Mang Tardi dan Panen Hanjeli

Kepada petani ditawarkan benih dan kebutuhan pendukung dan menampung hasil panen mereka dengan harga yang sudah disepakati. Hanjeli diharapkan memberi nilai tambah bagi petani.

Jumat, 14 Agustus 2020 | 19:33 WIB
0
21
Mang Tardi dan Panen Hanjeli
Hanjeli (Foto: Dok. pribadi)

Di bawah cahaya lampu yang tidak begitu benderang, wajah Tardi (60) tetap kelihatan berseri-seri. Hasil panen hanjelinya berlimpah. “Alhamdulillah, hasil panen basah sekitar 800 kilogram. Kalau sudah kering mah jadinya sekitar 400 kilogram,” kata Tardi saat berbincang-bincang dengan para petani di rumahnya, Kampung Cisanggarung RT 01 RW 02 Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, Rabu (12/8/2020) malam.

Ya, 400 kg berarti 4 kwintal. Sebanyak itulah hanjeli hasil panen kali ini di lahan 300 tumbak garapannya. Sudah setahun terakhir ini Tardi menanam hanjeli, di sela-sela kegiatan pertanian regulernya menanam sayuran. Hanjeli memiliki waktu tanaman yang terbilang lama, lima bulan. Dalam setahun, berarti Tardi dua kali panen.

“Tapi waktu tanam yang lama itu tidak terasa. Karena diselingi panen tanaman yang lainnya. Setelah dipanen, sebagian kita simpan untuk pembibitan dan konsumsi keluarga. Sebagian lagi ya dikirim ke Odesa Indonesia,” kata Tardi, sambil mempersilakan para tamunya mencicipi bubur hanjeli yang disodorkan istrinya.

Malam itu bubur hanjeli menjadi bagian dari hidangan di antara ciu, ubi rebus, singkong goreng, kerupuk singkong dan bala-bala. Tentu saja tidak lupa kopi hitam dari kebun Cimenyan, menghangatkan udara dingin kawasan Bandung utara. Para petani –terutama yang berusia muda- tampaknya baru merasakan enaknya bubur hanjeli, yang hanya dicampuri gula merah itu.

Bagi warga Cimenyan, sebenarnya hanjeli bukan barang asing. Seperti juga sorgum dan pohon kelor. Namun karena persoalan ekonomi, tanaman “karuhun” itu terlupakan. Warga lebih mengutamakan tanaman yang bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. “Nah, kalau sekarang ada yang menampung, alhamdulillah. Saya tertarik juga,” ujar Dida, Ketua RT setempat.

Hanjeli tidak hanya bisa diolah jadi bubur, tapi juga dapat dimasak seperti nasi atau diolah menjadi kerupuk. Tardi mengakui orangtuanya dulu biasa menumbuk hanjeli untuk dikonsumsi. “Kalau pagi-pagi saya sering makan dengan nasi hanjeli. Sekarang mencari hanjeli susah. Tanaman ini hilang mungkin sejak 15 atau 20 tahun lalu,” ujarnya.

Hanjeli (Coix lacryma-jobi L.) atau jali adalah tumbuhan biji-bijian tropika dari jenis padi-padian. Bisa dimakan dan dijadikan sumber karbohidrat dan obat. Sebagai bahan obat herbal, hanjeli memiliki berbagai khasiat seperti peluruh air seni dan antitumor. Sumber zat aktif obat diperoleh baik dari biji mauun ekstrak akarnya.

Hanjeli merupakan bagian dari keanekaragaman tanaman pangan. Kenyataan ini menjadi salah satu perhatian Odesa Indonesia. Karena itulah Odesa mencoba menghidupkan kembali tanaman alternatif selain beras tersebut.

Kepada para petani ditawarkan benih dan kebutuhan pendukung lainnya, serta menampung hasil panen mereka dengan harga yang sebelumnya sudah disepakati. Hanjeli diharapkan memberi nilai tambah bagi petani.

“Memang yang sering jadi masalah itu hasil panennya. Dulu ada bantuan benih jagung dari pemerintah. Kita tanam ramai-ramai. Tapi setelah panen, jagung melimpah, pemasarannya teu puguh, harganya teu puguh. Kan tidak mungkin jagung sebanyak itu kita makan tiap hari,” ujar Amir Hamzah (60) yang mulai mencoba menanam hanjeli meskipun dalam jumlah yang tidak banyak.

***