Aksara

Orang Gila Bikin Orang Waras Senewen

Buku, Orang Gila, Nikolai Gogol, KPU, Pilpres, Hak Pilih
Ilustrasi senewen (Foto: Islamidia.com)
Orang gila bisa bikin orang waras ikutan senewen. Penganiayaan ulama dan perusakan tempat ibadah yang dituduhkan pada orang gila bikin kita bingung sendiri.

Saya berkali-kali membaca cerpen Nikolai Gogol “Buku Harian Seorang Gila. Saya baca ulang lagi saat sekarang lagi ramai bicarakan orang gila. Terus terang, sampai sekarang saya nggak paham cerpen itu mau bercerita apa.

KPU keluaran tahun 2014 nampaknya lebih memahami orang gila. Atas desakan sejumlah LSM, akhirnya KPU memutuskan orang gila boleh ikutan pemilu. Landasan hukumnya, UU No 8/2012 tentang pemilu legislatif dan UU No.42/2012 tentang pemilu presiden. Dua UU itu bilang, peserta pemilu adalah warga negara yang telah berusia 17 tahun atau sudah menikah. Mau gila atau tidak, nggak disebutkan. Tapi mengacu pada konvensi hak-hak penyandang distabilitas, maka tidak boleh ada diskriminasi pada penderita penyakit fisik. Kira-kira begitulah.

Berbeda dengan kewajiban mengerjakan sholat bagi muslim. Wajib sholat bagi muslimin dan muslimat yang telah akil balig. Tapi pada syarat dan rukun sholat, orang gila tidak masuk dalam daftar wajib sholat. Istilahnya, orang yang tidak berakal hingga dia berakal.

Baca Juga:  Banyak Orang Gila; Para Ulama, Ustad dan Kiyai Harus Waspada

Orang gila bisa bikin orang waras ikutan senewen. Rangkaian penganiayaan ulama dan perusakan tempat ibadah yang dituduhkan pada orang gila membuat kita bingung mau berbuat apa. Kalau mengadapi orang gila seolah jalan hukum sudah buntu. Tapi membiarkan korban berjatuhan juga bikin bara yang sewaktu-waktu akan menjadi api.

Saking senewennya, ILC sampai bikin dua kali tema yang disebabkan oleh perbuatan orang gila. Diskusi yang mestinya mencari akar masalah, atau dalam bahasa hukumnya, siapa dalang di balik orang gila, malah beralih ke soal perlunya pemahaman Pancasila, toleransi antar umat beragama, NKRI harga mati.

Bisa dipahami. Semua meyakini pasti ada dalangnya. Tapi menjawab pertanyaan, siapa dalangnya? Cuma bisa saling pandang. Bisa dimaknai bingung, bisa juga dimaknai saling curiga. Kalau sudah buntu begitu, cara yang paling populer adalah bicara soal toleransi.

Jangan mencari makna toleransi jaman now di kamus KBBI. Nggak bakal ketemu. Kata toleransi jaman now sudah ditunggangi oleh banyak kepentingan, wabil khusus kepentingan politik. Makanya jangan heran, makna toleransi versi pemerintah, versi kubu seberang dan kubu sebelahnya bisa berbeda.

Toleransi sudah diobral dengan harga murah. Makanya nggak heran, ketika ada orang gila –setidaknya versi pemerintah – bikin rusuh, pernyataan yang keluar dari mulut pemerintah adalah soal pentingnya toleransi

Lha, gimana ceritanya? Pernyataan resmi pemerintah, yang bikin rusuh pada ulama dan sejumlah masjid adalah orang gila, tapi kok solusinya soal toleransi? Emangnya orang gila paham makna toleransi? Lha yang waras saja masih mencari makna yang tepat.

Itulah yang dimaksud Rocky Gerung, pemerintah miskin kosa kata ketika menghadapi persoalan kerusuhan yang bernuansa agama. Kata Fahri Hamzah, konflik antara umat beragama, akarnya bukan cuma soal toleransi, tapi juga problem sosial. Fahri mencontohkan, ada di satu daerah, konflik antar umat beragama, tapi yang dirusak bukan rumah ibadah, malah menjarah pasar. Sementara pemerintah terus saja mengulang-ulang soal toleransi sebagai satu-satunya solusi.

Toleransi memang gurih buat digoreng. Kalah Pilkada, tidak mau menerima kekalahan. Buat menutup malu dan menghibur diri telah mengeluarkan biaya yang lumayan banyak, maka yang disalahkan adalah toleransi, menuduh yang menang sebagai intoleran.

Apakah ini akibat orang gila ikutan pemilu 2014? Rasanya nggak mungkin. Berapa persen sih jumlah orang gila terdaftar sebagai pemilih? Nol koma nol koma nol persen. Tapi kalau dipikir lagi, buat bikin bangsa ini rada senewen cuma membutuhkan satu atau dua orang gila, seperti kejadian beruntun belakangan ini.

Jangan-jangan orang gila seolah ingin kirim pesan, jumlah nggak jadi jaminan kebenaran, dan kewarasan nggak jadi jaminan keadilan dan kebaradaban. Sebagai orang waras tentu saja saya malu. Karena bisa jadi begitu.

Baca Juga:  Fenomena Kegilaan: Yang Waras Tidak Boleh “Ngalah”

Saya sudah baca sejumlah karya sastra dari yang paling mudah dicerna seperti novel cinta-cintaan, sampai yang paling susah seperti karya-karya Iwan Simatupang. Saya juga sudah baca sambil terbahak-bahak drama karya Nikolai Gogol, “Inspektur Jenderal.” Juga novel panjangnya, “Jiwa-jiwa Mati.” Tapi buat memahami cepennya, “Buku Harian Seorang Gila” kok susah banget. Jangan-jangan orang gila ngetawain saya karena saya tidak bisa memahami orang gila.

Masa bodo lah. Misalnya nanti KPU mengizinkan orang gila bukan hanya untuk memilih, tapi juga dipilih, masa bodo, emang gue pikirin. Mau orang gila, atau orang waras yang dipilih, nggak ada bedanya. Gue aje nggak tahu gue ini sebenarnya gila apa waras? Kalau nanti gue baca ulang cerpen “Buku Harian Seorang Gila” dan gue mulai memahami ceritanya, gue takut gue bukan berpikir gue tambah cerdas, jangan-jangan gue sudah mulai gila.

Tau ah, gelap.

14022018.

Editor: Pepih Nugraha