Asal Muasal Kompas [6] Gedung Perintis

Istilah komt pas morgen benar-benar tinggal kenangan ketika Kompas memiliki percetakan sendiri di Palmerah Selatan pada tahun 1972.

Rabu, 1 Mei 2019 | 07:43 WIB
0
345
Asal Muasal Kompas [6] Gedung Perintis
Gedung Kompas di Jalan Gajah Mada (Foto: Pinterest)

GEDUNG pertama yang dimiliki Kompas adalah sebuah kantor kecil di Jalan Gajah Mada no 104. Ketika kemudian di belakangnya dibangun gedung besar berlantai empat yang menyambung kantor lama, dinamailah bangunan tersebut dengan Gedung Perintis. Gedung itu kemudian menjadi pusat kegiatan bisnis Kompas sedangkan pusat kegiatan redaksi di Palmerah Selatan.       

Seingat saya, ketika saya masuk Kompas bulan Juni 1970, beberapa hari kemudian diminta ke gedung di Jl Gajah Mada no 104. Di situ Mas Leo Hadi yang saat itu mengurusi kepegawaian bertanya tentang diri saya.  Nama siapa, status, alamat, bapak/ibu, saudara, dan macam-macam data yang ia catat di buku besar. Saat itu hanya ruangan kecil yang kini jadi toko buku, dan pada tahun itu memang baru sebagian dari deretan toko-toko itu yang dibeli. Kini tahun 2010, hampir sederet itu sudah milik Kompas-Gramedia

Ketika oplah Kompas merangkak naik dan naik, Pak Ojong  berpendapat bahwa manajemen bisnis yang selama ini bergantung pada PT Kinta, harus mandiri. Untuk itu Kompas harus punya tempat sendiri, tidak boleh campur dengan PT Kinta di Jl Pintu Besar Selatan. Maka dibelilah toko di Jl Gajah Mada no 104, dan itulah harta pertama milik Kompas.

Informasi penjualan gedung itu didapat Kurnia dari tukang batu yang bekerja memperbaiki jalan di depan gedung tersebut. Bersama JB Susanto ia menemui pemiliknya, seorang haji yang tinggal di Jalan Kebon Jeruk, seberang gedung. Akhirnya gedung tersebut dibeli dengan harga Rp. 6.000.000. Ketika itu (tahun 1968) nilai satu dolar setara Rp440. 

Pak Ojong minta agar di gedung itu terpampang nama Kompas dengan huruf yang besar. Ia berharap papan nama itu bisa sekaligus menjadi promosi, terutama bagi penumpang bus umum. Dan benar, hingga sekarang setiap kondektur bus yang lewat di depannya selalu meneriakkan nama Kompas.

Begitu gedung dibeli maka  pada tanggal 01 Januari 1969 kantor bisnis pindah ke gedung ini. Di sini pendampingan dari PT Kinta usai sudah. Mulai saat itu pembukuan dipegang sendiri, urusan iklan, urusan umum, dan juga ekspedisi dipegang sendiri. Hanya bagian Redaksi yang masih berkantor di Jalan Pintu Besar Selatan, selain agar dekat dengan tempat proses cetak, juga karena belum ada tempat lain.

Di gedung inilah roda manajemen bisnis diatur, termasuk masalah kepegawaian. Menurut beberapa orang yang terlebih dahulu masuk Kompas, kenaikan oplah Kompas selalu berdampak positif  bagi kesejahteraan karyawannya.  “Hampir tiap minggu ada saja pembagian uang,”  begitu celoteh Sularta alias Pele, almarhum.

Ketika saya masuk, ada pembagian beras (bagi bujangan biasanya langsung dijual ke teman yang siap menadah) dan susu bagi yang sudah punya anak. Ketika musim hujan datang, dibagikan payung dan jas hujan. 

Dengan pembagian tersebut, tidak ada alasan bagi karyawan untuk datang terlambat atau wartawan tidak setor berita. Apalagi ketika itu sudah ada uang transport segala. Untuk karyawan yang dinas malam seperti korektor dan layoutman, ada fasilitas antar pulang. Tentu saja setelah mobil selesai mengangkut barang-barang ke percetakan. Jadi tidak ada lubang untuk absen jika memang tidak sakit.

Administrasi yang rapih itu terus berlangsung walau masih ada juga unsur kepercayaan. Pada tahun 1975 ketika saya sudah jadi wartawan dan akan bertugas ke Eropa, diminta menghadap Pak Ojong di Jl Gajah Mada. Di situ saya ditanya sendiri oleh Pak Ojong, mau meliput apa saja, ke mana saja, berapa lama. Sesekali almarhum memberi saran sebaiknya mengunjungi kota ini atau melihat museum ini, sehingga beliau menghitung saya akan berada di Eropa sekitar 30 hari.

Pak Ojong membuat coretan di kertas kecil, menghitung biaya yang saya perlukan. Akhirnya beliau bertanya, “Sudah punya pacar? Ibumu masih ada?”  Usai saya jawab, ia menyerahkan catatan itu pada saya. “Ini biayamu 900 dolar, saya bulatkan jadi 1.000 dolar, sisanya untuk oleh-oleh ibumu ya!”

Saya pun membawa catatan itu pada kasir untuk mengambil uangnya. Sepulang dari Eropa saya tidak perlu mempertanggungjawabkan penggunaan uang tersebut, mereka percaya bahwa saya telah menggunakannya dengan benar. Buktinya hanyalah tulisan tentang kepergian saya tersebut dimuat di Kompas. Itu saja cukup.

***

KETIKA administrasi Kompas pada tahun 1969 pindah ke Jl Gajah Mada dan diurus sendiri, oplah Kompas sekitar 60.000 eksemplar. Oplah sebesar itu tak mungkin dilayani satu percetakan sehingga harus dilakukan pencetakan di tempat lain. Padahal urusan cetak-mencetak ini sungguh repot, tak bisa menghindar dari pungli, tanpa memberikan uang rokok, bisa-bisa koran kita tidak dicetak atau dikalahkan dengan koran lain sehingga terbit terlambat.

Keterbatasan percetakan menjadi penghambat utama penerbitan Kompas. Hingga tiga bulan pertama terbit, Kompas selalu terlambat datang ke pasar maupun pelanggan, bahkan seringkali  tengah hari baru diedarkan. Bahkan jika terlalu siang sehingga tidak ada lagi loper yang mengantarkan, koran disampaikan ke pelanggan esok harinya.

Akhirnya muncul istilah komt pas morgen, besok baru datang. Untuk menyesuaikan keadaan tersebut, lima hari sesudah terbit, subjudul kop HARIAN PAGI UNTUK UMUM  diubah menjadi HARIAN UNTUK UMUM. Itu dilakukan pada penerbitan tanggal  02 Juli 1965.

Menurut Maryono, salah seorang korektor (proof reader) pertama yang ikut membidani kelahiran Kompas, sebenarnya naskah berita sejak siang sekitar pukul 14.00 sudah diturunkan ke percetakan, PN Eka Grafika di daerah Kramat.

Harthanto, wartawan tahun pertama,  bersepeda mengantarkan naskah-naskah tersebut siang hari dari Jalan Pintu Besar Selatan ke Kramat (sekitar 10 kilometer), tetapi toh baru dikerjakan zetter setelah pukul 18.00. Saat itu manajemen Kompas tidak mau “main sogok” agar segera dikerjakan. Maklum masih baru.

Baca Juga: Asal Muasal Kompas [1] Pintu Besar Selatan

Redaksi malam yang dikomandani Djoni Lambangdjaja,  menyelesaikan penurunan naskah sekitar pukul 23.00 namun pencetakannya menunggu Harian Karya Bhakti. Usai pencetakan Karya Bhakti  biasanya hari sudah terang, shift malam sudah usai, menunggu tukang cetak yang giliran kerja pagi. Padahal mesinnya sering ngadat, setelah mesin cetak lembar itu berjalan beberapa menit, harus dihentikan untuk diratakan letak timah-timah cetakannya (zetsel) agar bisa mencetak dengan jelas. Jadi tidak heran kalau Kompas akhirnya jadi komt pas  morgen.

Sebulan di PN Eka Grafika, Kompas pindah cetak di Masa Merdeka, tempat Harian Angkatan Bersenjata dicetak di daerah Petojo. Untuk mengatasi kendala zetting naskah, Kompas meminjam mesin linotype merk Intertype dari Yayasan Desa Putra, Lenteng Agung. Untuk mengoperasikannya “dibajak” salah seorang tenaga zetter di Eka Grafika. Saat itu Redaksi berkantor di atasnya sehingga penurunan naskah terbilang lancar. Mesin tersebut kini ditempatkan di lantai dasar gedung PT Kinta Jalan Pintu Besar Selatan.

Mulai saat itu proses produksi Kompas menjadi lancar, apalagi di Masa Merdeka dicetak dengan mesin web (menggunakan kertas rol) sehingga oplah pun melaju hingga dua kali lipat. Namun kendala percetakan makin lama makin parah. Koran Angkatan Bersenjata selalu terlambat cetak padahal Kompas dicetak setelah mereka selesai. Maklum Kompas sudah dianggap jadi pesaing. Jadilah Kompas tetap menjadi komt pas  morgen.  Akibatnya oplah yang sudah mencapai sekitar 15.000 eksemplar menurun hingga tinggal 10.000-an.

Istilah komt pas  morgen sedikit demi sedikit menghilang setelah Kompas  dicetak di PT Kinta mulai tanggal 06 Oktober 1965, menggantikan waktu cetak Suluh Indonesia yang dibreidel. Sebenarnya koran ini dibreidel bersama Kompas sejak 2 Oktober namun ketika Kompas diizinkan terbit kembali  tanggal 6 Oktober, Suluh tetap dibreidel.

Akhirnya istilah komt pas  morgen benar-benar tinggal kenangan ketika Kompas memiliki percetakan sendiri di Palmerah Selatan pada tahun 1972.

(Bersambung)

Mamak Sutamat, wartawan purnatugas Harian Kompas 1970-2004.

***

Tulisan sebelumnya:

Asal Muasal Kompas [5] Dua Sosok Satu Jiwa