Bjorka dan "Bencana Kebenaran"

Menkominfo Johnny G. Plate secara teknis sepenuhnya bertanggungjawab atas ulah dan keusilan Bjorka dalam melakukan peretasan.

Selasa, 13 September 2022 | 08:46 WIB
0
446
Bjorka dan "Bencana Kebenaran"
Bjorka (Foto: Twitter.com)

The problems are solved, not by giving information, but by arranging what we have known since long“ (Ludwig Wittgenstein, 1889-1951).

Sains dan sistem informatika mutakhir telah dengan mudah meretas segala bentuk aib (infamacy) komunikasi. Era digital yang mampu memultiflikasi semua sistem bigdata (dataism) dan sofistikasi himpunan algoritme pun dengan gampang ditelikung oleh ilmu para hacker. 

Sejak 49 kasus peretas data pada 2019 terjadi, kini Kominfo dikejutkan oleh viral peretas dengan akun twitter @Bjorka (Бьорка) yang dalam bahasa Rusia berarti “pengusik” kepalsuan. Akibatnya, Menteri Kominfo John Plate yang juga “gaptek” kelimpungan menghadapi ulah Bjorka dan buru-buru mengganti akses komunikasinya dengan nomor kode Amerika.

Sebagai “kepala negara” komunikasi dan informasi, Menkominfo secara teknis sepenuhnya bertanggungjawab atas ulah dan keusilan Bjorka dalam meretas data-data rahasia yang dilindungi oleh undang-undang keterbukaan informasi publik (UU No.14/2008).

Akan tetapi, undang-undang informasi publik yang bersifat rahasia (disclosure) sering tumpang tindih dengan undang-undang ITE yang sifatnya lebih berbau “kriminalisasi” data informasi. 

Mengingat kebebasan dan lalu lintas informasi yang secara digital setiap harinya mengirimkan pesan 6,1 triliun pesan teks atas setara dengan 200.000 per menit (Ansari, 2015) dan Seth Stephen Davidowitz (2017) mengemukan era bigdata berpotensi menjadikan setiap orang jadi pembohong (Everybody Lies).

Potensi sosiologi kebohongan (pack of lies) itu merupakan keniscayaan apa yang disebut “kejutan masa depan” (Toffler, 1970), “masa depan ekstrim” (Canton, 2006), era akselerasi mutakhir (Thank You for Being Late, 2016) Thomas L. Friedman bahkan dekade merajalelanya keserakahan (the roaring nineties,2003) Joseph Stigliz.

Apa yang menjadi substansi gaya dan retas Bjorka ini?

Meski dengan kegaptekan Kominfo dan kedunguan negara (foolish state), Bjorka telah merepresentasi "nabi kebenaran“ (true believer) bagi sistem deteksi dini (early warning information system) potensi bencana "everybody lies“ dan upaya munculnya "bencana kebenaran“ (flood of truth) yang pernah diulas Richard Rorty (1931-2097) sebagai filsafat kontingensi dalam mengungkap apa menjadi presentasi "cermin semesta“.

Pesan "teks dan konteks“ informasi bigdata Bjorka melalui filsafat Rorty dan juga traktat kebenaran filosofi Wittgenstein mengingatkan kita bahwa kebenaran (Wahrheit) itu alamiah dan bukan rekayasa (engineering) yang bisa digelapkan oleh kecanggihan sains dan teknologi mutakhir sekalipun.

Dan kelucuan serta kedunguan sedang menjelma jadi etika publik sibersfer, terutama bagi infantri buzzeR(epublikan)p.

ReO Filsawan