Polemik Sains dan Perlunya Paradigma Alternatif

Diperlukan paradigma alternatif di dalam ilmu pengetahuan yang menyadari dan menghormati kerumitan realitas dan diri.

Jumat, 17 Juli 2020 | 14:06 WIB
0
254
Polemik Sains dan Perlunya Paradigma Alternatif
Ctedit Photo: Antoni Reis Tanesi.

Beberapa minggu belakangan ini, kita membaca polemik  mengenai sains lewat media sosial  facebook.  Seingat saya, diskusi ini berawal dari pernyataan Mas GM mengenai permasalahan-permasalahan sains - yang kemudian ditanggapi oleh AS Laksana. Lalu, beberapa hari setelah itu, munculah bermacam-macam tanggapan lainnya yang ikut meramaikan polemik tersebut.

Setelah mengikuti polemik tersebut, saya melihat terdapat dua kutub yang saling bersebrangan. Singkatnya, salah satu kubu mengagungkan sains dan menganggap filsafat dan agama tak lagi relevan, sementara kubu satunya berpendapat bahwa sekalipun sains menghasilkan kemajuan yang luar biasa bagi umat manusia, bukan berarti filsafat dan agama menjadi tidak relevan.

Dalam tulisan terakhir Mas GM, "Sebuah tempat yang bersih dan lampunya terang untuk sains",  kita bisa melihat  dua poin penting yang dijelaskan dengan gamang. Pertama, Mas GM menyodorkan kisah-kisah serta mengkririsi sains dengan menggunakan beberapa tokoh seperti MaxWeber, Isabelle Strengers, kritik Husserl, dan lain-lain. 

Baca Juga: Pentingnya Melek Literasi Sains

Kedua, Mas GM menutup tulisannya dengan mengutip sebuah kalimat dari  Hemingway, yang mengatakan bahwa "Sains bukan anggota masyarakat pengetahuan yang patut dicurigai. Tapi  ia tak perlu dipromosikan ke markas komando, menjadi otoritas tertinggi untuk kebenaran dan kebijakan". 

Setelah membaca berbagai polemik tersebut - dan terutama tulisan terakhir dari Mas GM - saya lantas bertanya; sebetulnya apa yang istimewa dari sains? Dan kebenaran seperti apa yang dicari didalam sains?

Metode 

Kemunculan para filsuf  adalah tanda bahwa manusia berusaha untuk bertanya tentang realitas dan memahami  dunia di luar diri. Dari sinilah salah satu titik balik terpenting di dalam sejarah manusia, ketika Mitos menjadi Logos. Ketika cara berpikir manusia berubah dari cara berpikir mitologis menjadi cara berpikir rasional, yang disebut sebagai Logos.

Praktek Logos tersebut kemudian tergambarkan di dalam empat kegiatan dasar sains, yakni memahami, menjelaskan, melakukan prediksi, dan kontrol atas realitas.  

Kita tahu, hal terpenting dari ilmu pengetahuan adalah metode penelitian ilmiah. Inti dari metode penelitian ilmiah adalah upaya sistematik dan berkelanjutan untuk menemukan obyektivitas, yakni kebenaran yang bisa diakui lepas dari keyakinan pribadi ataupun pandangan pribadi dari orang yang menyatakannya. 

Pola berpikir semacam itu lahir dari semangat filsafat modern yang berkembang di Eropa. Tokohnya yang ternama adalah Francis Bacon. Ia menegaskan, bahwa semua pemahaman kita haruslah diuji dalam eksperimen, sehingga tingkat kebenarannya bisa dipastikan. 

Hasil dari eksperimen tersebut harus juga bisa diuji oleh orang-orang lainnya dari ranah keilmuan yang sama. Jika banyak dari peneliti bisa menguji hasil dari eksperimen tersebut, dan sampai pada hasil yang sama, maka pandangan tersebut bisa dianggap sebagai pandangan obyektif. 

Auguste Comte kemudian meradikalkan ide Bacon dengan positivismenya. Realitas yang layak kaji adalah realitas positif yang teramati oleh indera. Selain itu semuanya adalah metafisika yang sia-sia. Positivisme melesat di dalam kajian ilmu-ilmu alam. Banyak hal ditemukan di dalam alam yang berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan.

Pola semacam itu, akhirnya membawa hasil yang sangat luar biasa. Banyak kemajuan dan manfaat yang diberikan oleh ilmu pengetahuan.

Melihat hal itu, para ilmuwan sosial pun berniat menggunakan metode ilmu-ilmu alam sebagai acuan. Akibatnya kehidupan manusia yang menjadi kajian dari ilmu-ilmu sosial disempitkan melulu pada apa yang teramati oleh indera. Kehidupan manusia melulu dipahami sebagai fakta.

Padahal manusia juga punya nilai yang membuat hidupnya bermakna. Nilai yang tidak kasat mata, namun merupakan inti hidupnya. Inilah yang tidak dipahami oleh positivisme di dalam penelitiannya. Yang ironisnya, praktek positivistik tersebut menjadi mode di dalam ilmu-ilmu sosial.

Psikologi, sosiologi, dan ekonomi memakai pendekatan itu sebagai titik tolak analisis dunia sosial. Kehidupan manusia pun dipersempit sebagai obyek inderawi yang banal. Sains yang hendak membebaskan dirinya dari pasungan otoritas, kini jatuh ke dalam pasungan baru yang dibuatnya sendiri.

Sains menjadi mekanis, dan kehilangan kemampuan untuk kritik diri. Manusia pun dianggap sebagai mahluk yang sepenuhnya terdefinisi. Kebenaran pun tetap tak bergeming dan tersembunyi.

Cukup lama peradaban manusia dikungkung oleh otoritas seperti itu. Kebebasan berpikir dan inovasi pun hanya harapan yang mengambang tanpa realitas.

Oleh karena itu,  tak heran kalau ilmu pengetahuan mengalami pasang surut dalam perkembangannya. 

Obyektivitas 

Ilmu pengetahuan mencoba mengungkap kebenaran yang bersifat obyektif, yakni bisa dibuktikan melalui eksperimen oleh orang lain. Kebenaran semacam ini tidak tergantung pada kekuasaan apapun. Siapapun bisa melihat dan menyatakannya, dan tetap diakui sebagai benar. 

Hanya ada sedikit kebenaran ”obyektif” di alam ini yang telah ditemukan oleh ilmu pengetahuan, misalnya bahwa matahari itu panas, bumi itu tidak datar, dan bahwa manusia itu terdiri dari komponen DNA. Pernyataan-pernyataan kebenaran lainnya masih terbuka untuk dialog dan diskusi lebih jauh. 

Kebenaran obyektif tentu berbeda dengan kebenaran subyektif, yakni kebenaran yang kita yakini secara pribadi seturut dengan latar belakang kita. 

Kita tidak bisa membuat orang lain memiliki keyakinan yang sama dengan kita. Siapapun yang ingin memaksanya, kerap kali dengan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan mental. 

Ilmu pengetahuan akhirnya berkembang pesat, karena orang berani berbicara dan berpikir berbeda. Orang menolak untuk tunduk dan patuh pada kebenaran yang telah dipercaya secara umum, baik oleh budaya maupun tradisi. 

Dari situ, diskusi dan dialog pun terjadi, sehingga penemuan-penemuan baru yang berguna bisa muncul. Hanya orang yang hidup di dalam kebebasan berpikir dan berpendapat, yang mendorong peradaban manusia untuk maju ke depan.

Perlu Paradigma Alternatif

Seperti halnya semua makhluk insani, manusia berziarah di dalam dunia selalu mencari arti. Pencarian yang dilakukannya tanpa henti. Dengan kesadaran itulah sebuah alternatif cara pandang penting untuk dirumuskan. Alternatif paradigma saintifik yang tidak lagi memandang manusia sebagai benda stagnan, tetapi sebagai proyek yang masih harus diselesaikan.

Di dalam paradigma alternatif, kebenaran dianggap tertanam di dalam realitas kehidupan. Kehidupan pun dipandang sebagai jaringan makna yang majemuk dan berkelit kelindan. Walaupun majemuk dan membentuk jaringan yang rumit, realitas tetap dipandang sebagai satu kesatuan.

Di dalam kesatuan dari kemajemukan itulah mungkin terdapat kebenaran.

Di dalam paradigma ini, manusia bukanlah objek yang sudah terdefinisi, melainkan subjek yang punya kehendak bebas. Ia sadar akan dirinya sendiri, sekaligus sudah berpijak pada realitas. Tanpa realitas, ia tidak menjadi bebas. 

Manusia mengetahui, dan dengan pengetahuan itulah ia menjadi bebas. Kita perlu mengakui, bahwa pengetahuan adalah artefak kehidupan yang membuat hidup manusia menjadi lebih berkualitas. Kualitas kehidupan manusia ditentukan oleh kemanusiaannya. 

Baca Juga: Napsi-napsi Sains dan Agama

Untuk itu, diperlukan paradigma alternatif yang menjamin kemanusiaan tetap menjadi yang utama. Bukan objek pengetahuan yang penting, melainkan krisis kemanusiaan yang perlu diselesaikan. Krisis kemanusiaan yang juga merupakan krisis keterlibatan manusia di dalam perkembangan dunia kehidupan.

Ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini telah membuat manusia terasing dan membisu. Alih-alih memupuk kekaguman dan rasa hormat terhadap realitas, ilmu pengetahuan malah membuat manusia terperangkap di dalam jaring-jaring rasa ragu dan jemu.

Oleh karna itu - sekali lagi - diperlukan paradigma alternatif di dalam ilmu pengetahuan yang menyadari dan menghormati kerumitan realitas dan diri. 

Siapa tahu, dengan itu, apa yang sama-sama kita harapkan dari polemik sains ini bisa terjawab.

Salam.

***