Wacana

Ahoker Kecewa Jokowi Pilih Ma’ruf, Mengapa Tidak Mahfud atau Moeldoko?

Ahokers (Foto: Turnbackhoak.com)
Ahokers (Foto: Turnbackhoak.com)
Sampai saat ini pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok masih "shock" atas keputusan Joko Widodo yang memilih Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya.

Saat mendengar dengan berdebar keputusan Presiden Jokowi memilih pasangan cawapresnya, gambaran tentang Mahfud itu sudah di depan mata, tinggal menunggu pengucapannya. Ternyata yang dibicarakan di gosip-gosip media sosial dan media online presiden memilih Ma’ruf Amin.

Bagi Ahoker sebuah pukulan berat menerima keputusan presiden. Masih terbayang saat Ma’ruf bersama dengan barisan 212 mengecam Ahok dan menuduh telah menistakan agama. Bagi Ahoker sulit menerima kenyataan Ma’ruf sang ulama penggerak gerakan bergelombang yang menjungkalkan Ahok kemudian menjadi pendamping Jokowi.

Kepada Jokowi mungkin respek tetapi dalam bayangan  Ahoker pil pahit masih tersisa di ujung lidah mereka.

Banyak yang secara spontan memilih golput, berubah haluan bahkan antipati. Tidak semangat lagi mengikuti gerak gerik politisi yang saling tikung menikung. Hitung-hitungan politik  akan membawa dampak buruk, juga preseden sejarah yang susah dihapus.

Politik itu dinamis. Idola yang didambakan dan diharapkan dapat memberi semangat ternyata terjerembab sedangkan tokoh yang tidak diharapkan tiba-tiba naik ke permukaan.

Paham

Pada saat reformasi bergulir siapa yang tahu bahwa pada belasan tahun kemudian akan muncul presiden yang bukan pelaku sejarah reformasi, bukan pula sisa orde baru atau jenderal yang dipuja-puji sebagai penyelamat keruntuhan negara.

Politik setia mengabdi di parlemen tetapi untuk menjadi orang nomor satu dalam sebuah negara; hitung-hitungannya bukan hanya punya uang, lahir dari trah (mantan presiden ) ia lahir  karena konstelasi politik bisa mengubah nasib orang demikian cepat.

Siapa tahu yang dulunya anak tukang kayu, jatuh bangun sebagai pengusaha kayu kemudian menjadi wali kota, gubernur dan akhirnya sejarah menahbiskan bahwa ia memang layak menjadi presiden meskipun dalam perjalanan banyak sekali rintangan termasuk orang-orang yang telah  berjasa menjadi pelaku sejarah, penggerak reformasi, politikus kawakan, senior, jenderal dengan jejak cemerlang di kemiliteran.

Jokowi itu fenomena termasuk juga diakui oleh orang-orang yang membencinya. Semua orang  berharap lebih. Jokowi diharapkan tidak tersandera oleh syahwat politik partai-partai politik, tetap lurus dan independen.

Tapi sungguh luar biasa godaan ketika menjadi presiden. Mafia-mafia sangat intens merusak idealisme seorang pimpinan. Iapun harus bisa tetap menjaga silaturahmi dengan orang orang yang merasa pemilik kebenaran, sebab jika melawan demo berjilid-jilid atas nama agama akan datang bergelombang.

Baca Juga:  Apa Yang Bisa Kita Pelajari dari Kasus First Travel?

Menjadi orang baik saja belum cukup, seorang presiden harus piawai memainkan bidak-bidak caturnya agar tidak terjebak dengan taktik lawan, kalau tidak ia dengan cepat akan terkapar kena skakmat.

Pendukung Ahok dan orang yang berharap lebih pada gaya pimpinan ahok tentu meradang, tapi apalah daya karena politik itu sungguh amat cair. Bisa saja kemarin sudah tergurat nyata siapa pimpinan idolanya tapi dalam hitungan detik bisa kemudian berubah. Semua karena memperhitungkan keamanan, kesepahaman meskipun harus menyingkirkan rasionalitas.

Fokus Kerja

Benci tetaplah sebuah guratan perasaan kecewa, tetapi hidup tetap harus berjalan. Jokowi sudah berhitung rumit dengan banyak alternatif. Ada yang kecewa tapi kerja belum selesai belum apa-apa. Mari antarkan saja negara ini menjadi negara yang sanggup menghadapi apapun masalah yang menghadap.

Prabowo sudah memilih, Jokowi sudah memutuskan wakil presidennya dan rakyat yang akhirnya yang menentukan siapa pemenang dari perjudian politik tersebut. Betul menurut Dahlan Iskan hidup tetap terus berjalan dan setiap orang wajib bekerja untuk memenuhi ceruk rejeki keluarganya. Kalau tidak akan percuma saja menggebu bermain politik tetapi abai terhadap kesejahteraan sendiri.

Kepada kecebong dan kampret siap-siap saja menyambut pemilihan presiden 2019 tahun depan. Berpikir saja jernih dalam memutuskan siapa pemimpin terbaik, tanya hati nurani, bukan bertanya pada tukang obat keliling. Jika tukang obat ditanya siapa yang paling baik tentu ia akan menjawab  obat sayalah yang terbaik, yang lewat, meskipun setelah makan obatnya bukannya sembuh, malah pingsan…

Optimis

Mari tatap tahun 2019 dengan optimis. Yang mampu mewujudkan masyarakat mandiri dan membuat sistem pemerintahan cepat tanggap itulah yang dipilih. Yang hanya pandai berpidato pikirkan dulu dampak negatifnya jika mengandalkan orang yang hanya pandai beretorika tetapi bukan eksekutor pemecah masalah pikir-pikir dahulu.

Baca Juga:  Ijtima’ Ulama Kedua: PAS adalah Pilihan Terbaik

Cari yang lebih realistis. Jangan menambah beban berat kehidupan diri sendiri…fokus saja pada pekerjaan hari ini…Itu sebuah nasihat hati nurani untuk orang-orang sebenarnya ingin jujur tetapi sungguh sulit melakukannya karena budaya bohong sudah membudaya.

Mengapa memilih Ma’ruf Amin sih? Bukan Mahfud atau Moeldoko sih?

Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang …(penggalan syair Ebiet G Ade)

***