Gaya

Sejarah Catur Dunia (10); Janowski dan Karl Schlechter

Sejarah, Catur, David Janowski, Karl Schlechter, Headline
Janowski (Foto: Chessgames.com)
Sebelum meletusnya Perang Dunia I, penantang juara dunia dalam format diwlomba harus menyediakan uang agar duel bisa berlangsung, namun sudah ada sponsor.

Dalam dwilomba ini Emanuel Lasker menuntut agar penantangnya menyediakan dana sebesar 2.000 dollar AS. Jadi Lasker memelopori kebiasaan para juara dunia untuk menetapkan syarat-syarat keuangan bagi pecatur yang berminat untuk menantang. Sampai kejuaraan dunia dikelola oleh FIDE pada tahun 1948, hal ini berarti seorang penantang juara dunia bukan saja harus memiliki kemampuan bermain yang tinggi, tetapi juga harus memiliki dana yang cukup.

Dwilombanya dengan Marshall diadakan di lima kota: New York, Philadelphia, Memphis, Chicago, dan Baltimore pada awal tahun 1907. Pemenang dwilomba ditentukan atas dasar 8 kemenangan. Ternyata dwilomba ini berlangsung tak seimbang, Lasker membabat Marshall dengan 8-0, dengan 7 partai remis.

Pada tahun berikutnya barulah dwilomba melawan saingan terbesarnya, Dr. Tarrasch, dapat terlaksana. Dwilomba diadakan di kota Düsseldorf dan München pada tahun 1908. Pemenang dwilomba ini juga ditentukan oleh 8 kemenangan.

Perselisihan pribadi antar kedua pecatur turut mewarnai suasana pertandingan dengan adanya duel kata-kata di depan pers (hal yang serupa muncul dalam dwitarung Fischer-Spassky, Karpov-Korchnoi, dan Karpov-Kasparov). Ternyata permainan teoretis Tarrasch dapat diredam oleh permainan psikologis Lasker. Lasker mengakhiri dwilomba sengit itu dengan cukup telak: 8 – 3 dengan 5 partai remis.

 

Pada tahun berikutnya Lasker kembali harus mempertahankan gelarnya, kali ini melawan pecatur Perancis, Dr. David M Janowski. Janowski sebenarnya berasal dari Polandia namun ia tinggal di Perancis dan menjadi warga negara Perancis. Di atas papan catur ia tampil berani dan biasa bermain dengan resiko tinggi. Hal ini tak mengherankan bagi orang-orang yang mengenalnya secara pribadi karena Janowski memang sering juga ditemukan di meja-meja judi sedang bermain roulette.

Namun dari sisi yang lain ia juga dikenal sebagai seorang pecatur yang amat mahir memainkan sepasang gajah sehingga dalam partai-partainya Janowski cenderung menyimpan pasangan gajahnya. Serangkaian sukses yang diraihnya pada permulaan abad ke-20 ini memberikan keberanian baginya untuk menantang sang juara dunia, dan seorang pelukis Perancis yang bernama Nardus bersedia menjadi sponsor bagi Janowski. Ia menyediakan dana bagi penyelenggaraan dwilomba dan juga bagi uang hadiahnya sebesar 7.000 francs.

Emanuel Lasker (Foto: Chessbase.com)
Emanuel Lasker (Foto: Chessbase.com)

Dwilomba dilangsungkan di Paris tahun 1909 dan pemenangnya adalah pecatur yang meraih angka terbanyak dalam 10 partai. Lasker menang 7 partai, kalah 1 partai dan sisanya 2 partai berakhir remis. Dengan demikian Lasker unggul telak 8-2. Walaupun Lasker tampaknya menang mudah, dalam dwilomba tersebut tak jarang Lasker berada dalam kesulitan namun Lasker membuktikan bahwa ia lebih baik daripada Janowski pada saat-saat kritis.

Pada tahun 1910 giliran Dr. Karl Schlechter dari Austria yang menantang Lasker. Schlechter memiliki catatan turnamen yang gemilang pada awal abad XX. Bertahun-tahun ia dianggap tak dapat dikalahkan, di mana banyak partainya yang berakhir remis namun amat jarang ia mengalami kekalahan.

Permainannya didukung oleh pengetahuan teori pembukaan yang mengagumkan serta permainan babak akhir yang sempurna. Dwilombanya melawan Lasker dibatasi 10 partai, dengan 5 partai dimainkan di Vienna dan 5 partai sisanya dimainkan di Berlin disponsori oleh Baron Rothschild dari Vienna (pada waktu itu orang terkaya di dunia).

Dwilomba Lasker-Schlechter ternyata menjadi dwilomba terberat bagi Lasker dan juga salah satu dwilomba yang kontroversial dalam sejarah catur. Dalam empat partai pertama Schlechter berhasil mengunci setiap peluang yang dimiliki oleh Lasker sehingga keempat partai itu berakhir dengan remis.

Pada partai kelima Lasker dengan buah hitam memancing Schlechter untuk menyerang. Schlechter mengorbankan dua bidak untuk serangannya namun Lasker dapat meredam serangan tersebut dan berada di ambang kemenangan. Namun Lasker melakukan kecerobohan dan Schlechter segera memanfaatkannya dan meraih kemenangan pertama.

Lasker kini ketinggalan satu angka dan ia berusaha keras untuk memenangkan partai-partai berikutnya. Tetapi Schlechter bermain amat solid bahkan sering unggul sehingga Laskerlah yang harus mencari remis. Demikianlah partai ke-6, 7, dan 8 berakhir remis. Pada partai ke-9 Lasker mendapat peluang menang namun Schlechter berhasil lolos dari kekalahan dan memperoleh remis.

Kini tinggallah partai ke-10 dan Lasker masih tertinggal satu angka. Untuk jangka waktu yang lama dipercaya bahwa Schlechter tinggal mencari remis dalam partai terakhir ini untuk menjadi juara dunia yang baru. Namun dalam partai yang terakhir ini sang raja remis justru bermain agresif untuk menang!

Ternyata riset terhadap dokumen pertandingan menunjukkan bahwa peraturan mengharuskan sang penantang unggul dua angka untuk menjadi juara dunia, suatu hal yang juga dituntut oleh Fischer pada tahun 1973. Partai ke-10 itu berlangsung seru dan liar, di mana baik Lasker maupun Schlechter tampak hendak memaksakan kemenangan.

Pada titik kritis Schlechter tidak melihat langkah menang sehingga Lasker lolos dari kekalahan. Setelah bertarung selama 3 hari (untuk partai ke-10 itu saja) Schlechter terpaksa merobohkan rajanya tanda menyerah pada langkah ke-71. Lasker tetap juara dengan skor imbang 5-5.

Akhir tahun 1910 itu juga Janowski kembali menantang Lasker. Kali ini pemenang dwilomba adalah pemain pertama yang meraih 8 kali menang. Dwilomba dilangsungkan di Berlin dengan sponsor Nardus yang menyediakan 5.000 francs. Seperti dwilomba melawan Janowski sebelumnya, Lasker unggul telak, kali ini dengan 8 menang, 3 remis, serta tak pernah kalah.

Dwilomba ini adalah yang terakhir dilakukan oleh Lasker sebelum meletus Perang Dunia I.

***

Baca Juga:  Barbarian Mengamuk, GBK Dirusak dan Tamannya Porak-poranda

Editor: Pepih Nugraha

Tulisan sebelumnya:

Sejarah Catur Dunia (9): Siegbert Tarrasch, Dokter Yang Pecatur