Romansa

Donat

Cerbung, Fiksi, Novel, Headline,
Ilustrasi donut (Foto: Groupon.com)

“Gimana, Pak. Masakan aku enak?”

“Enak, Bu. Aku habiskan ketika selesai menuaikan ibadah salat dzuhur”

“Besok mau aku bekalkan apa?”

“Apa saja, Bu. Yang penting makan”

Begitulah jawaban yang biasa terlontar dari suamiku, Marja. Mendengarnya aku merasa tidak dituntut untuk memasak ini-itu. Ya, mungkin suamiku sadar kalau ia tidak bisa memberi uang lebih dari hasil menarik bajajnya.

Aku pun demikian, sadar ketika kondisi ekonomi hanya secukupnya saja. Aku bahkan rela bekerja paruh waktu sebagai pembantu di rumah Pak Lurah. Upahnya pun lima puluh ribu rupiah per hari.

Rupiah demi rupiah aku kumpulkan untuk biaya sekolah anakku, Soleh. Aku juga merasa bersyukur memiliki anak yang bisa mengerti kondisi keluarga. Rasanya tidak ingin kehilangan Soleh seperti kehilangan Dulah, adiknya Soleh.

Layaknya sebagai orang tua aku rela memberi segalanya untuk Soleh. Begitu juga suamiku rela melakukan segalanya untuk Soleh. Aku cukup tahu diri, tidak akan meminta apa-apa dari suamiku. Yang terpenting untuk Soleh. Karena sekarang dia adalah anak semata wayang aku dan Marja.

Alarm bebunyi pukul 02.35 dini hari. Aku bangun sedini mungkin untuk menunaikan ibadah sepertiga malam , salat tahajud. Dinginya air wudhu yang aku rasakan membuat diriku semakin segar. Hilang rasa kantukku.

Seperti biasa, aku segera menunaikan tugas sebagai seorang ibu rumah tangga. Aku lekas ke dapur melihat ada bahan makanan apa saja hari ini. Oh, ternyata hanya beras, tempe, tahu dan bebeapa bumbu dapur.

Ada yang bilang rejeki memang tidak kemana, tetapi kalau tidak kemana-mana tidak akan mendapatkan rejeki. Maka dari itu juga aku berusaha menjemputnya di rumah Pak Lurah.

Pagi mulai merangkak naik. Aku sudah menghidangkan nasi, tahu dan tempe untuk suami dan anakku sarapan. Tak lupa juga membungkusnya untuk bekal makan siang suami saat mencari rejeki.

Baca Juga:  Presiden Ke-3 RI BJ Habibie Meminta Saya Hormati PerempuanĀ 

Jam dinding yang menempel di tembok berwarna putih menunjukan pukul delapan pagi. Suamiku sudah berangkat untuk menarik bajaj sejak pukul enam pagi. Soleh juga sudah berangkat sekolah dengan menumpang bajaj yang berwarna oranye itu.

Sudah waktunya aku berangkat menuju rumah Pak Lurah. Mencuci pakainnya sekeluarga. Tidak hanya itu, menyetrika, menyapu, mengepel dan mencuci piring terkadang menjadi pekerjaan di luar pekerjaan utama. Kalau soal urusan memasak, tetap Ibu Lurah yang mengerjakannya. Sebagai istri, ia tetap ingin menyajikan masakan terbaik dan sehat untuk suaminya. Toh, soal selera pas Ibu Lurah sudah sangat paham.

Beruntanglah aku, dengan kebijaksanaannya, Pak Lurah terkadang memberi upah lebih. Dari tangan Ibu Lurah lah aku mendapatkan upah tersebut.

Waktu terus berputar. Detik berganti menjadi menit. Menit berganti menjadi jam. Hari sudah hampir sore. Pekerjaanku pun sudah selesai. Perutku terasa lapar setelah menyelesaikan banyak pekerjaan.

Aku melihat tiga buah donat duduk dengan manis dalam sebuah piring keramik berwarna cokelat. Warna-warninya Ahhhh… sungguh menggoda selera. Aku memandangnya dengan seksama. “Ya Tuhan… Andai saja ini menjadi milikku. Satu buah akan kuberikan pada Soleh. Satu lagi untuk suamiku, dan kita bertiga memakannya bersama” Pikirku.

Setelah puas memandang donat-donat itu aku segera berpamitan pulang. Di rumah hanya ada anak Pak Lurah yang masih duduk di bangku SMA. Aku berpamitan dengannya.

***

Sinar matahari yang berada di batas garis cakrawala terlihat di antara gedung-gedung pencakar langit ibu kota. Langit sore yang biasa dipandang Marja dari dalam bajajnya menjadi pemandangan setiap hari ketika menuju rumah.

Sepulang menarik bajaj di Ibu Kota. Suamiku membawa satu lusin donat yang merek dagangnya sangat terkenal di negeri ini. Marja membawa pulang donat-donat itu dengan senyum yang indah. Aku senang, Soleh pun lebih senang daripada Aku. Sebab ini adalah pertama kalinya Soleh memakan donat yang biasa ia lihat di televisi.

Baca Juga:  Tiga Permintaan

Di rumah kami, kontrakan tiga petak. Aku, Marja, serta Soleh duduk memandang donat-donat yang tersusun rapih pada kemasan berbentuk kotak. Kami memandangnya dengan penuh kagum.

“Wahhh… ini tuh yang ada di tivi-tivi ya Pak…” Seru Soleh.

“Iya, Leh… Sekarang kamu bisa menikmatinya”

“Keliatannya enak nih, Pak,” Aku juga tak kalah berseru.

“Ya jelas enak, Bu,”

Dengan rasa penuh penasaran aku mempertanyakan donat-donat yang biasa diiklankan di saluran televisi itu. “Kamu dapat dari mana, Pak?”

“Makan saja, aku enggak mungkin mencuri,”

“Aku gak mau makan kalau kamu engga mau kasih tahu asal usul donat-donat ini,”

“Dari Gusti Allah, Bu…”

“Gusti Allah baik ya, Pak,” Sahut Soleh.

“Gusti Allah selalu baik, selalu memberi, hanya saja kita tidak sadar untuk bersyukur atas segala apa yang Allah beri, Leh,”

Sambil menunjuk donat-donat, aku kembali menegaskan “Pak, Kamu dapat donat-donat yang mahal ini dari mana? Jawab!”

“Sudah, sudah, sudah. Tadi waktu aku lagi narik. Ada penumpang yang memberikan ini semua. Kamu tau penumpang itu siapa? Ibu Lurah. Aku cuma bisa bilang terimakasih,” Jelas Marja.

“Ohhhhhh… dikasih Ibu Lurah,” Aku dan Soleh pun kompak berseru.

“Ya, sudah kalian makan, habiskan! Jangan ada sisa. Di luar sana masih banyak orang-orang yang butuh makan,”

“Ini tuh rasa apa, Pak?” Tanya Soleh.

“Ini rasah mbayar, Leh….”

Aku, Marja dan Soleh tertawa kompak dalam kebahagian yang sederhana ini. Aku semakin yakin, bahwa Tuhan selalu mendengar pada setiap lantunan doa-doa yang dipanjatkan. Memohon diberikan rejeki.

Mungkin rejeki itu tidak selalu berupa uang, tetapi diberikan dalam bentuk makanan. Mungkin tidak berupa uang tapi anggota keluarga selalu sehat. Mungkin tidak berupa uang, tapi segala urusan diberi kelancaran. Mungkin tidak berupa uang, tetapi Soleh menjadi anak yang benar-benar soleh.

Baca Juga:  Merugilah Orang Yang Berlari Kencang Memburu Waktu (Anita 11)

***

Cerita sebelumnya:

Dia Sudah Pergi dan Tanganmu Baru Terulur