Sketsa

Problem Kali (Item) Jakarta

Anies dan jaring Kali Item (Foto: IDNTimes.com)
Anies dan jaring Kali Item (Foto: IDNTimes.com)
Smart city adalah kota dengan penduduk smart, yang punya pengetahuan untuk menjaga kebersihan kota melalui perilaku yang tepat.

Pekerjaan Anies Baswedan menutup Kali Item itu konyol. Tapi bukan berarti pekerjaan Ahok dan Jokowi mengelola kali di Jakarta sudah baik. Bagi saya masih jauh dari baik. Yang banyak dikerjakan oleh mereka adalah normalisasi sungai. Pekerjaan normalisasi lebih pada perbaikan saluran, yaitu menjaga lebar dan kedalaman sungai.

Teknisnya, tepi sungai yang menyempit diperlebar, kemudian dipasangi turap. Pendangkalan karena endapan lumpur dikeruk. Tujuannya agar air bisa mengalir dengan lancar.

Selebihnya, yang dilakukan adalah mengerahkan petugas kebersihan untuk mengumpulkan sampah di kali. Ini hanya pekerjaan kasar. Pekerjaan ini hanya bisa membersihkan kali dari sampai besar yang tampak oleh mata. Air kali tetap tercemar, tidak bersih.

Air kali Jakarta tercemar berat. Kenapa itu bisa terjadi? Bayangkan saja, setiap rumah, kantor, gedung-gedung, menghasilkan air kotor. Ke mana itu dibuang? Ke got. Got mengalir ke mana? Kali! Itulah yang membuat air kali itu kotor dan busuk.

Bagaimana seharusnya? Semua air dari got seharusnya dialirkan ke tempat-tempat pengolahan limbah, yang secara teknis dikenal dengan waste water treatment plant (WWTP). Di situ air kotor itu dibersihkan. Ada banyak metodenya, para engineer sudah tahu soal itu. Setelah mencapai taraf tertentu, yang dinyatakan dalam parameter COD dan BOD barulah air itu boleh dialirkan kembali ke kali.

Kegiatan ini nyaris tidak berjalan. Kawasan perumahan tidak punya WWTP. Gedung-gedung komersial juga banyak yang melanggar ketentuan pengolahan limbah. Itulah yang mengotori kali kita. Itu masih diperparah dengan kebiasaan membuang semua kotoran di kali. Rumah-rumah gubuk berdiri di sepanjang bantaran kali. Segala bentuk perusakan kali ada di Jakarta.

Menyelesaikan masalah ini memerlukan kerja besar. Tidak sesederhana mendatangkan hocus pocus nano bubble seperti yang diberitakan di koran. Ada banyak aspek yang harus dibereskan. Di antaranya adalah:

Baca Juga:  Jokowi Mau Kirim Ketua BEM ke Asmat, Berarti "Jangan Kritik Saya"

1. Membangun WWTP. Kegiatan ini sebenarnya sedang dalam tahap perencanaan. Ini projek pemerintah pusat, yang dikelola oleh kementerian PUPR. Jakarta dibagi dalam 15 zona, setiap zona akan memiliki WWTP sendiri. Ada 2 zona yang akan segera dibangun, yaitu tahun depan, yaitu zona 2 di Pluit dan zona 6 di Duri Kosambi. Keduanya adalah projek kerja sama dengan JICA dengan biaya 8,7 T, memakai teknologi membrane bio-reactor (MBR).

2. Menegakkan hukum. Banyak pelanggaran yang dilakukan oleh bangunan komersial maupun kompleks perumahan. Bangunan-bangunan yang dibangun oleh pengembang wajib dilengkapi dengan WWTP. Kenyataannya, sangat banyak gedung yang tidak punya instalasi yang memenuhi syarat. Gedung-gedung itu juga menyedot air tanah. Kalau ini tidak ditegakkan, pembangunan WWTP tadi akan percuma, karena akan terbebani terlalu berat. Nah, bagian ini adalah porsi kerja Pemda DKI.

3. Partisipasi masyarakat. Ini juga kerja berat. Percuma saja kita punya WWTP kalau kebiasaan buang sampah ke kali tidak dihilangkan. Partisipasi kta tidak hanya itu. Yang kita buang ke got bersama air kotor juga akan berkontribusi besar dalam pengotoran kali, dan itu sering kita lakukan tanpa sadar.

Salah satu masalah dalam pengolahan air limbah adalah kandungan minyak. Minyak sangat sulit dipisahkan dari air. Perlu biaya besar untuk melakukannya, karena akan menghabiskan banyak bahan kimia. Kalau memakai membrane, dengan segera membrane itu akan tersumbat bila air limbah yang diolah mengandung kadar minyak tinggi.

Saya pernah berdiskusi dengan pihak pengelola air limbah di Jakarta. Mereka pusing mencari metode yang ampuh untuk mengatasi soal minyak ini. Kandungan minyak dalam air limbah sangat tinggi.

Dari mana sumber minyak itu? Dari sisa minyak goreng di dapur kita, dari restoran, juga dari berbagai oli bekas yang dibuang sembarangan. Selama ini Anda tidak sadar, kan?

Baca Juga:  Menyiasati Agar Bisa Tetap Salat Jumat di Norwegia

Perhatikan bahwa menjaga kebersihan kali ternyata tidak cukup hanya dengan tidak membuang sampah ke kali. Ada banyak hal lain yang tidak kita sadari, yang ikut berperan mengotori kali. Artinya, kita perlu belajar lebih banyak.

Smart city, ingat itu. Smart city bukan soal kota yang jembatan penyeberangannya dilengkapi Wifi. Smart city adalah kota dengan penduduk smart, yang punya pengetahuan untuk menjaga kebersihan kota melalui perilaku yang tepat.

Nah pertanyaannya adalah, are you a smart citizen? Jangan-jangan Anda cuma pemakai smartphone untuk ribut di media sosial, tapi dalam keseharian Anda adalah pelanggar aturan lalu lintas, buang sampah sembarangan, dan berak di kali.

***