Wacana

Catatan Serius untuk Presiden (7) Relawan Lebih Penting Ketimbang Timses

Jokowi dan relawan (Foto: Detik.com)
Jokowi dan relawan (Foto: Detik.com)
Relawan akan menjadi ujung tombak sebagai saksi di TPS, mereka bekerja secara militan untuk memenangkan memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Jumat 7 Septmber lalu, Jokowi mengumumkan Eric Thohir sebagai Ketua Tim Sukses pasangan Jokow-Ma’ruf Amin. Banyak kalangan menilai, penunjukkan Eric Thohir sebagai Ketua Tim Sukses sangat tepat, karena di samping memiliki jaringan yang sangat luas, dia juga termasuk pengusaha sukses di berbagai bidang.

Eric juga sangat dikenal di kalangan millenial karena memilki hobby dan styling yang disukai dan dinikmati oleh kalangan anak-anak muda. Menurut catatan, fans Inter Milan di Indonesia mencapai 25 juta orang, 75 persen di antaranya adalah kelompok millenial. Intermilan adalah klub sepakbola asal Italia yang bermarkas di Milan. Inter juga beberapa kali menjadi juara Seri A Italia.

Selain itu Eric juga memiliki club basket yang berpusat di Amerika. Penggemar basket di Indonesia cukup banyak dan sebagian dari mereka adalah anak-anak muda. Intinya penunjukkan Eric Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin menjadi pilihan terbaik dan mengeleminir kekurangan yang ada serta menginduksi calon pemilih baru untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Dengan kehadiran Eric Thohir ini, praktis opini-opini di media massa bisa diperlunak. Eric Thohir adalah pemilik sejumlah stasiun televisi yang performanya cukup baik. Sebut saja TVOne dengan Program Indonesia Lawyer Clubnya. Juga stasiun televisi ANTV yang sukses dengan beberapa program hiburan dan religi.

Tulisan ini sebenarnya bukan membahas tentang detail seorang Eick Thohir tetapi catatan tentang bagaimana pasangan Jokowi -Ma’ruf Amin bisa memenangkan pertarungan pemilihan presiden yang didukung sembilan partai koalisi baru ataupun lama.

Bisa dibayangkan begitu besar energi yang dikeluarkan anggota tim sukses ini. Pasalnya, Pemilu Presiden ini berbarengan (serentak) dengan pemilhan anggota legislatif (seperti DPRD I, DPRD II, DPR Pusat serta pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah-DPD). Apalagi partai-partai peserta pemilu harus berjuang secara maksimal sehingga mampu memperoleh suara yang melewati ambang batas (parliamentary threshold) yang ditetapkan undang-undang.

Baca Juga:  Tradisi Karate (2): Pecahnya Tangan Kosong

Jika partai peserta pemilu tidak memenuhi ambang batas, maka partai tersebut tidak diperkenankan untuk mengikuti pemilu 2024.

Dalam berbagai riset, pemilu legislatif tidak berbanding lurus dengan pemilu Presiden. Tapi dalam kondisi koalisi saat ini, pelaksanaan pemilu serentak 2019 tersebut, bisa berimplikasi kepada kerja tim pemenangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Partai-partai pendukung Jokowi-KH Mak’ruf Amin berupaya memanfaatkan sebesar-besarnya figur kedua calon presiden dan calon wakil presiden ini.

Kedua tokoh ini, disadari atau tidak, memiliki magnet positif yang luar biasa untuk mendongkrak perolehan suara partai-partai pengusungnya. Sebagai contoh, tagline “Jokowi Presidenku, Nasdem Partaiku” mampu meningktatkan persentase kemenangan calon-calon walikota/bupati serta calon gubernur yang diusung partai Nasdem.

Juga begitu cerdiknya Partai Golkar memasang tagline “Go-Jo” atau Golkar Jokowi sehingga popularitas dan elektabilitas Partai Golkar dinilai paling tinggi ketimbang partai-partai lainnya selain PDIP. Padahal hubungan harmonis antara Golkar dan Jokowi ini hanya berlangsung kurang dari satu tahun yakni sejak Airlangga Hartarto terpilih sebagai sebagai Ketua Umum Golkar.

Sama seperti Nasdem, Partai Golkar juga menempati persentase kemenangan tertinggi dan menempatkan para kadernya sebagai pemenang pilkada untuk pemilihan Walikota/Bupati atau Gubernur.

“Dalam diskusi terbatas antaralumni Komunikasi Politik UI hampir bisa dipastikan bahwa partai-partai pengusung presiden (Gerindra, PDIP, Golkar, Nasdem) mendapatkan imbas perolehan, meski secara kuantitatif tidak dominan”.

Jadi apa yang didapat dari pasangan Jokowi-KH Mak’ruf Amin dengan hadirnya para tim sukses yang dibentuk itu? Jawabnya, hampir pasti tidak ada. Sekali lagi, partai-partai itu hanya “memanfaatkan” ketokohan Jokowi-KH Mak’ruf Amin. Partai-partai itu hanya sebagai pengusung, bukan memposisikan diri memenangkan pasangan Jokowi-KH Mak’ruf Amin.

Lantas, bagaimana strategi Jokowi selanjutnya sehingga bisa memenangkan pertarungan tersebut?

Baca Juga:  "Positioning" Cak Imin Segaris dengan John Naro di Zaman Soeharto

Ada dua hal yang pentig yang harus dilakukan oleh Jokowi dan Ma’ruf Amin. Pertama adalah melakukan berbagai interaksi dan komunikasi dengan semua elemen masyarakat atau yang dikenal dengan blusukan. Gaya Strategi blusukan ini sudah lama ditinggalkan khususnya oleh Jokowi. Padahal strategi blusukan ini merupakan magnet yang sangat luar biasa untuk menarik simpati masyarakat.

Gaya dan penampilan serta gestur Jokowi sangat merakyat dan yang apa adanya disukai kebanyakan rakyat. Lihatlah ketika Jokowi berkunjung ke sebuah pusat perbelanjaan moderen di Makassar, ribuan warga yang hadir di pusat perbelanjaan itu mengelu-elukan Jokowi sembari meneriakan, “Jokowi Presidenku”.

Komunikasi-komunikasi demikian harus terus dilakukan secara alami, bukan berkomunikasi lewat sebuah momentum yang direkayasa, gaya seperti ini tidak akan melekat dan hanya memunculkan perdebatan-perdebatan yang kontra produktif.

Sementara Jokowi blusukan ke berbagai elemen masyarakat, KH Ma’ruf Amin melakukan komunikasi dengan sejumlah tokoh-tokoh agama dari NU dan Muhamadiyah serta elemen-elemennya, juga termasuk melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh agama Kristen, Budha, Hindu ataupun Konghucu. Khusus di kalangan ummat Kristen, Ma’ruf Amin distigma sebagai tokoh yang menghancurkan karier politik Ahok. Karena pada posisi lain, Ahok direpresentasikan sebagai tokoh yang mewakili ummat kristiani.

Yang kedua adalah, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin ini harus menjalin komunikasi dengan ratusan dan mungkin saja ribuan kelompok relawan. Dalam catatan saya, relawan-relawan Jokowi seperti, Projo, JoSmart, Kibar, GK, JAMAN, JNIB, JC dan sejumlah relawan lainnya, sejauh ini masih berada dalam posisioning memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Hubungan pasangan ini dengan para relawan, cenderung melempem menyusul terbentuknya tim sukses dan tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Saya memprediksi para relawan inilah nantinya yang menjadi ujung tombak untuk menjadi saksi ataupun volunteer di tempat-tempat pemungutan suara. Mereka bekerja secara militan untuk memenangkan memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Baca Juga:  Masyarakat Mata Keranjang, Segala Hal Dikaitkan dengan Hubungan Intim

“Kotak suara pilpres itu tidak ada yang ngurus, karena pada saat yang bersamaan, para politisi pendukung Jokowi-Ma’ruf ini hanya sibuk dengan partainya masing-masing” kata Heri Sosiawan, Ketua Umum Relawan JoSmart.

Ada benarnya.

***