Warga

Pulanglah Ya Habibi, Indonusi Menunggu Anta Kembali!

Rizieq Shihab, Headline, Kepualangan, Pembatalan, Arab Saudi
Rizieq Shihab (Foto: Bataraonline.com)
Kepulangan Rizieq Shihab ke Indonesia batal lagi, kali ini disertai permintaan pengacaranya agar dijemput oleh Presiden Joko Widodo.

Habib Rizieq sudah berbulan-bulan menepi sekaligus menyepi di Jazirah Arab, yaitu Arab Saudi, suatu negara padang pasir dengan suhu menyengat. Kala sedang menyengat-menyengatnya, panas suhu di sana bisa diibaratkan bagai “naro ketel gorengan dan bala-bala di atas pala”, panas luar biasa.

Tetapi Insya Allah kondisi ini tidak akan dialami Rizieq Shihab dan keluarga besarnya yang kini mukim di Arab Saudi. Jangan bayangkan mereka tinggal di dalam tenda dan berpindah-pindah menggunakan onta seperti suku bedouin di sana. Rizieq sekeluarga insya Allah tinggal di hotel yang nyaman dengan hawa dingin yang bisa disesuaikan suhunya.

Rizieq pun tidak harus pusing 7 keliling bagaimana memperpanjang visa. Sebagai keturunan Nabi, ia bakal diterima oleh Raja di sana dengan tangan terbuka.

Sifat dasar manusia adalah ingin kebebasan, tidak dimata-matai, diikuti. Intinya ingin kebebasan ke manapun pergi, seperti burung terbang di alam liar, bebas mau menlcok atau hinggap d imanapun ia suka. Untuk apa hidup enak, makan, minum disediakan tetapi terpenjara dalam sangkar emas.

Sekali lagi, itu bukan gambaran kondisi Rizieq saat ini. Kalau ia merasa tidak aman atau nyaman, meskipun hidup enak, makan, minum dan bisa tidur dengan kasur empuk yang mentul-mentul, plus penjagaan yang ketat, tetapi merasa terpenjara di negeri orang yang tidak bisa bebas melakukan aktivitas seperti negeri sendiri, yaitu Indonesia tercinta, itu gambaran orang-orang yang nyinyir dan tidak bersimpati kepadanya.

Tapi satu kenyataan yang tak terbantah, “kekayaan tak ternilai” Rizieq selama hidup di Indonesia adalah terbiasa bertemu dengan jamaahnya dan bebas memberikan tauziah atau ceramah-ceramah keagamaan dengan suara lantangnya seperti singa podium. Mengisi acara di radio, di jamaah tabligh dan tentu saja kelompok jamaahnya, Front Pembela Islam. Nah, sekarang ia tidak bisa melakukan itu di negara orang yang begitu super ketat untuk ceramah-ceramah keagamaan. Ironis, bukan?

Sudah bukan rahasia lagi menepinya atau kepergiannya Rizieq ke Arab Saudi untuk menghindari jerat hukum atas kasus yang menimpanya dan satu catatan, ingat ini, ya…. Rizieq belum tentu bersalah di mata hukum maupun di mata publik itu sendiri. Siapa yang menyalahkannya? Tidak lain perasaan Rizieq sendiri. Catat juga ini ya, Bro!

Baca Juga:  Kesempatan Emas bagi Rizieq Shihab untuk Buktikan Dirinya Tak Bersalah

Tetapi apakah kepergian Rizieq murni atas inisiatif sendiri atau ada pihak-pihak yang memberikan informasi atau masukan, yaitu lebih baik menyingkir dahulu untuk beberapa bulan atau tahun supaya suhu politik yang panas bisa menjadi dingin? Terus seberapa dingin suhu politik untuk yang disyaratkan agar Rizieq bisa kembali?

Padahal kenyataannya, setelah kepergian atau menepinya Rizieq ke Arab Saudi, suhu politik di Tanah Air relatif lebih aman terkendali atau adem ayem saja, tidak ada gejolak yang berarti. Atau menunggu Indonesia turun salju? Sebenarnya di puncak Cartensz di Papua, salju turun terus kok. ‘Kan Papua Indonesia juga. Seharusnya, Indonesia sudah turun salju.

Ada yang beranggapan Rizieq takut polisi dan takut dipenjara. Salah besar, Bro! Rizieq sudah terbiasa dengan urusan hukum. Pada zaman Presidennya Susilo Bambang Yudhoyono, dia malah pernah merasakan tidur di balik dinginnya jeruji besi.

Coba buka file-file lama, Rizieq ini pernah meringkuk di penjara dan pernah ditangkap di markas besarnya dengan dikerahkan aparat yang begitu banyak plus Barakuda Polri untuk menjemputnya, ya semasa zaman rezim SBY berkuasa itu. Hebatnya SBY, pada waktu itu tidak ada gejolak atau kerusuhan, atau misalnya masyarakat menuduh pemerintah melakukan kriminalisasi terhadap ulama, sewenang-wenang terhadap tokoh umat Islam. Ga ada, Bro!

Mungkin Rizieq waktu itu belum begitu besar dan punya pengaruh yang sangat kuat di antara para pengikutnya, tetapi sekarang menjadi tokoh sentral dan dengan sebutan Imam Besar (yang tidak diakui NU) ia punya pengikut yang banyak dari seluruh negeri ini, segala puja-puji tertuju pada junjungan Imam Besar abad ini.

Sebenarnya sebutan Imam Besar ini juga kurang tepat karena meniru sistem Imamah Syiah di mana dalam Syiah ada tokoh imam yang menjadi rujukan oleh pengikutnya. Tetapi khusus Rizieq tidak masalah toh sebutan itu hanya untuk kepentingan politik, betul?

Semakin tinggi jabatan seseorang atau semakin terkenal sesorang atau menjadi tokoh nasional, biasanya takut masuk penjara dan takut mati karena ia ingin menikmati jabatannya itu dan ketokohannya itu, ia ingin menikmati segala puja dan puji tertuju padanya, dan itu juga manusiawi sekaligus menunjukkan sifat lemah manusia.

Makanya kalau dulu Rizieq tidak takut akan penjara atau bahkan kematianpun karena waktu itu belum menjadi tokoh yang terkenal atau mempunyai nama besar, tetapi keadaan sekarang sudah berubah. Ia sudah menjadi tokoh sentral yang diperhitungkan dan menjadi rujukan di banyak pengikutnya. Wajar kalau Rizieq takut atau tidak mau berurusan dengan hukum lagi seperti dulu. Berurusan dengan hukum ada konsekuensinya, yaitu bisa masuk penjara atau lolos dari jeratan hukum.

Hal inilah yang menjadikan ia menepi atau pergi untuk sementara waktu di Arab Saudi. Ia tahu ini tidaklah enak sekalipun segala sesuatunya dilayani atau dicukupi karena seenak-enaknya di negeri orang, masih enak di negeri sendiri atau kena pepatah “hujan batu di negeri orang lebih enak hujan emas di negeri sendiri”, ya iyalah… hahaha….

Baca Juga:  Agenda Tersamar di Balik Batal Berulang Kepulangan Rizieq Shihab

Kalau mau minjem lelaguan, mungkin “Lebih baik di sini rumah kita sendiri”. Itu kata Ahmad Albar. Lebih baik tinggal di rumah sendiri, sekalipun tidak bagus atau mewah, tetapi ada kebebasan dan ketenangan untuk melakukan aktivitas.

Berita-berita kepulangan Rizieq sudah sering disampaikan oleh tim pengacaranya, tetapi tidak ada yang benar, bahkan di antara tim tersebut kadang saling berbantahan tentang kepulangan yang bersangkutan.

Mungkin sudah ada lima kali lebih berita kepulangan Rizieq, tetapi sampai sekarang juga belum pulang. Karena seringnya berita akan kepulangan Rizieq, maka masyarakat banyak yang tidak percaya berita kepulangannya. Duh, jangan sampai Rizieq disamakan dengan Bang Toyib yang ga pulang-pulang.

Di sisi lain, publik sebenarnya tidak ambil peduli, mau pulang atau enggak, bodoh amat, begitulah pendapat sebagian masyarakat. Tentu tidak bagi anggota FPI dan simpastisan Rizieq.

Beberapa hari ini juga diramaikan akan kepulangan Rizieq, bahkan spanduk-spanduk terpasang di mana-mana, penyambutan kepulangan dipropagandakan oleh pengikutnya, bahkan disuruh menyambut atas kepulangannya.

Perang urat syarat atas berita kepulangan Rizieq dilakukan oleh tim mereka seperti akan disambut oleh jutaan pengikutnya atau untuk menduduki atau memenuhi di bandara. Kalau setengahnya saja dari peserta 212 yang 7 juta itu, minimal ada 3,5 juta warga yang akan menjadi rantai manusia berlapis-lapis dari Bandara Soekar-Hatta ke Petamburan.

Bahkan perang urat syaraf yang terkesan merendahkan Presiden, yaitu supaya presiden Joko Widodo menyambut atas kepulangan Rizieq di Bandara Soekarno-Hata, dilakukan. Ini memang rada aneh, pergi-pergi sendiri, tidak ngomong ke Presiden atau penegak hukum, waktu pulang minta dijemput atau disambut bak Raja Salman waktu melakukan kunjungan ke Indonesia. Bukankah Rizieq bukan tamu negara yang harus dijemput kepala negara? Tapi syukurlah, ini semacam penegasan kalau dia bukanlah Jelangkung yang kalau balik malah minta diantar.

Perang urat syaraf ini akan terus ditambuh untuk menaikan posisi tawar Imam Besar dengan harapan kasusnya bisa dihentikan atau SP-3.

Ke depan, seiring pelaksanaan Pilpres 2019, berita soal ini akan terus dikemas dan dipoles untuk kepentingan politik tertentu.

Baik dan buruk ini adalah negara tercinta kita, kalau ada kekurangannya mari perbaiki bersama, jangan dirusak dengan berita-berita yang tidak benar.

 

Pulanglah ya, Habibi!