Gus Yaqut dan Gusti Mangkunegara X

Seperti juga Gus Yaqut yang banyak memperjuangkan religiusitas agar seiring dengan pemahaman dan ketahanan budaya, Gusti Mangkunegara X yang baru punya kesadaran yang sama untuk memperjuangkan kebudayaan Indonesia.

Minggu, 13 Maret 2022 | 21:05 WIB
0
111
Gus Yaqut dan Gusti Mangkunegara X
Présidén Joko Widodo (Foto: facebook.com)

Dua nama tokoh muda memenuhi berita akhir pekan ini. Pertama tentu dari Gus Menteri, Yaqut Cholil Qoumas. Menteri Agama kita ini lagi-lagi membuat gebrakan. Kali ini dengan mengambil alih sertifikasi halal bukan lagi produk ormas tetapi langsung ditangani Kementerian Agama.

Tentu saja saya tidak paham teori ataupun argumen-argumen, baik yang mendukung maupun menolak hal ini, namun awam seperti saya melihatnya secara sederhana saja: negara berdiri di atas berbagai golongan, kelompok, juga ormas.

Negara menjembati kesemuanya, tak menjadikan yang satu lebih unggul di atas yang lain. Saya kira ada banyak yang sependapat dengan pandangan awam saya ini.

Melengkapi kebahagiaan kita melihat gebrakan Gus Menteri ini tentu saja dengan melihat bentuk gunungan wayang dalam logo Halal Indonesia. Lagi-lagi sebagai awam, yang hanya mendambakan kerukunan Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, saya merasa nyaman karenanya. Gus Menteri benar-benar telah berlaku sebagaimana citranya selama ini sebagai Menteri bagi Semua Agama. Bukan hanya agama, kebijakannya juga selalu nyaman bagi kebudayaan, wilayah yang sering kali beroleh intimidasi atas nama alasan-alasan religius.

Tokoh muda lainnya yang jadi berita tentu saja penobatan Gusti Bhre Cokrohutomo Wira Sudjiwo menjadi KGPAA Mangkunegara X. Meski penunjukan seseorang menjadi raja itu melalui jalur darah, tetapi seringkali kita akan terpukau bahwa memang ada orang yang memiliki kapasitas luar biasa sebagai pemimpin ataupun sebagai pribadi. Darah biru hanya kebetulan saja disandangnya.

Dalam pertemuan dengan Gusti Bhre beberapa waktu lalu, saya terkesan dengan pribadinya yang sopan dan rendah hati. Asli bawaan dari lahir, bukan sesuatu yang dipelajari khusus karena keinginan untuk terjun politik misalnya. Tepatnya kesopanan yang memang dipelajari karena kesadaran untuk menjadi pribadi yang menyenangkan.

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan saat itu, Gusti Bhre juga memilih berbahasa Indonesia penuh, tanpa sesekali melontarkan bahasa Jawa ngoko, seperti yang kerap dilakukan banyak politisi berdarah Jawa. Ini mengingatkan saya pada Presiden Jokowi, yang juga tak pernah ngoko meski membuatnya terkesan ramah dan supel. Kesadaran untuk menghargai lawan berbicara, bukan hanya ingin akrab.

Tentu saja saya tak mengira bila Sabda Dalem, pidato pertama saat penobatannya ternyata juga sangat luar biasa. Gusti Mangkunegara X mengutip prinsip tebu serumpun, bersatu teguh dalam kebhinekaan dan mengutip prinsip Tri Darma, yakni mulat sarira hangrasawani, rumangsa melu handarbeni, dan wajib melu hangrungkebi yaitu memahami diri sendiri dengan cara introspeksi agar dapat mengatasi berbagai hambatan yang menghalangi perbaikan pribadi, merasa turut memiliki dan wajib ikut menjaga. Tetapi bukan itu yang menyentak saya.

Gusti Mangkunegara X memulai pidatonya dengan menjelaskan, “Pada hakekatnya ikatan antara manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari interaksi kita satu sama lain. Dari kebiasaan kita sehari-hari, dari cara kita menjalani hidup, dari cara makan, berpakaian, berbicara, berkesenian hingga produk-produk hukum yang kita hasilkan. Kebudayaan adalah siapa kita, jati diri kita dan identitas kita….”

Saya langsung merinding…. Di tengah krisis kesadaran tentang identitas bangsa, gempuran budaya asing membuat sebagian kita ingin menyingkirkan budaya sendiri. Padahal budaya nusantara terbukti sanggup membuat bangsa kita hidup rukun, damai dan lestari selama berabad-abad. Pidato Gusti Mangkunagara ini seakan angin sejuk.

Gusti Mangkunegara X terlihat paham betul posisi kerajaan di Nusantara di masa kini yang bukan lagi kesatuan kekuatan politik melainkan pengemban tugas untuk melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa.

Dengan rendah hati pula, Gusti Mangkunegara X mengatakan bahwa warisan budaya adiluhung tidak serta merta dapat diturunkan secara biologis, namun perlu usaha nglampahaken sehingga bisa diwariskan untuk generasi yang akan datang. Menggali, melestarikan dan mengembangkan warisan budaya serta melestarikan nilai-nilainya, tidak hanya bagi Pura Mangkunegaran tetapi juga bagi masyarakat Indonesia.

Amanah yang tidak dapat dilakukan seorang diri tetapi memerlukan keterlibatan setiap unsur masyarakat. Gusti Mangkunegara X itu kemudian menegaskan bila Pura Mangkunegaran harus mampu menjadi wadah, jembatan, kolaborator, teman diskusi bagi seluruh unsur masyarakat.

Dan satu pesan lagi, menghadapi era yang semakin dinamis dan penuh tantangan, Pura Mangkunegaran tidak boleh terlena dalam eforia kejayaan masa lalu. Warisan sejarah Pura Mangkunegaran bukan hanya suatu hal yang semata-mata harus dirayakan melainkan harus dipahami pasang surutnya. 

Tentu saja saya semakin merinding mendengar Sabda Dalem-nya itu. Begitu muda, sekaligus begitu paham bahwa penyempitan pemahaman tentang makna kebudayaan memang sedang menjadi krisis jati diri Bangsa Indonesia saat ini. Sesuatu yang mengikis kebangsaan kita hari ke hari, bahkan bukan mustahil mengikis keutuhan NKRI.

Sementara negeri baru yang diidamkan sebagian kita seringkali terlalu utopis untuk terwujud, sekaligus terlalu berat untuk menyikapi modernitas peradaban yang berkembang hari ke hari, menit demi menit. Terlalu banyak korban untuk mewujudkannya, karena tak berdiri di atas keberagaman.

Seperti juga Gus Yaqut yang banyak memperjuangkan religiusitas agar seiring dengan pemahaman dan ketahanan budaya, Gusti Mangkunegara X yang baru punya kesadaran yang sama untuk memperjuangkan kebudayaan Indonesia.

Jalan masih panjang bagi keduanya, tapi saya tahu:

“Pemimpin-pemimpin baru telah lahir…”

#vkd