Begini Rasanya Jadi Pengungsi Palestina Selama 70 Tahun di Lebanon

Sabtu, 9 Juni 2018 | 23:24 WIB
0
58
Begini Rasanya Jadi Pengungsi Palestina Selama 70 Tahun di Lebanon

Saya membaca tulisan wartawan "Al Jazeera INews," Farah Najjar pagi ini. Cerita mengharukan dari Kamp Pengungsian Palestina  di Libanon, yang jika kita lihat di peta, wilayah ini berbatasan dengan Israel dan Palestina, juga dengan Suriah.

Sudah tentu cerita ini diungkap masih ada kaitan dengan 70 tahun bangsa Palestina terusir dari wilayahnya sendiri oleh kaum zionis Yahudi yang memerdekakan dirinya tahun 1948. Sebaliknya inilah yang dialami bangsa Palestina, "terusir," dari tanah airnya sendiri yang populer dengan istilah "Nakba."

Tujuh puluh tahun waktu itu telah berlalu. Terusirnya warga Palestina dari wilayahnya sejak tahun 1947-1949 sekitar 78 persen penduduk Palestina yang ada waktu itu.

Sekitar 530 rumah warga Palestina dihancurkan pasukan Israel. Waktu itu lebih dari 100.000 bangsa Palestina mengungsi ke berbagai negara tetangganya, termasuk ke Libanon, sebuah wilayah perbatasan yang cepat dijangkau.

Zahiya Dgheim, perempuan tua yang sekarang berusia 90 tahun itu, meski terlihat sehat dan kini memiliki anak cucu itu, bersama suaminya memilih Libanon sebagai tempat pengungsian.

Ia memilih satu di antara beberapa tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah Lebanon, yaitu di Burj Barajneb, kamp pengungsi yang terletak di sebelah selatan ibukota Lebanon, Beirut.

Jangan membayangkan kamp pengungsian ini tertata rapi. Tidak. Kamp ini sudah berkali-kali hancur diserang pasukan Israel. Dibangun lagi, tetapi tetap tidak mampu mengubah nasib penghuninya, yaitu warga Palestina. Jalannya sempit, terlihat jemuran pakaian di sisi kamp. Tetapi mereka harus bertahan hingga akhir hayat, karena kemerdekaan bangsa Palestina jauh dari harapan.

Bahkan setelah Amerika Serikat (AS) menyatakan Jerusalem sebagai ibukota Israel, bangsa Palestina semakin tersisih dari tanah airnya. Sudah tentu termasuk nenek tua berusia 90 tahun bersama pengungsi Palestina lainnya, pun pengungsi Palestina di negara lain, selain Libanon.

Kini pengungsi Palestina itu tidak memiliki apa-apa lagi, selain menunggu ajal tiba. Diteruskan oleh generasi berikutnya, juga tetap berstatus sebagai pengungsi. Apakah di Libanon, mereka terganggu dengan pendidikan dan hiruk pikuk politik yang hanya memikirkan kekuasaan?

Tentu saja. Di tempat pengungsian itu terpasang bendera dari faksi-faksi di Libanon. Mulai dari Fatah, Hamas dan Fron Popular Pembebasan Palestina. Itu bendera pejuang Palestina yang berkibar-kibar di tempat pengungsian. Belum lagi bendera partai-partai yang ingin meraih kekuasaan di Libanon.

***