Robert M. Gagne dan Bahan Ajar Universitas Terbuka

Sejalan dengan perkembangan teknologi PJJ yang saat ini telah memasuki era “intelligent flexible learning” berbasis teknologi otomasi dan interaktivitas internet (Generasi 5).

Senin, 31 Mei 2021 | 18:56 WIB
0
109
Robert M. Gagne dan  Bahan Ajar Universitas Terbuka
Robert M. Game (Foto: Istimewa)

Dalam tulisan saya sebelumnya, “Pendidikan Jarak Jauh: Dari Perspektif Teknologi ke Pedagogi” dinyatakan bahwa sejatinya, PJJ merupakan paduan antara teknologi-pedagogi-organisasi, dan bahwa evolusi ketiganya bisa bersifat paralel.

Salah satu bentuk paduan tersebut adalah pengembangan Bahan Ajar atau Buku Materi Pokok UT (atau lebih populer dengan sebutan Modul), yaitu paduan antara “teknologi cetak” dan “pedagogi” (teori dan desain pembelajaran) tertentu, yaitu dari Robert M. Gagné.

Hal ini tampaknya belum banyak diketahui oleh publik, khususnya publik pendidikan. Hingga sekarang, Modul masih digunakan di UT (juga sejumlah institusi PJJ di dunia) sebagai bahan ajar utama mahasiswa, selain bahan ajar elektronik (digital dan/atau terkoneksi).

Sembilan Peristiwa Pembelajaran

Gagne adalah salah seorang penganut aliran “kognitif-behaviorisme” yang menegaskan bahwa proses/aktivitas pembelajaran (belajar-mengajar) harus dilakukan melalui stimulasi tertentu dan melalui proses bertahap, sekuensi, atau berjenjang (sistematis-hierarkis) dari awal hingga akhir agar tujuan atau capaian pembelajaran bisa diraih.

Saya yakin, tak ada satupun yang terlibat dalam bidang pendidikan (pakar, profesional, pemerhati, praktisi, dll.) yang tidak mengenal Gagné, seorang psikolog pendidikan Amerika yang terkenal melalui karyanya yang monumental’ “Condition of Learning” (1985). 

Di dalam karyanya tersebut, Gagne mengidentifikasi lima kategori capaian belajar. Yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, keterampilan motorik (Purwoko). Masing-masing capaian belajar menuntut kondisi pembelajaran yang berbeda satu dengan yang lain.

Untuk meraih tujuan atau capaian belajar tersebut, kemudian Gagne merumuskan “peristiwa-peristiwa belajar” (events of learning) berupa tata-urutan, langkah-langkah, sekuensi atau sintaks pembelajaran yang menggambarkan proses atau aktivitas yang perlu dilakukan oleh pembelajar dan pebelajar dari awal hingga akhir agar tujuan atau capaian belajar dapat diwujudkan.

Sekuensi atau sintaks tersebut dikenal dengan sebutan “sembilan peristiwa belajar (nine events of learning)’ (thepeakperformancecenter.com). Kesembilan peristiwa belajar tersebut didesain berdasarkan pada paduan antara teori dan model belajar pemrosesan kognitif/informasi dan behaviorisme. Ia juga menyediakan sebuah kerangka kerja desain pembelajaran yang dapat diterapkan dalam beragam konteks pendidikan, baik untuk aktivitas pembelajaran tatap muka (off-line learning) maupun pembelajaran daring (online learning).

Selama ini, kajian dan pengembangan teori belajar Gagne, dan sembilan peristiwa (sekuensi) pembelajarannya ini semuanya berfokus pada pengembangan desain pembelajaran (tatap muka); Pusat Sumber Belajar (Warsita, 2008). Teori Gagne tampaknya belum pernah dikaji dan dikembangkan untuk penyusunan bahan ajar.

Tidak salah, jika dikatakan bahwa UT lah yang pertama kali menginisiasi dan mentranformasi teori pembelajaran Gagne ke dalam desain struktur atau sintaks Buku Materi Pokok (BMP) yang digunakan oleh mahasiswa UT selama belajar. Dengan demikian, Modul UT sesungguhnya merupakan transformasi dari teori dan praktik pembelajaran ke desain buku ajar.

BMP/Modul UT: Sintaks, Konten, dan Konteks Pembelajaran

Mengapa Modul harus didesain menggunakan langkah-langkah (sintaks) pembelajaran, dalam hal ini sintaks yang dikembangkan oleh Gagne? Tidak lain, karena sintaks pembelajaran Gagne tersebut dipandang paling lengkap dan mampu menciptakan “kondisi eksternal” (external conditions) yang dibutuhkan oleh pebelajar agar peristiwa-peristiwa belajar tercipta, dan tujuan atau capaian belajar bisa diraih. Terutama tujuan atau capaian belajar berupa penguasaan informasi verbal, dan keterampilan intelektual melalui aktivitas belajar mandiri.

Sintaks pembelajaran Gagne ini juga sangat akomodatif diterapkan terutama bagi mahasiswa yang sama sekali tidak mengikuti layanan bantuan belajar (tutorial), dimana proses belajar mereka dilakukan secara mandiri oleh subjek belajar (self-determined learning) tanpa bantuan atau fasilitasi orang lain.

Jadi, sejatinya, BMP/Modul UT secara metodologis dan sintaksis berbeda dengan buku-buku pelajaran yang lain (misal. buku paket, buku ajar). Apalagi dibandingkan dengan buku referensi, yang tujuannya memang sebagai buku penunjang. BMP/Modul bagi mahasiswa UT berperan sebagai “pebelajar” (guru/disen) bagi setiap mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mandirinya.

Dengan kata lain, BMP/Modul UT di dalamnya memuat tiga unsur pokok pembelajaran, yaitu sintaks/sekuensi pembelajaran, materi/konten pembelajaran, dan konteks pembelajaran.

Bagaimana sekuensi/sintaksis sembilan peristiwa belajar Gagne menyatu dengan unsur konten dan konteks pembelajaran tersebut di dalam Bahan Ajar (BMP/Modul) UT, dapat dijelaskan sebagai berikut. 

Event 1: Gaining Attention (Reception)

Event ini ditandai dengan adanya fenomena ketertarikan minat, perhatian dan penerimaan pebelajar, sehingga tercipta iklim pembelajaran yang interaktif.

Di dalam modul UT, event ini diterjadikan dengan menyajikan “Tinjauan Mata Kuliah” dan “Pendahuluan” yang disajikan di awal modul sebelum mahasiswa mempelajari lebih jauh materi modul. Tinjauan mata kuliah dan pendahuluan memuat keseluruhan lingkup/cakupan isi modul (materi/tugas pembelajaran) yang akan dipelajari atau dikerjakan mahasiswa selama semester untuk setiap matakuliah; sifat dan karakteristik mata kuliah; dan keterkaitan dengan mata kuliah lain yang dipelajari mahasiswa.

Event 2: Informing the Objective (Expectancy)

Event ini ditandai dengan terciptanya pengertian dan kesadaran pebelajar atas tujuan atau capaian pembelajaran yang akan diraih setelah mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran.

Di dalam modul UT, event ini diterjadikan dengan menyajikan “Peta Kompetensi Mata Kuliah” yang memuat struktur kompetensi dan rumusan “Capaian Pebelajaran Mata Kuliah (CPMK)” yang akan dicapai oleh setiap mahasiswa setelah mempelajari keseluruhan BMP. Fase ini terdapat di bagian “Tinjauan Mata Kuliah” dan “Pendahuluan”. Selain itu, di setiap awal modul juga terdapat rumusan “sub-sub kompetensi” (sub CPMK) yang akan dicapai oleh setiap mahasiswa setelah mempelajari setiap modul (setiap BMP terdiri dari beberapa modul yang jumlahnya tergantung besaran sks). 

Event 3: Stimulating Recall of Prior Learning (Retrieval)

Event ini ditandai dengan terciptanya kaitan konseptual antara materi/informasi yang sudah dipelajari dengan materi/informasi baru yang akan dipelajari dalam rangka pembentukan pengetahuan baru di dalam skemata pebelajar.

Di dalam modul UT, event ini diterjadikan dengan memberikan materi/tugas pembelajaran stimulatif yang memiliki kaitkan dengan pengalaman siswa dan/atau materi/tugas yang sama sekali baru. Tujuannya adalah untuk menstimulasi pebelajar untuk mengingat materi/tugas yang pernah dipelajari sebelumnya; dan memfasilitasi mahasiswa untuk membangun peta pikiran dan skemata pengetahuan awal.

Stimulasi berupa apersepsi dalam bentuk materi/tugas (konsep, aturan, keterampilan, dll.) yang pernah dipelajari sebelumnya yang memiliki kaitan konseptual dengan mata kuliah yang akan dipelajari. Apersepsi juga dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pemicu atau mengulang.

Aktivitas ini selain diberikan di bagian awal setiap Kegiatan Kelajar (KB), juga diberikan di tengah-tengah sajian, ketika akan disajikan materi selanjutnya, di KB yang sama.

Event 4: Presenting the Stimulus (Selective Perception)

Event ini ditandai dengan adanya perolehan informasi/pengetahuan/keterampilan baru yang berhasil dikonstruksi/direkonstruksi di dalam skemata pebelajar selama proses pembelajaran berlangsung. 

Di dalam modul UT, event ini diterjadikan dengan memberikan sajian materi/tugas/praktik yang harus dipelajari/dikerjakan oleh mahasiswa selama proses belajar (mandiri dan/atau tutorial). Sajian materi berupa deskripsi/narasi tekstual, tabel, grafik, diagram, dan/atau gambar dari sebuah konsep, teori, dll., yang diharapkan dapat menstimulasi dan memfasilitasi pebelajar di dalam memahami materi/tugas/praktik yang diberikan, serta dalam rangka untuk meningkatkan ketahanan (retensi) hasil belajarnya.

Materi sajian diorganisasi secara logis, sistematis, dan hierarkis dari informasi/pengetahuan/keterampilan/ kompetensi yang mudah/rendah ke yang sukar/tinggi. Materi dipilah-pilah ke dalam modul-modul yang jumlahnya sesuai dengan besaran sks. 1(satu) sks terdiri dari 3(tiga) modul. Jadi jika sebuah mata kuliah memiliki 4 sks = 12 modul, untuk 3 sks = 9 modul, dan 2 sks = 6 modul. Fase pembelajaran ini merupakan substansi terbanyak di dalam modul UT.

Setiap modul terdiri dari 2—3 “Kegiatan Belajar (KB),” dimana setiap kegiatan belajar (KB) diorganisasi dalam bentuk pokok bahasan dan sub-pokok bahasan yang sejatinya merupakan konsep-konsep esensial atau materi-materi praktik/praktikum yang harus dipelajari/dipraktikkan oleh mahasiswa. Semua materi/tugas/praktik tersebut dikembangkan untuk mencapai kompetensi atau CP-MK yang telah ditetapkan untuk setiap mata kuliah.

Selain itu, materi/tugas/praktik di dalam Modul UT dikembangkan atas dasar prinsip “self-contained”, dimana semua materi/tugas/praktik yang dibutuhkan mahasiswa untuk menguasai setiap kompetensi atau capaian pembelajaran tertentu sudah tercakup di dalam modul secara utuh. Materi/konten modul UT juga tidak bergantung pada materi lain di luar modul (stand alone), dan bisa dipelajari sendiri oleh mahasiswa tanpa kehadiran dosen/tutor (self-instructional material).

Event 5: Providing Learning Guidance (Semantic Encoding)

Event ini ditandai dengan kemampuan pebelajar menyelesaikan/mengerjakan materi/tugas pembelajaran dan/atau tugas/praktik secara efektif, terarah, dan bermakna.

Di dalam modul UT, event ini diterjadikan dengan memberikan materi/tugas pembelajaran yang memiliki kaitkan dengan pengalaman siswa dan/atau materi/tugas yang sama sekali baru.

Selain itu, modul juga menyediakan (1) Contoh dan Non-contoh, untuk memandu mahasiswa mengerti dengan baik dan benar, mana yang termasuk contoh dan non-contoh dari konsep/teori yang dijelaskan di dalam modul; (2) Petunjuk Jawaban Latihan, untuk memandu mahasiswa bisa menjawab/mengerjakan latihan dengan baik, dengan menyediakan pokok-pokok jawaban yang benar (semacam rubrik); dan (3) Kunci Jawaban, untuk membantu mahasiswa mengetahui/mengasses tingkat penguasaan materi/tugas.

Untuk mata kuliah praktik/praktikum, modul juga menyediakan panduan atau petunjuk di dalam mempelajari materi/tugas pembelajaran dan/atau tugas/praktik yang perlu dilakukan oleh mahasiswa. Tujuannya adalah agar proses penyelesaian tugas/praktik/praktikum efektif, terarah, dan bermakna.

Event 6: Eliciting Performance (Responding)

Event ini ditandai dengan adanya respon atau jawaban yang semakin baik atau meningkat dari pebelajar setelah memperoleh materi/tugas/kegiatan pembelajaran. 

Di dalam modul UT, event ini diterjadikan dengan memberikan “Latihan” berupa “Aktivitas” dan “Tugas Individu” yang perlu dilakukan/dikerjakan oleh mahasiswa untuk memperdalam dan menguatkan penguasaan mahasiswa terhadap materi/tugas yang telah dipelajari dan dipraktikkan.

Latihan-latihan individual tersebut diberikan pada setiap Kegiatan Belajar, dimana setiap modul paling tidak memuat 2-3 latihan individual yang perlu dikerjakan oleh mahasiswa. Selain itu, juga disediakan petunjuk latihan yang berisikan bagaimana mahasiswa bisa mengerjakan latihan tersebut dengan baik dan benar.

Modul juga memberikan arahan atau petunjuk apabila mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan latihan atau tugas individu, disarankan untuk membaca kembali materi dalam modul yang berkaitan dengan soal/tugas dan mendiskusikannya dengan mahasiswa lain dan/atau tutor.

Event 7: Providing Feedback (Reinforcement)

Event ini ditandai dengan terjadinya penguatan penguasaan pebelajar atas materi/tugas/praktik yang disudah dipelajari dan dipraktikkan selama proses pembelajaran.

Di dalam modul UT, event ini diterjadikan dengan memberikan balikan terhadap tugas-tugas individual dan tes formatif yang dikerjakan/diselesaikan oleh mahasiswa. Balikan berupa informasi “apa yang seharusnya dilakukan mahasiswa” jika hasil dari latihan individual (aktivitas dan tugas) dan tes formatif kurang memenuhi kompetensi atau capaian pembelajaran yang ditetapkan.

Contoh balikan di dalam modul seperti berikut: “Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, “Bagus”. Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar selanjutnya. Jika masih di bawah 80% Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar ini, terutama bagian yang belum dikuasai”.

Event 8: Assessing Performance (Retrieval)

Event ini ditandai dengan terbentuknya kinerja/performa pebelajar yang merupakan produk atau hasil dari pembelajaran. Performa/kinerja ini diketahui dari hasil pengukuran ketercapaian indikator-indikator dari tujuan belajar, kompetensi atau capaian pembelajaran tertentu di akhir pembelajaran.

Di dalam modul UT, event ini diterjadikan dengan memberikan “Tes Formatif” di akhir setiap sajian modul. Tujuannya adalah untuk mengukur tingkat penguasaan mahasiswa terhadap materi/tugas yang sudah dipelajari. Tes formatif juga dilengkapi dengan pedoman penskoran “tingkat penguasaan” yang merupakan hasil bagi antara jumlah jawaban benar dan jumlah soal, dikalikan 100%. Tingkat penguasaan antara 90-100%  baik sekali; 80-89% = baik; 70-79% = cukup; dan <70% = kurang (artinya, mahasiswa diharapkan mempelajari kembali materi/tugas yang belum dikuasai dengan baik).

Semua tes formatif disusun dalam bentuk tes objektif (pilhan ganda). Jumlah dan butir-butir soal tes formatif dikembangkan mengacu pada CPKM dan sub-sub CPMK matakuliah.

Event 9: Enhancing Retention and Transfer (Generalization)

Event ini ditandai dengan meningkatnya ketahanan dan keteralihan hasil belajar yang telah diperoleh untuk selanjutnya diterapkan ke dalam situasi baru.

Di dalam modul UT, event ini diterjadikan dengan memberikan (1) Tugas/Latihan Individual, dalam berbagai konteks berbeda (fenomena, masalah, kasus, objek, dll.); (2) Rangkuman, untuk membantu/memfasilitasi mahasiswa memahami secara utuh konten yang sudah dipelajari; (3) Glosarium, untuk membantu mahasiswa mengerti istilah-istilah atau konsep-konsep penting yang dibahas di dalam modul. Rangkuman dan Glosarium diletakkan di bagian akhir setiap modul; dan (4) Daftar Pustaka, yang digunakan di dalam menyusun materi modul, dan bisa digunakan pula oleh mahasiswa untuk meningkatkan penuasaan dan retensi belajar.

Tujuannya, selain untuk memperdalam dan menguatkan penguasaan mahasiswa terhadap materi/tugas yang telah dipelajari dan dipraktikkan (eliciting performance); juga dimaksudkan agar mahasiswa mampu menerapkan atau mengaplikasikan pengetahuan/keterampilan yang sudah diperoleh ke dalam situasi baru (masalah, kasus, konteks, dll.).

Itulah gambaran bagaimana teori belajar (sembilan peristiwa belajar) Gagne diakomodasi di dalam mendesain konstruksi bahan ajar UT.  

Sejalan dengan perkembangan teknologi PJJ yang saat ini telah memasuki era “intelligent flexible learning” berbasis teknologi otomasi dan interaktivitas internet (Generasi 5) (Taylor, 2001), UT sedang mengembangkan Bahan Ajar Digital Interaktif / BADI (Interactive Digital Learning Material) yang diharapkan bisa mensinergikan antara “teknologi” PJJ generasi ke-5 dengan “pedagogi” konektivisme (Anderson & Dron, 2010).

Pengembangan generasi baru BADI-UT ini, diharapkan akan lebih berdaya di dalam memfasilitasi mahasiswa dalam rangka membangun, menciptakan, dan memelihara jaringan dan kumpulan (networks and collectives) antara informasi (content), narahubung (people), dan sumber-sumber belajar (digital artifacts) secara terbuka dan fleksibel.

Semoga.

***