Irasionalitas yang Menjadi Raja di 2019

Senin, 11 Februari 2019 | 12:35 WIB
0
161
Irasionalitas yang Menjadi Raja di 2019
Ilustrasi (Foto: Pinterest)

Indonesia. 2019. Irasionalitas menjadi raja. Indonesia terbelah di antara dua kubu calon presiden. Permusuhan terasa di udara, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Keluarga dan pertemanan terpecah, karena perbedaan pilihan politik. Ini ditambah dengan mutu yang amat rendah dari salah satu calon presiden dan wakil presiden yang penuh dengan korupsi, kolusi, nepotisme, kriminalitas dan kerakusan.

Indonesia. 2019. Kesenjangan ekonomi ikut menambah irasionalitas yang terjadi. Pemukiman kumuh bersandingan dengan pemukiman kaya. Gerobak busuk bersandingan dengan mobil mewah. Saya masih heran, mengapa orang miskin, yang jumlahnya ratusan juta itu, tidak merampas kekayaan orang-orang kaya yang rakus dan korup?

Indonesia. 2019. Politik identitas kembali dimainkan. Orang diadu atas nama agama, ras, suku dan identitas primordial lainnya. Politik kekuasaan dan kerakusan dengan tak tahu malu memainkan itu semua demi jabatan politik yang sifatnya amat sementara. Dengan nilai-nilai luhurnya, agama seolah tak berdaya, dan justru menjadi pembenaran bagi semua kerakusan dan diskriminasi yang ada.

Indonesia. 2019. Politisi busuk menari di panggung media dengan tak tahu malu. Wajahnya terpampang di jalan-jalan raya untuk mencari dukungan semu. Ada yang berniat baik untuk mengubah keadaan. Namun, jauh lebih banyak yang didorong oleh hasrat kerakusan untuk kekuasaan.

Indonesia. 2019. Di dunia filsafat muncul sosok filsuf gadungan. Ia doyan tampil di acara-acara televisi. Ia juga doyan mengeluarkan argumen yang bombastik, namun berat sebelah, dan tak adil secara epistemologis. Ironisnya, rakyat luas menjadikan filsuf gadungan ini sebagai acuan.

Indonesia. 2019. Saya masih heran, mengapa di awal abad 21 yang serba maju ini, masih ada orang yang doyan menjadi orang radikal agamis? Dari segi cara berpikir, ia jelas ketinggalan jauh. Dari segi cara hidup, ia seperti kembali ke masa lalu yang kelam di belahan dunia yang lain. Dari segi estetik, sama sekali tidak ada yang indah untuk dipandang dan ditelaah.

Inilah deretan irasionalitas Indonesia. Bisa ditambah lagi, jika kita mau menengok dunia internasional. Dalam arti ini, irasionalitas adalah bayang-bayang peradaban. Ia mengerikan, gelap, namun tak bisa pernah sungguh bisa dipisahkan dari lika liku sejarah manusia.

Memahami Irasionalitas

Irasionalitas adalah sebuah cara berpikir dan sikap hidup yang tak sejalan dengan kepentingan dasariah manusia. Setidaknya, ada dua kepentingan dasariah manusia. Yang pertama adalah kepentingan pelestarian diri. Yang kedua adalah kepentingan untuk mewujudkan kebaikan bersama yang secara langsung terkait dengan kepentingan pertama sebelumnya.

Sikap irasional menghancurkan kehidupan diri sendiri. Ia juga menghancurkan kehidupan orang lain. Dalam soal hidup bersama, sikap irasional mengundang kebencian dan konflik yang berkepanjangan. Sejalan dengan pandangan Freud, sikap irasional adalah bentuk nyata dari “dorongan kematian” (Todestrieb).

Justin Smith menulis buku dengan judul Irrationality: A History of the Dark Side of Reason. Ia melihat hubungan yang bersifat paradoksal antara rasionalitas dan irasionalitas. Artinya, semua upaya manusia untuk menjadi rasional justru akan berakhir ke dalam irasionalitas yang baru.

Perkembangan teknologi modern menjadi contoh yang bagus. Segala bentuk temuan justru membuat manusia menjadi malas, dan tak mampu berpikir panjang. Ia pun tidak hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga merusak alam. Jika alam rusak, maka manusia pula yang akan hancur.

Pandangan senada diungkapkan oleh pemikir Jerman, Adorno dan Horkheimer, dalam bukunya yang berjudul Dialektik der Aufklärung: Philosophische Fragmente. Pencerahan justru melahirkan mitos-mitos baru yang sebelumnya ingin dilampaui. Teknologi modern berubah menjadi ideologi yang justru merusak hidup manusia. Ini paling nyata di dalam pengembangan senjata pemusnah massal dalam beragam bentuknya.

Di ranah ilmu kognitif, filsafat dan neurosains, Lisa Bortolotti menulis buku dengan judul Irationality. Ia melihat, bahwa irasionalitas memang selalu menjadi bagian dari hidup manusia. Irasionalitas adalah fakta alamiah yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Yang diperlukan adalah upaya untuk menafsir ulang makna rasionalitas yang terus berubah.

Filsafat Asia

Di dalam filsafat Asia, irasionalitas berakar pada tiga hal. Yang pertama adalah ketidaktahuan. Ketidaktahuan adalah kesalahpahaman manusia tentang makna hidup yang sebenarnya. Orang hidup dengan ambisi, dan berusaha menggenggam apapun yang ia inginkan, seperti kenikmatan, kekuasaan dan uang. Padahal, dunia ini terus berubah. Tidak ada satu hal pun yang bisa genggam erat, termasuk nyawa kita sendiri sebagai manusia.

Dua, akar dari irasionalitas adalah ketakutan. Ketakutan adalah akar dari kemarahan dan kebencian. Ketakutan juga menunda akal sehat, sehingga pikiran dan perilaku menjadi irasional. Jika irasionalitas menjadi raja, maka konflik adalah buahnya.

Tiga, akar dari irasionalitas adalah kerakusan. Orang yang rakus ingin terus menguasai, demi menguasai itu sendiri. Tidak ada yang sungguh dapat memuaskan kerakusannya. Di dalam tekanan kerakusannya sendiri, akal sehatnya mundur ke belakang, dan irasionalitas menjadi acuan utamanya.

Di dalam filsafat Asia, terutama ajaran Buddhis, ketiga hal ini dilihat sebagai sumber penderitaan. Maka dapat dikatakan, bahwa irasionalitas amat erat terkait dengan penderitaan. Orang yang bahagia akan cenderung berlaku rasional. Mereka akan memelihara serta mengembangkan, tidak hanya hidupya sendiri, tetapi juga hidup bersama.

Transrasionalitas

Dapatlah disimpulkan, selama ada rasionalitas, irasionalitas pun akan mengikuti. Keduanya satu paket. Keduanya bagian dari sejarah peradaban. Tidak ada bangsa yang sepenuhnya bebas dari irasionalitas.

Memang, beberapa usaha untuk mengembangkan rasionalitas tetap diperlukan. Dunia pendidikan Indonesia bermutu amat rendah, sehingga akal sehat tertutup oleh sikap dogmatis yang diajarkan melalui pemahaman agama yang sempit dan dangkal. Sikap kritis dan analitis dijauhi. Kepatuhan buta dan ketakutan dipelihara secara luas. Semua ini amat perlu untuk diubah secara  mendasar, sambil berpegang pada kesadaran, bahwa ini pun tidak akan pernah cukup.

Yang diperlukan adalah upaya untuk melampaui rasionalitas dan irasionalitas itu sendiri, atau yang saya sebut sebagai transrasionalitas. Sejatinya, rasionalitas hanya bagian kecil dari kecerdasan alamiah manusia. Rasionalitas hanya berguna untuk melakukan analisis di dunia sehari-hari semata. Ia tidak banyak berguna, jika manusia ingin memahami siapa dirinya sebenarnya.

Beberapa laku spiritual telah mencoba untuk bergerak melampaui rasionalitas dan irasionalitas. Di abad 21 ini, gerakan ini telah menjadi gerakan global dengan pengaruh yang amat besar. Hal yang sama mulai terasa di Indonesia sekarang ini, walaupun dalam jumlah yang masih amat kecil. Irasionalitas bukanlah sesuatu yang perlu untuk ditolak ataupun dirayakan, melainkan dilampaui…

***