Asal Muasal Kompas [5] Dua Sosok Satu Jiwa

Mereka tak perlu merumuskan apa isi koran dan bagaimana menjualnya, seolah pikiran mereka itu sudah sama. Hal itu diakui Pak Jakob dalam berbagai kesempatan.

Rabu, 1 Mei 2019 | 07:30 WIB
0
487
Asal Muasal Kompas [5] Dua Sosok Satu Jiwa
Jakob Oetama, PK Ojong, Adisubrata dan Irawati (Foto: Kompas)

SELAMA bekerja di Kompas, saya jarang sekali bertemu apalagi berbicara dengan Pak Ojong, maklum ia tidak ikut campur dalam keredaksian. Apalagi ketika kantor sudah pindah ke Palmerah Selatan dan ia masih di Jalan Gajah Mada. Yang saya tahu dan dengar, kelahiran  Harian Kompas tak bisa lepas dari nama Pak Ojong (Petrus Kanisius Ojong)  dan Pak Jakob (Jakobus Oetama).

Memang Partai Katolik merupakan sarana agar koran itu bisa terbit tanpa penanganan kedua orang tersebut, apalagi jika Kompas tetap menjadi media partai, nama Harian Kompas mungkin tinggal kenangan.

Dari beberapa penerbitan bulletin intern yang saya  baca, kedua sosok ini saling mengagumi dan saling menutup kekurangan masing-masing. Persahabatan mereka muncul berawal dari rasa saling kagum itu.

PK Ojong yang pada awal tahun 1960 sudah menjadi tokoh pers bahkan Pemimpin Redaksi Majalah Mingguan Star Weekly serta aktif di kegiatan kemanusiaan melalui wadah Partai Katolik, sering bertemu dalam berbagai diskusi dengan Pak Jakob yang kala itu menjadi salah satu staf redaksi Majalah Penabur dan juga guru.     

Persamaan pandangan dalam melihat hidup dan kehidupan masyarakat membuat keduanya saling merasa cocok dan akhirnya menjadi satu ikatan persahabatan.

Semula persahabatan ini akan dikukuhkan dengan penyerahan jabatan pemimpin redaksi Star Weekly dari Pak Ojong ke Pak Jakob dengan strategi agar majalah itu tidak dibreidel karena Pak Ojong sudah dikenal sebagai aktifis yang antikomunis. Proses penggantian sudah diurus sejak tahun 1960 namun belum sempat keluar SK dari Deppen, Star Weekly keburu dibreidel pada bulan Oktober 1961.

Baca Juga: Asal Muasal Kompas [1] Pintu Besar Selatan

New line to prevent forcing root class, just delete it if it's not necessary

Akhirnya mereka bersepakat menerbitkan majalah Intisari pada bulan Agustus  1962. Majalah ini  selain dibidani Pak Ojong dan Pak Jakob, juga J. Adisubrata. Kemudian hari ditambah dengan  Irawati, sarjana hukum yang ngotot ingin jadi wartawan dan bersedia untuk tidak digaji. Mereka berkantor di  Jalan Pintu Besar Selatan, menggunakan mesin ketik dan fasilitas  PT Kinta.

Hubungan mereka dipertaut lebih erat ketika Partai Katolik minta agar mereka mengelola Harian Kompas pada tahun 1965. Sejak awal Pak Ojong yang lebih berpengalaman dalam bisnis media menegaskan, isi koran tersebut haruslah umum, bukan koran partai. Koran atau majalah partai tidak pernah ada yang bisa hidup mandiri.

Pak Ojong menunjuk Elsevier, majalah partai katolik di Indonesia yang terbit pada zaman Belanda. Media itu akhirnya ditutup karena ketiadaan biaya.

Pak Jakob pun punya pendirian sama, “Sejak surat kabar ini terbit, para pengasuhnya berpegang kepada pendirian berikut : surat kabar harus otonom, tidak didikte atau diatur oleh orang lain, kecuali oleh para pengasuhnya. Juga tidak oleh kelompok atau lembaga yang menerbitkannya.”

Dan kemudian hari Pak Jakob mempertegas dengan pendapat bahwa sebuah surat kabar tidak pernah akan bisa berkembang jika  setiap kali selalu dicampuri. Apalagi jika campur tangan tersebut berlangsung simpang-siur, menurut selera atau kepentingan masing-masing pihak, yang merasa sama-sama mempunyai andil dalam penerbitan.

Kesamaan pendapat keduanya itulah yang membuat Kompas yang semula terbit atas prakarsa Partai Katolik, sejak awal tidak menunjukkan secara jelas nafas katoliknya. Ketika akhirnya Orde Lama tumbang dan kehadiran Kompas tak perlu dihubungkan lagi dengan partai,  produk koran itu tak perlu diubah lagi.

Persamaan pandangan, visi, dan nurani ketika mereka bertemu dalam forum diskusi atau rapat-rapat partai membuat mereka tak lagi kesulitan dalam bekerjasama menerbitkan majalah maupun koran.

Mereka tak perlu merumuskan apa isi koran dan bagaimana menjualnya, seolah pikiran mereka itu sudah sama. Hal itu diakui Pak Jakob dalam berbagai kesempatan.

Dua sosok itu sudah menjadi satu jiwa.

(Bersambung)

Mamak Sutamat, wartawan purnatugas Harian Kompas 1970-2004.

***

 Tulisan sebelumnya:

Asal Muasal Kompas [4] Bung Karno Pemberi Nama Kompas