Asal Muasal Kompas [8] Dijaga Resimen Mahajaya

Untuk memperkokoh posisinya sebagai koran beroplah terbesar], tahun 1971 sirkulasi Kompas diaudit Akuntan Publik Drs. Utomo & Mulia yang berubah menjadi SGV Utomo.

Kamis, 9 Mei 2019 | 21:40 WIB
0
293
Asal Muasal Kompas [8] Dijaga Resimen Mahajaya
Bung Karno dan Resimen Mahasiswa (Foto: Resimen Mahasiswa)

PADA saat Kompas terbit tahun 1965, urusan nonredaksi ditangani PT Kinta yang sudah berpengalaman. Kompas hanya membayar fee setiap bulan. Begitu Kompas berkembang, beberapa tenaga disusupkan untuk ikut mengurus apakah itu sirkulasi ataupun iklan.

Akhirnya pada tahun 1969 Kompas mengakhiri kerjasama dengan PT Kinta dengan mengurus sendiri semua urusan bisnisnya, apalagi sudah punya gedung sendiri di Jalan Gajah Mada 104.

Di antara semua urusan yang diambil alih, masalah sirkulasi dan ekspedisi paling berat dilaksanakan karena di sini adalah tempat “basah”. Petugas sirkulasi saat itu bisa menentukan berapa banyak oplah hari itu dan berapa banyak kertas yang dipakai atau dibuang. Jumlah kertas putih bersih, koran kotor, kertas kotor, koran tak layak edar dan sebagainya sangat menentukan biaya yang harus dibayar Kompas ke PT Kinta, termasuk bagian yang “masuk” ke kantong beberapa petugasnya.

Pengambilalihan urusan sirkulasi benar-benar menegangkan dan merusak suasana kerja dinihari di percetakan. Beberapa petugas lama, tetap berusaha mencari kesempatan untuk mendapatkan rezeki dengan menyembunyikan koran, memainkan jumlah, bahkan menghambat pencetakan dengan mempersulit gerak petugas Kompas.

Beberapa kali sempat terjadi ketegangan yang menjurus pada bentrok fisik, sampai-sampai Willy W yang saat itu bertugas sebagai pengawas produksi, sesekali mengenakan seragam Resimen Mahajaya untuk menakut-nakuti mereka. Tentu saja hal ini seizin Pak Ojong. Maklum saat itu mahasiswa menjadi kekuatan penting dalam menggulingkan Orla sehingga resimennya cukup ditakuti. Dan rupanya upaya itu cukup ampuh.

Langkah selanjutnya mengambil alih pengiriman koran melalui pos, dan terakhir (setelah proses belajar selesai) Kompas membentuk bagian Ekspedisi yang dipimpin Maryono dan Johanes BW (terakhir menjabat sebagai Direktur Kelompok Percetakan) sebagai wakilnya. Pada malam pengambilalihan sempat terjadi ketegangan. Petugas dari Kinta yang tidak mendapat perintah tertulis dari atasannya, menolak pengalihan tersebut. Masalah selesai manakala Pak Ojong malam itu datang dan memberi penjelasan.

Baca Juga: Asal Muasal Kompas [1] Pintu Besar Selatan

Untuk memantau organ baru tersebut, setiap malam pimpinan Kompas secara bergantian datang ke percetakan. Gerald Djoko Tunggono (alm), Kepala Tata Usaha yang juga membawahi bagian sirkulasi, hampir setiap malam bergadang di percetakan, menampung dan memecahkan masalah yang muncul.

Pak Ojong sendiri sering berada di percetakan sekitar pukul 02.00 atau 03.00 untuk memantau pelaksanaan produksi dan sirkulasi. Kehadiran mereka itu yang antara lain memuluskan proses pengambilalihan urusan bisnis dari PT Kinta.

***

KOMPAS awal terbit 4 (empat) halaman dan dicetak di Kramat Raya, tempat pencetakan koran Karya Bhakti dan bekas milik koran Abadi. Sebulan kemudian pindah ke percetakan Masa Merdeka, tempat Harian Angkatan Bersenjata dicetak di Petojo. Begitu pindah, oplah langsung naik dari awal terbit sebanyak 4.826 menjadi 8.003 eksemplar.

Ketika gerakan PKI dengan Gestapu-nya dikalahkan dan beberapa koran berbau komunis dibreidel, Kompas pun pindah percetakan ke PT Kinta menggantikan waktu cetak Harian Suluh Indonesia. Setelah mendapat waktu leluasa untuk mencetak, oplah pun terus naik.

Pada bulan November 1965 oplah mencapai 23.268 eksemplar dan setahun kemudian (Juni 1966) sudah menjadi 45.161 eksemplar. Pelonjakan oplah tersebut antara lain juga karena adanya order istimewa dari ABRI yang disebarkan gratis atau setengah gratis.

Seiring dengan kemajuan oplah dan permintaan, pada tahun 1969 Kompas terbit delapan halaman, empat halaman di antaranya dicetak pagi hari. Ketika itu oplah Kompas sekitar 60.000 eksemplar. Percetakan Kinta pun akhirnya tak mampu mencetak seluruh oplah Kompas sehingga koran itu dicetak juga di percetakan PT Surya Praba, Jalan Asemka, daerah Kota.

Waktu cetak untuk Kompas di PT Surya Praba pukul 24.00 hingga 03.00, setelah itu mesin digunakan untuk mencetak Harian Berita Yudha. Seringkali koran belum selesai cetak sudah harus “diturunkan” dari mesin karena waktunya habis, istilah yang digunakan saat itu, Kompas anjlog. Maklum ketika itu oplah Berita Yudha sekitar 65.000 eksemplar.

Ketika Kompas sering “anjlog” maka pencetakan lanjutan pun dilakukan di PT Surya Praba. Begitu “diturunkan” karena waktu habis, maka petugas ekspedisi pun membawa gulungan (rol) kertas dari percetakan Kinta ke Surya Praba sejauh sekitar tiga kilometer. Gulungan kertas dalam bentuk rol yang beratnya sekitar 450 kg itu dinaikkan mobil pickup tanpa peralatan khusus selain papan penghubung. Bisa dibayangkan betapa berat kerja fisik petugas sirkulasi saat itu, apalagi jika hujan turun.

Menjelang perpindahan ke percetakan PT Gramedia di Palmerah Selatan tahun 1972, Kompas sempat harus dicetak di tiga tempat dalam tiga waktu yang berbeda. Maklum semua mesin cetak waktu itu hanya mampu mencetak empat halaman. Selain di Kinta dan Surya Praba, Kompas juga dicetak di PT Jakarta Press, Jalan Gunung Sahari. Maklum ketika itu oplah sudah di atas 100.000 dan setiap hari terbit 12 halaman. Bisa dibayangkan kesibukan bagian ekspedisi karena harus menyusun koran 12 halaman yang setiap lembarnya (4 halaman) dicetak di tempat berbeda.

Harian Pos Kota yang terbit pada tahun 1972 secara tidak langsung banyak membantu penyebaran Kompas. Loper membawa Kompas bersama Pos Kota keluar masuk kampung, membuat Kompas semakin luas dikenal masyarakat. Di sini penjualan eceran berkembang pesat dan menembus pendapat bahwa Kompas bacaan orang kaya.

Untuk memperkokoh posisinya sebagai koran beroplah terbesar di Indonesia, pada tahun 1971 sirkulasi Kompas diaudit oleh Akuntan Publik Drs. Utomo & Mulia yang kemudian hari berubah menjadi SGV Utomo. Akuntan ini dipilih oleh tiga biro iklan di Indonesia saat itu yaitu PT Biro Iklan (Bandung), InterVista, dan Lintas. Angka-angka hasil audit ini disebarluaskan ke biro-biro iklan dan pemasang iklan serta diperbarui tiga bulan sekali.

Dari data ini, pemasang iklan dapat menghitung seberapa banyak orang yang membaca iklannya jika dimuat di Kompas. Apalagi melalui audit, Kompas sudah memberikan data oplah yang sebenarnya. Di sinilah titik lepas landas oplah dan iklan Kompas.

Dampaknya, beberapa koran protes keras, mereka tidak berani melakukan audit karena sejak awal tidak memberikan data yang sebenarnya kepada pembaca dan pemasang iklan. Oplah pun melaju meninggalkan koran-koran unggulan, termasuk Sinar Harapan dan Berita Yudha.

Pada Desember tahun 1978 Kompas masuk sebagai anggota Audit Burreau of Circulations (ABC), yang berkedudukan di Sydney, Australia. Langkah ini diambil setelah Kurnia Munaba yang saat itu menjadi Kepala Bagian Kontrol bertemu dengan pimpinan Straits Times di Singapura.

ABC merupakan badan internasional yang dibentuk para penerbit, pemasang iklan, dan biro-biro iklan dengan maksud mencatat dan menyiarkan angka-angka sirkulasi yang benar dari para anggotanya.

Lalu bagaimana Kompas bisa menyebar ke luar kota?

(Bersambung)

Mamak Sutamat, wartawan purnatugas Harian Kompas 1970-2004.

***

Tulisan sebelumnya:  Asal Muasal Kompas [7] Palmerah Selatan

Asal Muasal Kompas [7] Palmerah Selatan