Asal Muasal Kompas [7] Palmerah Selatan

Kepada bagian penerima karyawan Pak Jakob biasanya berujar, “Kalau semua karyawan harus orang pintar, lalu orang bodoh harus kerja apa Mas?” Masalah pun selesai.

Rabu, 1 Mei 2019 | 07:44 WIB
0
433
Asal Muasal Kompas [7] Palmerah Selatan
Kantor Harian Kompas di Palmerah Selatan (Foto: Qerja)

PADA bulan Juni 1972 dapur Kompas secara bertahap berpindah dari Pintu Besar Selatan ke Palmerah Selatan. Awalnya pracetak tetap di Pintu Besar Selatan sehingga spanram harus dibawa dengan mobil pick up. Saya ingat, pada hari pertama, siang hari, ketika mobil datang tidak seorang pun mau menurunkan spanram dari mobil. Maklum tenaga percetakan di Palmerah Selatan kebanyakan orang baru.

Pak Ojong yang sejak pagi berada di percetakan segera keluar dan langsung mengajak saya dan sopir untuk menurunkan spanram tersebut. Pak Ojong tidak hanya memerintah tetapi langsung memegang pojok spanram yang berat itu dan menurunkan dari mobil serta ikut mengangkatnya ke dalam percetakan.

Untuk masuk ke kompleks percetakan Gramedia, kita harus melewati jalan kecil yang becek di pinggir rel yang membentang dari Stasiun Palmerah ke jurusan Rangkas. Di pinggir rel tersebut berdiri gubuk-gubuk yang selain digunakan berdagang makanan juga tempat tinggal. Ketika percetakan hendak memperbaiki dan memperlebar jalan agar truk pengangkut kertas bisa masuk, mau tidak mau harus menggusur mereka.

Baca Juga: Asal Muasal Kompas [1] Pintu Besar Selatan

Di samping bangunan percetakan terdapat bangunan bekas pabrik obat Konimex yang letaknya lebih tinggi. Bangunan tersebut sederhana namun cukup memuat semua wartawan dan tenaga administrasi redaksi. Kini wartawan tidak perlu menunggu tenaga administrasi kalau mau membuat berita. Enam meja besar dideretkan, di situ diletakkan 12 mesin ketik untuk tempat kerja wartawan. Sedangkan untuk redaktur punya meja sendiri bahkan beberapa di antaranya punya kamar sendiri.

Pak Jakob yang semula disediakan kamar khusus, memilih duduk di depan ruangan tersebut. Akhirnya ruang kerjanya digunakan ruang rapat. Beliau duduk menghadap pintu masuk ruangan, di kiri kanannya berderet meja-meja kerja. Siapa pun yang masuk pintu utama, takkan luput dari pantauan beliau.

Suatu siang ketika saya baru melintasi pintu utama terdengar Pak Jakob menegur, “Saudara Mamak, saudara benar-benar mamak, masak ada judul salah tidak lihat?!”

Saya lihat beberapa wartawan tertawa tertahan sementara saya melihat Pak Jakob pun tidak berani. Sore harinya ada wartawan asal Jogya bertanya, “Kamu ngerti nggak artinya mamak?” Saya menggeleng, “Mamak itu artinya rabun!” Saya baru mahfum kenapa mereka tertawa dan semula benar-benar tidak tahu apa arti kata itu.

***

MULAI tahun 1974 saya jadi wartawan Kompas. Walau Kompas sudah berusia 9 tahun, sistem perekrutan wartawan masih sama saja. Asal ada rekomendasi dari dalam ataupun luar Kompas, asal pemberi rekomendasi juga “terekomendasi” , dengan tanya-jawab seadanya bisa masuk jadi wartawan apalagi karyawan. Maklum kebutuhan karyawan dan wartawan terus meningkat seiring dengan kemajuan perusahaan.

Pada dasarnya koran Kompas dimotori para guru dan orang-orang yang berjiwa pendidik. Maklum Pak Jakob dan Pak Ojong adalah juga guru selain wartawan. Sikap pendidik ini jelas tercermin dalam penyiapan kader-kadernya yang dilakukan secara evolusi, bukan tergesa-gesa. Bahkan Pak Ojong jelas memberi arahan untuk merekrut calon pimpinan.

Orang itu harus berwatak baik, artinya jujur, sederhana, rasional, berinisiatif, bersedia menerima pendapat orang lain, seimbang, adil dalam memperhatikan kepentingan bawahan, pandai membagi pekerjaan. Kecerdasan dan kepandaian merupakan syarat berikutnya.

Untuk menjaring karyawan berwatak baik, pada awalnya referensi merupakan syarat utama. Pertanyaan: siapa yang memberitahu kamu dan siapa yang kamu kenal di sini adalah pertanyaan standar atau bisa dikatakan pertanyaan wajib. Bahkan ketika bagian personalia terbentuk dan sudah ada petugas khusus untuk mewawancara calon karyawan, kedua pertanyaan tersebut tetap disampaikan. Intinya, pola “jawilan” menjadi dasar untuk mendapatkan karyawan.

Alasan kenapa menggunakan pola itu, sederhana saja. Kompas diawali dengan tenaga-tenaga yang sudah saling kenal terutama karakternya. Dengan demikian diasumsikan, rekan yang baik memiliki lingkungan yang baik dan akan membawa kawan yang baik juga ke dalam lingkungan kerjanya. Dampak ikutannya, bisa terjadi dalam satu keluarga terdapat dua-tiga bersaudara yang bekerja di Kompas, bahkan kalau dihitung dengan keluarga garis horisontal (tak langsung) ada yang lebih dari lima orang.

Tentu saja hipotesa karyawan yang baik tentunya akan membawa keluarga atau rekannya yang baik pula, tidak selalu benar. Paling tidak, pola itu membatasi jumlah karyawan yang tidak baik. Dari perjalanan sejak lahir hingga usia 40 tahun, hampir setiap tahun ada saja karyawan yang kena sanksi karena berperilaku tidak baik.

Sistem jawilan tersebut terkadang membuat Pak Jakob atau Pak Ojong menjadi tidak bisa berkutik manakala ada kenalan datang menyodorkan calon karyawan walau keduanya tahu bahwa calon tersebut sangat tidak memenuhi syarat dari segi ketrampilan atau ilmunya. Kepada bagian penerima karyawan Pak Jakob biasanya berujar, “Kalau semua karyawan harus orang pintar, lalu orang bodoh harus kerja apa Mas?”  Masalah pun selesai.

Pola jawilan ini berlangsung sejak Majalah Intisari terbit tahun 1963 hingga sekitar tahun 1981. Memang sedikit demi sedikit diperbaiki, misalnya menyertakan surat lamaran (pelamarnya biasanya anggota keluarga karyawan yang sudah ada), disaring melalui tes bidang, tes kesehatan, dan wawancara yang antara lain menyertakan dua pertanyaan “wajib” di atas.

Watak baik, itu yang jadi landasan pemilihan. Dalam berbagai kesempatan baik Pak Jakob Oetama maupun Pak Ojong selalu mengingatkan, orang kurang pandai bisa diajar agar pandai tetapi watak tidak baik tidak gampang mengubah menjadi baik.

Dalam tes calon wartawan Kompas, paling tidak hingga tahun 2004, watak baik masih menjadi syarat yang ketat. Jika dalam tes psikologi ditetapkan rentang nilai 1-8 maka watak baik minimal harus mencapai angka 7. Bahwa kelak dalam perkembangannya ternyata hasil itu tidak sesuai, tentulah alat tesnya yang harus dipertanyakan.

Dalam perkembangannya, Kompas akhirnya menuju sebuah kelompok Indonesia Mini. Dalam perekrutan Pak Jakob selalu menekankan perlunya beragam suku di perusahaan itu. Bisa dikatakan semua suku dan  semua agama terwadahi di Kompas. Dengan berpegang pada “watak baik” perekrutan untuk menjadikan Kompas sebagai Indonesia Mini menjadi mudah untuk diwujudkan.

***

REKRUTMEN wartawan hingga tahun 2000 sepenuhnya menjadi hak dan kewajiban bagian SDM. Redaksi baru dilibatkan pada tahap akhir dengan melakukan wawancara kepada calon yang sudah lulus tes-tes sebelumnya. Mulai tahun 2000 ketika saya mulai terlibat di sekretariat redaksi, rekrutmen melibatkan redaksi, Dalam sistem yang baru itu, setelah SDMU memilih berdasarkan kelengkapan administrasi, Redaksi ikut mewancarai pelamar sebelum mereka mengikuti tes-tes selanjutnya.

Setelah lolos wawancara awal, barulah mereka dites bahasa Indonesia, Inggris, psikotes, kesehatan, dan terakhir wawancara bersama para pimpinan Kompas. Dalam hal ini digunakan sistem gugur, artinya jika seorang peserta gugur dalam suatu tes maka ia tidak berhak mengikuti tes berikutnya. Dalam pengalaman, dari seluruh peserta yang lolos administrasi, calon yang lolos tes hingga akhir tak lebih dari tiga persen.

Cara mendidiknya pun diubah. Para calon wartawan itu dididik di kelas selama tiga bulan, setelah itu dimagangkan di Redaksi selama tiga bulan pula. Jika yang bersangkutan lolos magang, mereka dikirim ke luar kota untuk praktek selama enam bulan. Mereka ditempatkan di kantor-kantor biro Kompas baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa untuk diuji kreativitas dan kemampuannya di lapangan. Jika lolos barulah diangkat menjadi wartawan Kompas dengan status karyawan tetap.

Umumnya pada tahun-tahun awal mereka tetap ditempatkan di luar Jakarta. Mereka baru ditarik ke Jakarta manakala tenaganya dibutuhkan. Ini berlangsung hingga saya pensiun pada tahun 2004.

(Bersambung)

Mamak Sutamat, wartawan purnatugas Harian Kompas 1970-2004.

***

Tulisan sebelumnya: Asal Muasal Kompas [6] Gedung Perintis