Mari meneladani Johannes Leimena dan Mohammad Natsir

Kamis, 18 Oktober 2018 | 11:19 WIB
0
156
Mari meneladani Johannes Leimena dan Mohammad Natsir

Bagaimana seyogyanya kontestasi dalam sebuah negara demokrasi? Mari meneladani Johannes Leimena dan Mohammad Natsir, dua tokoh pendahulu kita.

Leimena putra Ambon yang jadi tokoh Partai Kristen Indonesia dan Natsir orang Minang petinggi Partai Masyumi. Partainya berbeda, bersaing ketat, pandangan keduanya kerap berseberangan, tetapi sebagai pribadi dalam pergaulan sehari-hari, mereka bersaudara dan sangat bersahabat.

Inilah keteladanan yang harus kita ambil, kita pakai, kita pedomani, kita teruskan sebagai fondasi bangsa dalam menghadapi tantangan-tantangan.

Rivalitas di tahun politik ini harus dibangun di atas fondasi yang tidak saling menjatuhkan. Kontestasi tidak boleh menimbulkan kegaduhan dan permusuhan, kebencian, kedengkian, tidak saling mencela atau memfitnah.

Rakyat harus merayakan kontestasi ini dengan kegembiraan yang diwarnai oleh narasi yang sejuk dan gagasan untuk kemajuan. Rakyat merayakan perbedaan pilihan dengan penuh kedewasaan dan kematangan.

Inilah yang justru memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika dan persatuan kita.

***