Romansa

Muslihat Hakim Sarmin (12) : Democrazy

Novel, Fiksi, Cerbung, Cerita Bersambung, Headline
Democrazy (Foto: UNJkita.com)

Cerita bersambung ini diadaptasi dari naskah pertunjukan Agus Noor berjudul Hakim Sarmin

“Kami menginginkan keadilan,” kata dr. Putra dengan suara mantap. “Keadilan adalah persoalan kita hari ini. Apa artinya merdeka tanpa keadilan? Apa artinya demokrasi kalau malah membuat rakyat tidak bisa menikmati keadilan?”

“Apakah selama ini kalian tidak mendapat keadilan?” tanya Pak Walikota dengan suara yang lantang. Dia menatap dr. Putra, Pak Panjaitan, dan Komandan Kuncoro secara bergantian. “Ingat Dokter, demokrasi telah memberikan kita banyak hal.”

“Betul… Terutama bagi pemimpin seperti Anda,” jawab dr. Putra. “Dalam demokrasi kita mengenal trias politica, pembagian kekuasaan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Berkat demokrasi inilah terjadi pembagian korupsi yang merata di antara 3 lembaga itu. Ini yang ongkosnya terlalu besar untuk dibayar oleh masyarakat.”

“Anda berbicara seperti itu karena ingin Pak Walikota setuju untuk mendanai Proyek Rehabilitasi, kan?” kata sekertaris walikota. “Supaya bisa memberikan keuntungan juga untuk kalian.”

“Anda pikir demokrasi bukan proyek yang didanai?” kata Pak Panjaitan sekarang buka suara. “Pikirkanlah jumlah uang yang diberikan pada LSM dan ormas, partai politik, aktivis dan intelektual, serta seniman agar mereka menyuarakan gagasan tentang demokrasi.”

“Jadi kalian menentang demokrasi?” tanya Pak Walikota.

“Secara pribadi, saya tidak anti demokrasi.” Jawab Pak Panjaitan. “Saya hanya melihat dengan kritis. Pak Walikota menikmati hikmah demokrasi. Berkat demokrasi, Pak Walikota bisa melanggengkan politik dinasti. Anda menjadi walikota karena bapak Anda juga seorang walikota yang mengkader Anda, kan? Bukan hanya politik dinasti yang dihasilkan oleh demokrasi. Namun juga korupsi dinasti.”

Pak Walikota melebarkan matanya mendengar pernyataan dari Pak Panjaitan. Penasehat hukum yang selama ini melindungi mempermudah perjalanannya menjadi walikota.

Baca Juga:  Pesta Perkawinan Amtenar Kota (Anita 5)

“Demokrasi memberi kita kesempatan untuk memilih pemimpin yang bagus, tapi kita juga harus siap bila mendapat pemimpin yang buruk,” sambung dr. Putra. “Itu adalah resiko yang tidak bisa ditolak. Bahaya dari demokrasi adalah dia memberi kepastian dan ketidakpastian pada saat yang bersamaan.”

“Apakah kita akan terus berdebat berputar-putar membicarakan demokrasi, dan lupa pada substansi yang kita perjuangkan?” tanya Komandan Kuncoro. “Substansinya adalah keadilan bagi seluruh rakyat.”

“Setuju… setuju…Keadilan hanya bisa dicapai dengan sistem hukum yang baik,” kata Pak Panjaitan.

Pak Panjaitan sepertinya merasakan kekagetan yang dialami oleh Pak Walikota. Dia kemudian mendekati Pak Walikota dan berkata, “sebagai gambaran, saya ceritakan kembali apa yang terjadi pada pemilihan walikota yang lalu. Anda sudah menghabiskan banyak dana untuk memenangkan pilkada. Lalu Anda kalah. Anda kemudian bersengketa di pengadilan. Selanjutnya Anda menyogok hakim untuk memenangkan Anda. Hasilnya, disinilah Anda sekarang.”

“Karena itulah kami harus membersihkan hakim-hakim yang korup dan tidak berpijak pada keadilan,” kata Komandan Kuncoro. “Seperti Hakim Ngatimin yang merupakan loyalis Anda.”

Pak Walikota semakin gugup. Dr. Putra, Pak Panjaitan, dan Komandan Kuncoro kini mengelilinginya seolah siap menerkam dirinya.

“Semua pembicaraan ini membuktikan bahwa kalian sudah lama merancang siasat busuk untuk menjatuhkan saya,” kata Pak Walikota dengan suara serak. Dia mencoba mengumpulkan kekuatannya yang masih tersisa untuk bisa melawan ketiga penyerangnya.

Komandan Kuncoro tertawa.

“Kami berencana untuk mengganti sistem kepemimpinan kota ini,” kata Komandan Kuncoro. “Biarlah sebaiknya pemimpin kota ini ditentukan oleh dewan hakim yang dipimpin Hakim Sarmin. Mereka akan memilih orang yang terbaik untuk memimpin kota. Kita tidak butuh pemilihan kepala daerah yang menghambur-hamburkan uang tapi menghasilkan pemimpin yang buruk dan tidak adil.”

Baca Juga:  Narapidana

Dengan cepat, Komandan Kuncoro menangkap tangan Pak Walikota dan memborgolnya di belakang. Dr. Putra sudah sejak tadi bersiap untuk menangkap sekertaris walikota. Pak Walikota dan sekertarisnya terkejut. Mereka meronta-ronta namun tidak ada gunanya. Tenaga dr. Putra dan Komandan Kuncoro lebih besar.

“Kita bawa mereka pada Hakim Sarmin,” kata Komandan Kuncoro.

(Bersambung)

***

Muslihat Hakim Sarmin (11): Tabir yang Terbuka