahaya, ketidakamanan alias insecure.

Croc brain bereaksi pada ketakutan, sama seperti buaya. Buaya hanya mengerti bagaimana menakuti musuh dan bagaimana cara survival. Inilah titik yang paling sensitif dari otak manusia, ketakutan memiliki sifat mudah di manipulatif.

Coba saja anda sodorkan ular plastik ke orang yang memiliki fobia terhadap ular, pasti orang itu akan panik, berteriak-teriak, bahkan mungkin membantingmu dengan gelas. Itulah bukti bahwa ketakutan mudah di manipulatif.

Sama seperti istri tetangga saya, meskipun diperlihatkan bahwa si penghasut tidak punya bukti, tetap saja dia tidak bisa terima. Rupanya, istri tetangga saya adalah korban perselingkuhan dari suami pertama. Inilah yang diincar oleh si penghasut, sifat insecure bahwa dirinya akan diselingkuhi lagi, dampak dari pengalaman.

Mirip dengan pola dalam praktik politik menjelang Pilpres 2019. Pola manipulatif ketakutan inilah yang diincar, titik 'Croc Brain' inilah yang dituju.

Polanya? Cukup gemborkan ketakutan akan bangkitnya komunis, gemborkan tentang TKA Tiongkok, gemborkan tentang hutang Indonesia, defisit neraca, isu surat suara bocor 7 kontainer dan yang baru, selang RSCM yang bisa dipakai berkali-kali.

Faktanya: Ketakutan akan komunis? Tidak terbukti. Tenaga kerja Tiongkok? Justru pada era SBY lah tenaga kerja Tiongkok memiliki jumlah terbesar. Hutang Indonesia jaman Jokowi terbesar? Memaparkan data ala dr Gamal Albinsaid tanpa memasukkan utang era SBY dan perbandingan dengan GDP adalah sebuah kebohongan besar.

Defisit neraca negara? Justru di tahun 2018 mencatat rasio defisit anggaran terendah sejak 2012. Rupiah pun sedang menguat terhadap Dolar. Pemerintah anti Islam, 7 Kontainer kertas suara Pemilu, lalu selang rumah sakit? Kesemuanya adalah bohong, hoax.

So, kesemuanya berpola sama. Menyasar ketakutan. Isu TKA Tiongkok misal, ini menyasar kepada ketakutan rakyat bahwa pribumi tidak bisa dapat kerja. Apakah ada kumpulan WN Tiongkok di perkantoran Tanah Air? Kantor BUMN misal, atau kantor swasta biasa? Dipastikan tidak. Keturunan iya, namun mereka WNI.

Tenaga kerja kasar asli Tiongkok? Ya, untuk proyek dengan spesifikasi tertentu yang menggunakan manufaktur Tiongkok. Untuk proyek lain, tentu tidak ada. Bukti banyak. Kebetulan, bukan satu-dua proyek saya kerjakan di Indonesia.

Lalu fakta hoax bocornya surat suara 7 kontainer, ini menyasar ketakutan rakyat bahwa Pemilu akan berlangsung curang. Pola hoax berselimut tanya ala Andi Arief ini seperti di amini oleh SBY. Buktinya SBY tidak berkomentar apapun.

SBY setali tiga uang dengan Prabowo. SBY yang terbiasa bermain cantik memang menggunakan 'tangan ketiga' untuk beraksi, Andi Arief menjadi eksekutor. Pola ini sama dengan pola pemilu di Iran dan pemilu di Venezuela. 

Melihat alurnya, pola ini sedang dimainkan di Indonesia, wahai kawan.

Tujuannya satu: Delegitimasi KPU, jika bukan Oposisi yang menang maka Pemilu PASTI curang. Bahkan Pemilu diskenariokan akan chaos, huru-hara lantas pemilu diulang, atau yang terburuk, pengambil-alihan kekuasan dengan cara kudeta.

Jalan keluarnya?

Tidak ada. Kita tidak bisa bicara data pada seseorang yang sudah terkena racun 'croc brain'. Mereka buta akan fakta. Namun, ada dua jalan sebenarnya, jalan pertama: cuek saja, sambil tetap terus gunakan data untuk membangkitkan otak modern atau Neon Cortex mereka.

Jalan kedua, counter dengan menggunakan isu yang memberatkan lawan. Gunakan pola yang sama, tuju 'croc brain'nya dengan isu lain. Bukahkah menyerang adalah cara bertahan terbaik?

***