Machiavelli

Bagaimana memilih menteri, Machiavelli memberi resep jitu. Penguasa akan dipandang bijaksana, bila para menterinya cakap dan setia. Bila sebaliknya, maka penguasa akan dicekam dan dicemooh.

Senin, 14 September 2020 | 06:12 WIB
0
28
Machiavelli
Il Principie (Foto: Dok. pribadi)

Machiavelli banyak disalahmengerti!

Disyak-wasangka mengajarkan berbagai cara bisa ditempuh mencapai ambisi politik. Padahal apa yang ditulisnya merupakan refleksi, pemikiran, serta kritik atas praktik politik saat itu yang terjadi.

Baru di buku ke-3, Discorsi Di Nicolo Machiavelli, ia menyatakan bentuk pilihan pribadinya.

Tahun 1980-an, saya sudah baca buku karya Machiaveli, Sang Penguasa. Tahun 1990 baca novel Umberto Eco, yang kemudian diekranasi jadi film layar lebar, The Name of the Rose.

Siapa menduga, kemudian hari (1997) saya pernah ke Firenze tempat Machiaveli mengirimkan risalahnya ke istana Sang Penguasa dari buah hasil permenungan yang dalam atas pertanyaan: Mengapa kekuasaan itu selalu jadi barang rebutan? Apa yang menyebabkan sang penguasa jatuh?

Bertanya dan heran (thaumasia). Tergelitik dan ingin tahu jawabannya. Itulah jalan filsafat. Dan Machiavelli pun menyendiri. Ia menulis risalah, hasil olah pikirnya pada fakta dan praktik politik yang terjadi yang diamatinya. Ia kirimkan naskah-naskah itu ke Istana di kota Firenze.

Saya sungguh ingin menjejak, dan mengamati kota sejarah dan legendaris ini. Maka terjadilah. Kemudian, saya tinggal selama seminggu di Bologna, universitas termashyur tempat Umberto Eco -salah satu semiotisian- mengajar di Universitas Bologna. Namun, saya hanya menulis Machiavelli. Tentang Ecco, akan ada satu nukilan nantinya menyusul di tulisan lain.

Khusus tentang Machiavelli, banyak orang keliru.

Nama lengkapnya: Niccolo Bernardo Machiavelli (1469-1527). Banyak disalahmengertikan. Dikira mengajarkan politik kekuasaan yang "menghalalkan segala cara", padahal tidak!

Dalam Il Principe, buah renungannya mengapa penguasa jatuh? Ia mengemukakan apa yang nyata-nyata, bukan apa yang seharusnya terjadi. Di sebuah rumah-desa Santa Andrea, Machiavelli menulis buku hasil perenungan yang menjadi topik perbincangan dan diskursus banyak orang ketika itu; bahkan hingga kini.

Orang membaca Il Principe, hanya mafhum Machiavelli mengajarkan politik adalah arena sekaligus cara merebut kekuasaan. Padahal, tidak. Di buku ini, ia hanya membeberkan, tidak menyatakan opininya sendiri. Baru di buku DIscorsi, ia menyatakan bentuk pilihan pribadinya.

Buku Machiavelli yakni:

1. Il Prncipe
2. L 'Arte della Guerra
3. Discorsi Di Nicolo Machiavelli.
4. Mandragola.

Hal yang menarik dalam Discorsi, Machiavelli membeberkan 6 bentuk pemerintahan, yakni: 1) Principato (kerajaan) 2) Ottimati (aristokrasi), 3) Popolare (demokrasi kerakyatan) 4) Tirannia (tirani), 5) Stato di pochi (oligarki), dan 6) Licenzioso (anarki).

Yang manakah dari ke-6 itu yang paling baik? Tak satu pun!

Bahkan jika demokrasi itu jatuh ke tangan rakyat sekalipun! Yang terbaik adalah: Kombinasi dari ke-6-nya. Karena saling mengontrol dan menyimbangkan satu sama lain. Contoh: Republik Roma 502-27 SM.

Saripati buku Discorsi: PERSELISIHAN RAKYAT JELATA/ BIASA DENGAN KALANGAN ATAS ATAU SENAT (DPR) JUSTRU AKAN MELANGGENGKAN KEKUASAAN TERDAHULU DAN MEMBUAT PETUALANG POLITIK MAKIN KUAT.

Orang membaca Il Principe, hanya mafhum Machiavelli mengajarkan politik adalah arena sekaligus cara merebut kekuasaan. Padahal, tidak. Di buku ini, ia hanya membeberkan, tidak menyatakan opininya sendiri. Baru di buku Discorsi, ia menyatakan bentuk pilihan pribadinya.

Sesiapa pun yang menggeluti dan meminati politik, tentu sangat akrab dengan nama Niccolo di Bernardo Machiaveli (1469-1527). Machiavelli adalah tokoh kontroversial, sekaligus pelopor ilmu politik modern.

Semasa hidupnya, Machiavelli menulis sekurang-kurangnya empat buku politik: Il Principe, L’Arte della Guerra, Madragola, dan Discorsi di Nicolo’ Machiavelli. Entah Kenapa, di kemudian hari hanya untuk buku pertama dan keempat yang paling populer. Bahkan, jadi buku pengangan dan bacaan wajib para penguasa.

Disebut pelopor ilmu politik modern, karena pertama kali dalam sejarah Machiavelli secara sistematis menuliskan pengamatan dan analisisnya, menjadi buku. Ketika diangkat jadi Sekretaris Dewan 10 dan Wakil Kanselir Republik Firenze pada 1498, ia sudah intens mengamati masalah kemiliteran.

Tugasnya sebagai diplomat, kemudian membuatnya menjadi semakin cermat mengamati kekuatan dan kelemahan penguasa berbagai negeri serta bagaimana cara-cara mereka menjadikan pemerintahan. Semua itu dijadikannya bahan bagi karya-karyanya kemudian, begitu ia terjungkal dan tersingkir dari jabatan oleh Wangsa Medici, menyusul kekalahan tentara republik pada tahun 1512.

Penguasa akan dipandang bijaksana, bila para menterinya cakap dan setia. Tetapi bila sebaliknya, maka penguasa akan dicela dan dicemooh.

Semasa Machiavelli hidup, di Firenze ada satu keluarga kaya raya dari dinasti Medici. Sejak 1512, Lorenzo de Medici, putra Piero, sudah berpengaruh di kota itu. Ia membangun Palazzo Vecchio (Bina Graha), terletak di Piazza della Signoria. Dari gedung inilah Madici mengendalikan seluruh aktivitas Firenze. Ke gedung penting itulah Machiavelli mengirimkan naskah politiknya berjudul Il Principe (Sang Penguasa) dengan harapan, kelak di diangkat jadi pejabat.

Machiavelli memang lalu diangkat jadi pejabat Firenze, sebagai Sekretaris Dewan 10 dan Wakil Kanselir Republik Firenze. Ini terjadi pada 1498. Namun, setelah wangsa Medici runtuh dan pasukan Spanyol menduduki Firenze pada 1512, Machiavelli dijebloskan ke penjara.

"Tak mungkin republik bisa berjalan tanpa adanya kebebasan."

Berkat bantuan sahabatnya, Machiavelli berhasil dibebaskan. Tak tahan dengan keadaan kota Firenze, Machiavelli lalu “bertapa” di sebuah desa sunyi sepi. Di situ ia menulis banyak buku.

Sebuah pertanyaan mengusik Machiavelli: mengapa penguasa bisa runtuh? Semakin mencari jawabnya, kian penasaran Machiavelli. Dibantu referensi buku-buku klasik, Machiavelli akhirnya menyimpulkan, penguasa hanya bisa langgeng kalau bertumpu pada rakyat (plebeian).

Sementara itu, di Roma, tahun 466 SM kaum plebeian sudah tersohor. Oleh penguasa, plebeian dianggap sebagai ancaman, stabilitas nasional. Kaum plebeian di Roma mirip dengan gerakan rakyat di Indonesia saat ini yang terus menuntut reformasi. Sama dengan rakyat kita, kaum plebeian di Roma saat itu pun menuntut perubahan total dan adanya kebebasan.

Adagium yang diterima saat itu adalah, tak mungkin republik bisa berjalan tanpa adanya kebebasan. Penguasa tidak mungkin menjamin kebebasan. Hanya rakyatlah yang bisa menjamin kebebasan itu. Maka kekuasaan harus berada di tangan rakyat. Plebeian harus tampil di pentas politik!

Baca Juga: Genderang Machiavellian di Latar Panggung Perampokan Buku dan Provokasi Posko Solo

Karya Machiavelli banyak salah dimengerti. Seakan-akan dia mengajarkan bahwa dalam politik berlaku rumusan “tujuan menghalalkan segala cara”. Padahal kalau dicermati, ia hanya menuliskan saja apa yang nyata-nyata dilakukan seorang penguasa dalam merebut, mempertahankan, dan apa yang harus dilakukan apabila kehilangan kekuasaan. Jadi, bukan apa yang seharusnya dilakukan penguasa.

Tidak mengherankan, apa yang nyata dilakukan penguasa sering kejam. Dan itu bukanlah kesalahan Machiavelli, tapi melulu tanggung jawab sang penguasa. Sebab pilihan moral Machiavelli bertolak belakang dengan yang dilakukan penguasa.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, ia mengidealkan kedaulatan berada di tangan rakyat, yakni republic (res publica).
Kedaulatan rakyat yang diidealkan Machiavelli, dalam arti sesungguhnya. Di mana, dalam suatu negara rakyat menjadi pemegang kekuasaan tertinggi. Dapat terjadi, meski berbentuk republik, dalam praktinya negara itu dijalankan seperti kerajaan.

Bukan hal yang mustahil, bila sebuah negara kerajaan diatur atas dasar semangat kerakyatan dan sebaliknya di negara republik kekuasaannya dijalankan secara mutlak dan tak terbatas.

Menurut Machiavelli, negara republik dapat saja berubah jadi monarki, apabila wewenang penguasa tunggal sangat besar dan bersifat mutlak. Ia memiliki kekuasaan untuk memilih dan memecat menteri, pimpinan angkatan bersenjata, dan seluruh bawahannya, tanpa ada yang berani mengganggu gugat.

Untuk melanggengkan kekuasaan, Machiavelli berpesan supaya penguasa memiliki angkatan bersenjata (perang) sendiri, yang loyalitasnya teruji. Di dalam menjalankan keputusan yang berdampak kurang baik bagi rakyat maupun bawahannya, penguasa hendaknya menggunakan tangan orang lain, dalam hal ini militer.

Sebaliknya, jika tindakan itu baik dan mendatangkan pujian, sebaiknya penguasa melakukannya sendiri.

Baca Juga: Para Machiavellian Itu

Penguasa yang sukses menerapkan prinsip itu, ialah Kaisar Severus (222-235). Ia memerintah Roma sampai akhir hayatnya. Kekuasaannya langgeng, karena Severus tetap menjaga hubungan baik dengan kelompok yang paling berpengaruh, yaitu militer. Rakyat yang tertindas dan lemah, takut melawannya.

Bagaimana memilih menteri, Machiavelli pun memberi resep jitu. Penguasa akan dipandang bijaksana, bila para menterinya cakap dan setia. Tetapi bila sebaliknya yang terjadi, maka penguasa akan dicekam dan dicemooh.

Agar para menteri setia, penguasa harus memberi kehormatan, kekayaan, dan tanggung jawab besar. Penguasa juga harus mampu membuat para menterinya merasa berutang budi padanya. Sebab, para menteri yang telah kenyang dengan harta dan kehormatan, serta mengurus begitu banyak tugas negara, tidak akan pernah menginginkan apalagi memikirkan perubahan kekuasaan.

***