Sketsa

Ahuat, Kisah Para Bebek Mati Kehausan di Tengah Danau

Sosok, Ahuat, Pemulung, Sampah, Kemiskinan, Etnis Tionghoa, Pontianak, Headline
Ahuat (Foto: Azwar Siregar)
Ahuat, sosok etnis Tionghoa beragama Katolik miskin di Pontianak yang pekerjaannya memulung sampah. Bagaimanapun, ia potret buruk kemiskinan negeri ini.

Siang ini saya berjalan kaki dari Homestay ke depan untuk mencari warung makan. Rutinitas saya kalau jauh dari si Anggrek Bulan, seringkali sarapan pagi saya rapel dengan makan siang atau makan siang saya rapel dengan makan malam.

Dipertigaan jalan saya sudah melihat sosok berumur dengan terbungkuk dan tanpa baju ditengah teriknya sengatan matahari sedang mengaduk-aduk gunungan sampah kecil dipinggir jalan.

Ini adalah pemandangan biasa dinegeri yang konon satu tambang emasnya saja di Papua bisa dijadikan tangga ke Bulan.

Kurang lebih satu jam kemudian selesai makan, saya pulang.

Lewat dipertigaan tadi, saya melihat sosok tua tanpa pakaian itu masih tetap khusyuk mengaduk-aduk sampah tanpa perduli dengan orang yang lalu-lalang.

Tentu saja orang yang lalu lalang dengan mobil dan motor juga tidak ada yang perduli.

Seperti kata orang-orang yang menghujat saya, kemiskinan sudah sejak lama ada di Negeri ini, terus apa masalahnya?

Saya mendekat, bau busuk sampah menyeruak.

Biasa saja, toh saya juga pernah jadi tukang sampah di Rumah Sakit Haji Adam Malik sewaktu mula-mula merantau ke Kota Medan.

Saya perhatikan sosok tua tanpa baju itu sedang asyik memilah-milah tumpukan sampah, tangannya begitu lihai memilah diantara plastik, makanan busuk sampai popok bayi yang sudah pasti berisi sesuatu yang kita semua sudah tahu.

Kaleng dan jenis plastik yang bisa dijual dibersihkannya sedangkan sisanya ditumpuk rapi untuk kemudian dia bakar sampai bersih.

Oh iya, karena trauma dituduh rasis saya harus meminta maaf karena setelah kenalan dengan beliau, ternyata beliau berbeda suku dan agama dengan saya.

Beliau Pak Ahuat, seorang pribumi suku Tionghoa beragama Katholik.

Beliau asli orang Pontianak yang tinggal disekitaran Jalan Tanjung Sari kawasan Kampus Universitas Tanjung Pura.

Baca Juga:  Dua Kali Gagal, Khofifah Harus Lebih Siap untuk Yang Ketiga Kalinya

Sudah bertahun-tahun beliau bekerja mengumpulkan sampah dikawasan perumahan penduduk didaerah sini.

Dengan modal gerobak sendiri dan iuran 30ribu setiap rumah ditambah hasil menjual hasil pilihan sampah, beliau mengantongi hampir satu juta limaratus ribuan setiap bulan.

Tentu saja ini jumlah yang sangat minim, apalagi beliau punya istri dan dua orang anak dirumah.

Saya tanya apa pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Daerah, dia bilang tidak pernah.

Sambil tersenyum Pak Ahuat bercerita, dia ikhlas menjalani hidup ini tapi meminta tolong agar harga-harga kebutuhan pokok dan perlengkapan sekolah anak bisa dibuat murah.

Saya bilang saya akan sampaikan pesan beliau ini lewat tulisan, karena saya cuma penulis pemula yang tidak punya akses terhadap kekuasaan.

Tentu saja saya sekarang adalah Ketua Partai, tapi sayang Partai Tirik Yaluk dengan semboyan kalian cuma melirik sedangkan kami akan datang memeluk, tidak lolos verifikasi.

Andai saja negeri ini diurus dengan benar oleh mereka yang berkuasa, saya yakin nasib Pak Ahuat dan ahuat-ahuat lainnya di negeri ini lebih terpelihara.

Bertemu kembali Ahuat (Foto: Azwar Siregar)
Bertemu kembali Ahuat (Foto: Azwar Siregar)

Kalau saja jatah kerja bergaji sepuluh juta yang diberikan kepada WNA asal China diberikan kepada Pak Ahuat, saya yakin masa depan anak-anaknya lebih terjaga.

Saya berdoa semoga Pak Ahuat tetap semangat.

Inilah Indonesia kita Pak Ahuat, ketika orang-orang kritis seperti saya justru dihujat karena menuntut kesejahteraan dan fungsi Pemerintah serta perlindungan Negara terhadap kehidupan yang layak bagi rakyat.

Saya justru diserang Gerombolan Penista Logika yang berusaha mengaburkan fakta kegagalan rezim sekarang dengan bertanya :¬†“Bukankah dijaman Sukarno, Suharto sampai SBY sudah banyak rakyat yang melarat, kenapa hanya Jokowi yang disalahkan?”

Saya tidak menyalahkan Jokowi, saya menyalahkan Presiden yang bertugas men-sejahterahkan rakyat dan kebetulan sekarang dijabat orang yang bernama Jokowi…

Baca Juga:  Cara Saksi Jehovah "Memasarkan" Agamanya

Sederhana saja, karena Jokowi terbukti tidak mampu, sama seperti Presiden-presiden sebelumnya, ya sudahlah kita ganti dengan calon yang lain.

Mosok dari 250 juta rakyat tidak ada yang sebagus Erdogan yang mampu menaikkan pendapatan rakyat Turki dari 33 juta pertahun menjadi 110 juta sekarang?

Dan saya Percaya seorang Prabowo Subianto akan mampu membawa banyak perubahan yang lebih baik untuk Negeri ini.

Tolong dirimu kawan dengan jangan menjadi orang bego yang justru mempermasalahkan status calon Pemimpin yang masih Jomblo.

Bagi saya yang penting, nasib rakyat jelata diperhatikan dan tidak ada lagi Pak Ahuat dan rakyat jelata lainnya yang sekarat kehausan ditengah Danau Indonesia.

***

Note Azwar Siregar: Tulisan ini dibuat seijin beliau