Wacana

100 Hari Kerja Anies-Sandi, Apanya yang Mau Dilihat?

Islam Radikal, Partai Politik, Pilkada Jabar 2018, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Rizieq Shihab, Headline, Politik
Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Foto: tribunnews.com)
Dalam 100 hari kerja, Gubernur Anies Baswedan dan wakilnya, Sandiaga Uno, konsisten dalam memenuhi janji kampanyenya, seperti PKL, pemenfaatan Monas, dll.

Tak terasa pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sudah menjalani 100 hari kerja menjabat gubernur/wakil gubernur DKI. Rasanya baru kemarin Pilgub DKI yang dilakukan gegap gempita sekaligus dramatis penuh haru biru. Kok sekarang udah 100 hari hasil Pilgub itu bekerja, ya?

Entah dari mana hitungan 100 hari itu bermula. Konon angka itu telah jadi “tradisi politik” universal untuk menilai hasil kerja seorang pejabat publik di negeri ini. Muncul pertanyaan, kenapa tidak 150 hari, 300 hari, 1.000 hari? Apakah angka 100 hari itu muncul dari hitungan bandar Togel?

Rasanya tidak! Judi Togel jarang keluar nomor genap dan utuh seperti 100, 1000 dan seterusnya.

Kalau pertanyaan 100 hari dialamatkan kepada kelompok massa 212 pasti akan mereka protes. Karena mereka suka nomor unik, seperti sebelumya 411, 212, 313, 1712, dan seterusnya. Apakah di luar angka unik tadi dianggap tidak berkah dan jauh dari surga?

Entahlah. Mungkin dukun Togel pun tak akan mampu menjawabnya.

Baca Juga:  Apakah Warga Jakarta Masih Bisa Berharap kepada Anies-Sandiaga?

Di hidung publik, aroma jabatan Anies-Sandi lekat dengan masa aksi 212 dan angka unik sejenis. Jadi, ketika publik politik universal tadi ingin menilai pencapaian kerja Anies-Sandi dengan format 100 hari kerja sangat tidak tepat! Kaum pendukung Anies-Sandi tak mengenal angka 100.

Tradisi politik menilai 100 hari kerja tidak bisa diberlakukan untuk melihat hasil kerja Anies-Sandi karena angka 100 itu milik dunia universal. Angka 100 bisa dianggap “kafir” karena bukan milik entitas pengusungnya. Angka 100 itu di luar hitungan angka berkah. Angka 100 bukan angka yang mampu menciptakan spirit kebersamaan dalam pembangunan warga DKI yang berakhlak. Angka 100 tak mampu membuat “maju kotanya, bahagia warganya”.

Satu hal lagi, mungkin saja angka 100 itu bisa menjauhkan para penilai hasil kerja Anies-Sandi dari surga. Mengapa? Karena tidak sesuai spirit pengusungan Anies-Sandi ketika akan merebut jabatan bergengsi Gubernur DKI.

Sudah selayaknya pemakaian angka 100 hari kerja tidak usah dipakai lagi. Angka itu tidak pantas disematkan pada gubernur DKI yang terkenal ramah, santun dan lihay dalam berkomunikasi secara sejuk kepada warganya.

Sejak usai acara pelantikan jadi gubernur/wakil gubernur, Anies-Sandi langsung bekerja keras untuk warga DKI. Lihat saja Anies yang rela berbasah-basah diri saat banjir Jakarta yang lalu. Sementara wakilnya bagai tak lelah berlari di trotoar untuk memberi contoh kebugaran tubuh.

Lihat saja janji-janji politik Anies-Sandi satu persatu dipenuhi, mulai dari menutup Alexis, menghentikan reklamasi, membuka Monas untuk semua kegiatan kegiatan keagamaan, budaya, dan seni, yang sebelumnya dilarang -bahkan menginjak rumput pun tak dilarang- menghidupkan lagi transportasi becak, menata PKL Tanah Abang, mempersilahkan motor lewat jalam MH Thamrin dan akses jalan seluruh Jakarta, KJP Plus, Rumah DP 0 persen, dan masih banyak lagi deeh…

Soal banyak publik yang protes itu masalah lain. Mereka tak paham janji. Ibaratnya Anies berjanji membelikan sepatu, dia telah penuhi janji membelikan sepatu. Soal apakah ukuran, merek, harga, model sepatu itu cocok atau tidak, hal itu di luar konteks janji.

Baca Juga:  Enaknya Jadi Anies di Ruang Publik, Raisa, Jokowi, atau Ahok Pasti Iri

Jadi yang perlu dilihat adalah konsistensi pemenuhan janji membelikan sepatu. Dan sampai saat ini, dia sangat konsisten bukan? Kamera dan tombol keyboard pers dan netizen menjadi saksi bagi publik akan konsistensi janji Anies-Sandi tersebut. Jadi tak perlu meributkan lagi soal Janji.

Cara berpikir publik sangat keliru dan harus diubah. Mereka harus mampu memilah dan mengelompokkan sesuatu sesuai konteksnya, bukan mencampuradukan hal diluarnya (janji) -yang bisa bikin bingung, pala pening dan kemubaziran secara konstitusional. Hal di luar janji bisa dibicarakan secara santun, dengan pendekatan dari hati ke hati, tepat waktu, dan tentu saja bisa bikin bahagia seluruh warga kota.

Jadi apa yang bisa dilihat dari 100 hari kerja Anies-Sandi?

Bersabar lah, sayang. Kamu mau berkah, bukan? Tunggu 212 atau 313, atau 411 hari saja, ya…

***
Editor: Pepih Nugraha