Wacana

Sekali Ini Saja Tragedi Tanjakan Emen, Jangan Terulang Lagi!

Kecelakaan, Bus, Kematian, Tanjakan Emen, Subang, Kendaraan, Keselamatan, Headline
Taburan bunga di Tanjakan Emen (Foto: Kotakami.com)
Perlu adanya pembenahan atau aturan yang diperketat di transportasi darat, tidak sekedar asal bisa jalan, tetapi kelayakan dan keamanan tidak diperhatikan.

“Kematian adalah sesuatu yang misteri, kita tidak tahu kapan, di mana, dengan cara apa ajal menjemput kita? Manusia hanya mempersiapkan diri, sewaktu-waktu kematian bisa menghampiri kita semua. Siap tidak siap harus siap”.

Di negara tetangga Malaysia, ada penerbangan syariah yang namanya “Rayani Air” di mana salah satu ciri penerbangan syariah ini sebelum lepas landas kru pesawat akan membimbing atau mengajak semua penumpang pesawat untuk berdoa bersama-sama.

Moda transportasi yang baik adalah yang memberikan rasa aman atau nyaman dan pelayanan yang bagi penumpangnya.

Di negara kita tercinta ini memang tidak ada transportasi, baik darat, laut dan udara yang pakai nama syariah, tetapi sekalipun tidak ada transportasi yang berbasis syariah, sejatinya ada armada bus, atau kapal laut dan pesawat terbang yang dalam praktiknya menerapkan standat syariah seperti berdoa terlebih dahulu sebelum naik armada transportasi tersebut.

Sebagai contoh, bagi orang Jawa Timur dan Jawa Tengah,kalau naik bus jurusan Surabaya-Jogjakarta pasti sudah familiar dengan bus Sumber Kencono. Bus ini terkenal ngebutnya, tetapi memang rata-rata bus Surabaya-Jogja suka ngebut, bus ini terkenal sering kecelakaan dan memakan banyak korban baik meninggal atau luka berat dan ringan. Bus ini karena seringnya terjadi kecelakaan, akhirnya berganti nama dengan harapan tidak sering kecelakaan. Seperti kebanyakan orang Jawa, kalau sering sakit ganti nama biar tidak sering sakit lagi.

Jadi kalau naik bus ini, penumpang pasti dag-dig-dug dibuatnya untuk menghilangkan perasaan yang dag-dig-dug itu penumpang-penumpang tanpa disuruh oleh kondektur bus sudah pada berdoa sejak naik dan duduk dengan khusuknya sambil sedakep, memohon kepada Tuhan moga selamat sampai tujuan.

Dan doa itu dibaca terus sambil komat-kamit mulut penumpangnya, kalau busnya semakin ngebut, maka semakin kenceng juga berdoanya sambil memegang besi di pinggir kaca bus, “selameet, selameet, selameet…” begitulah doa penumpang orang Jawa, khususnya embok-embok atau emak-emak. Inilah moda transportasi syariah jalur darat.

Baca Juga:  Kejanggalan atas Kecelakaan Setya Novanto, KPK Lanjutkan Pemeriksaan

Ada lagi transportasi jalur udara kita di mana setiap penumpangnya berdoa di ruang tunggu dengan khusuk banget berdoanya, apalagi maskapai tersebut terkenal tidak tepat waktu atau sering delay, jadi penumpang pesawat berdoa supaya tidak delay, karena tau sendiri kalau delay berjam-jam yang butuh kesabaran ekstra. Inilah penerbangan jenis syariah kita.

Baru-baru ini ada kecelakaan bus, yang membawa penumbang untuk rekreasi atau liburan acara kantor. Niat ingin senang-senang berakhir dengan duka, yaitu kecelakaan bus yang terjadi di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat. Kecelakaan darat ini memakan korban meninggal 27 wanita, bahkan dikuburkan secara masal. Innalillahi wainnailahi roji’un….

Kecelakaan seperti ini sering terjadi penyebab utamanya faktor manusianya, yaitu pengemudinya karena ngebut atau ugal-ugalan, faktor keamanan bukan prioritas. Kadang sudah tahu tempat atau jalanan itu berbahaya dan perlu hati-hati malah ngebut, misal ada tanjakan tajam atau turunan tajam.

Ada faktor lainnya lagi  yang jadi penyebab kecelakaan,yaitu tidak layaknya armada bus, ban yang sudah gundul, rem yang tidak baik (pakem) atau blong. Inilah penyebab utama  yang sering terjadi pada transportasi bus. Pengemudi yang ugal-ugalan atau yang terkesan abai terhadap keselamatan penumpang. ”Gas pol rem blong”, begitulah gambaran ulah pengemudi yang tidak mengutamakan keselamatan.

Pernah juga terjadi kecelakaan seperti di tanjakan Emen Subang, yaitu turunan di jalur Puncak beberapa tahun yang lalu dan memakan korban meninggal juga. Di Tol Cipali juga terjadi bus angkut penumbang untuk mudik juga terjadi kecelakaan.

Semua itu karena faktor ngebut sang pengemudi atau ugal-ugalan. Memang di transportasi darat ini faktor keamanan dan kenyamanan masih jauh dari harapan. Dan jumlah korban yang meninggal akibat kecelakaan paling banyak adalah transportasi jalur darat. Yang paling aman tentu transportasi pesawat udara karena menggunakan teknologi canggih, tentu kecelakaan juga pernah terjadi seperti pesawat jatuh.

Untuk itu perlu adanya pembenahan atau aturan-aturan yang diperketat di transportasi darat, tidak sekedar asal bisa jalan, tetapi kelayakan dan keamanan menjadi faktor yang utama. Mengangkut penumpang tidak seperti mengangkut ayam potong, keamanan dan kenyamanan menjadi hal yang utama. Jangan karena ongkos murah terus seenaknya saja membawa penumpang dan ugal-ugalan.

Seperti seorang wanita hamil naik becak, ”Mas sing ati-ati yoo, sing penting selamet ora usah ngebut!” Begitu pinta wanita hamil kepada tukang Becak.

“Mbak-mbak… mbayar murah koo minta selamet, tekan tujuan wae wis syukur alhamdulilah,”,jawab tukang Becak rada ketus.

Itulah gambaran yang terkadang faktor ongkos murah juga bisa menjadi penyebab kecelakaan. Kenyamanan dan keamanan masih menjadi urutan kesekian, belum faktor utama. Padahal ukuran moda transportasi yang baik adalah keamanan dan kenyamanan.

Mudah-mudahan kecelakaan seperti di tanjakan Emen, Subang, menjadi perhatian baik pemerintah, dalam hal ini Dishub dan pemilik armada-armada bus, untuk memperbaiki pelayanan supaya penumpang tidak menjadi korban.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan, atas kecelakaan ini.

***

Editor: Pepih Nugraha