Romansa

Muslihat Hakim Sarmin (9): Agen 007

Novel, Cerita Bersambung, Cerbung, Fiksi, Headline
Ilustrasi 007 (Foto: Cheatsheet.com)

Cerita bersambung ini diadaptasi dari naskah pertunjukan Agus Noor berjudul Hakim Sarmin

Pak Walikota duduk termangu di ruangannya. Situasi politik dan hukum di kotanya benar-benar kacau balau. Pak Walikota nampak lelah dan sakit. Tiba-tiba ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk jendelanya. Pak Walikota tampak sangat kaget.

“Siapa itu?!” teriaknya dengan lantang.

Pak Walikota tampak siap dengan tongkat yang selalu ada di sudut ruangannya. Tak berapa lama muncul sosok bayangan yang tadi mengetuk jendela ruang kerja Pak Walikota celingukan.

“Agen 007,” desis bayangan itu.

Pak Walikota kemudian tersadar dari kekagetannya. Dia cepat-cepat membuka jendela kamarnya. Bayangan yang mengaku Agen 007 tadi segera meloncat masuk ke dalam rumah.

“Hakim Ngatiman, mengapa mengendap-ngendap?” tanya Pak Walikota sambil melotot. “Tidak bisa lewat pintu, memang?”

Ternyata Agen 007 itu adalah Hakim Ngatiman yang masuk rehabilitasi. Beliau merasa sebal karena Hakim Ngatiman membuatnya terkejut.

“Lewat pintu yang mana, Pak?” tanya Hakim Ngatiman setengah meledek. “Saya ini agen mata-mata. Orang taunya saya sedang direhabilitasi karena gila.”

Pak Walikota kemudian tersadar dan minta maaf.

“Jadi, ada berita apa?” tanya Pak Walikota.

“Yang Bapak Khawatirkan sudah terjadi,” kata Hakim Ngatiman serius.

“Bagaimana situasinya?” tanya Pak Walikota. Tangan kanan beliau memijat pelipis dan tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja.

“Pusat rehabilitasi dikuasai pasukan Hakim Sarmin. Semua pegawai di sana disekap oleh mereka,” jawab Hakim Ngatiman.

“Bagaimana dengan dr. Putra?” tanya Pak Walikota lagi dengan terbata-bata. Beliau membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada dr. Putra.

“Maaf saya belum tau,” jawab Hakim Ngatiman. “Rencananya Hakim Sarmin sendiri yang akan mengurus dr. Putra. Kemungkinan masih disekap di suatu tempat di sana.”

Hakim Ngatiman sungguh tidak tau dengan yang terjadi pada dr. Putra. Dia hanya mendapat instruksi untuk ikut membereskan staf Pusat Rehabilitasi dan dia mendengar Hakim Sarmin yang akan mengurus dr. Putra. Sampai sebelum pergi dia tidak mendengar ada yang membicarakan dr. Putra. Dia tidak berani menanyakan pada siapapun karena khawatir bisa dicurigai.

Baca Juga:  Saudara Saya Robert Lai (1): Menebus Dosa Proyek Raksasa

“Ada hal lain yang ingin kau sampaikan?” tanya Pak Walikota kini menggigiti bibir bawahnya sambil mondar-mandir.

“Berhati-hatilah pada Komandan Kuncoro,” jawab Hakim Ngatiman setelah berdiam diri sebelum memutuskan untuk berbicara.

“Apakah dia terlibat?” tanya Pak Walikota sambil memberikan tatapan tajam.

“Saya tidak yakin,” aku Hakim Ngatiman. “Namun saya mendengar namanya disebut-sebut oleh para hakim pemberontak ini.”

Pak Walikota jadi terdiam. Dia masih menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata. Hakim Ngatiman melihat dahi Pak Walikota berkerut. Nampaknya, Pak Walikota sedang berfikir keras.

Tak berapa lama, Pak Walikota dan Hakim Ngatiman mendengar derap langkah yang mendekat. Hakim Ngatiman menoleh ke arah pintu. Segera Pak Walikota membuka matanya.

“Pergilah dari sini,” titah Pak Walikota pada Hakim Ngatiman. “Selamatkan dr. Putra, bagaimanapun caranya.”

Hakim Ngatiman langsung meloncat keluar jendela dan menghilang. Tepat saat itu pintu ruangannya terbuka. Nampak sekertaris Pak Walikota dan Pak Panjaitan menyerbu masuk.

“Apakah Anda baik-baik saja?” tanya sekertaris Pak Walikota. “Saya seperti mendengar Anda berteriak tadi?”

“Aku lelah,” jawab Pak Walikota. “Tapi aku baik.”

Pak Walikota kembali duduk di kursinya mengabaikan sekertarisnya dan Pak Panjaitan yang berdiri dan saling bertukar pandangan.

(Bersambung)

***

Cerita sebelumnya:

Muslihat Hakim Sarmin (8): Muslihat Hakim Sarmin