Harianto Badjoeri [47]: Menghargai Kerja Keras dan Prestasi

Banyaknya relasi ini membuat Harianto Badjoeri tidak pernah sepi di hari tua. Setiap hari masih banyak orang ingin bertemu dengannya.

Selasa, 7 Januari 2020 | 16:49 WIB
0
108
Harianto Badjoeri [47]:  Menghargai Kerja Keras dan Prestasi
Uha (kiri), Harianto Badjoeri (tengah), dan Oho (kanan) (Foto: Dok. pribadi)

Pernah menjadi birokrat yang bekerja secara total dengan semboyan sekali tampil harus berhasil, Harianto Badjoeri yang akrab disapa HB oleh rekan-rekannya ini amat menghargai orang-orang yang yang juga bekerja keras dan berprestasi untuk diri sendiri maupun lingkungannya.

Salah seorang yang dihargai karena bekerja keras dan prestasinya adalah lelaki buruh serabutan asal Kota bandung, Jawa Barat. Namanya Uha (46 tahun).

Uha mengundang kagum HB karena dia yang membersihkan gorong-gorong air limbah yang meluap tersumbat oleh sampah di lingkungan tinggal Uha di Jalan Haji Syachroni, Asep Berlian, Cicadas, Kota Bandung.

“Dia layak disebut pahlawan lingkungan,” kata HB memuji Uha.

Ketika membersihkan gorong-gorong sedalam 4 meter dengan lebar 1,5 meter itu, Uha yang dibantu rekannya Holisudin alias Oho (49 tahun), hanya mengenakan celana pendek bertelanjang dada. Tanpa masker selam juga.

“Aroma airnya ya bau banget Pak. Namanya juga air limbah,” kata Uha. Gorong-gorong itu sendiri berada di tengah permukiman yang padat penduduknya.

Keberanian Uha membuang sumbatan sampah di gorong-gorong itu membuat lingkungan setempat bebas dari air limbah yang meluap pada saat hujan. Warga setempat pun berucap terima kasih banyak kepada Uha, karena dia lelaki pemberani dan bernyali tinggi.

“Mang Uha memang ringan tangan orangnya. Diminta tolong apa saja dia mau mengerjakannya,” ujar Nanang AZ, selaku Ketua RT 03, lingkungan tempat Uha menetap.

Ringan tangan, keberanian, dan prestasi yang dibuat Uha ini membuat HB simpatik dan kagum kepadanya. Dia pun mengutus relawannya dari HB Center, Hermansyah untuk menemui Uha di Kota Bandung. HB juga mengundang Uha secara khusus untuk datang ke kantornya di Jakarta.

Ketika Uha dan rekannya Oho datang ke kantor HB di kawasan Ancol, Jakarta Utara, mereka disambut hangat. HB selaku salah seorang direksi di badan usaha milik daerah DKI, Taman Impian Jaya Ancol, berusaha membuat Uha dan Oho bahagia. Bagi HB, Uha dan Oho berhak bahagia, karena bahagia adalah hak semua orang!

Di Ancol, Uha dan Oho bersama warga Bandung yang menemani mereka, Julius, dijamu HB dengan menikmati hiburan di Ancol. Mereka diajak masuk ke Dunia Fantasi (Dufan). Uha, Oho, dan Julius diajak menikmati perahu ayun Kora-kora, Histeria, dan kereta misteri.

“Saya seumur hidup belum pernah melihat Ancol. Saya senang dan berterima kasih kepada Bapak Harianto,” kata Uha yang bercita-cita menjadi juragan barang rongsokan alias pengepul ini.

Usai menikmati hiburan di Dunia Fantasi, HB memberi Uha jam tangan dan seamplop uang tunai. Uang Tunai juga diberikan kepada Oho dan Julius.

Perlakuan HB kepada Uha ini menyiratkan sebuah pesan bahwa setiap prestasi dan kerja keras seseorang sekecil apapun mesti dihargai oleh lingkungannya, khususnya oleh penyelenggara negara. Menghargai prestasi dan kerja keras orang lain mesti menjadi budaya di setiap sudut kehidupan agar banyak muncul orang-orang berprestasi dan pekerja keras yang lain.

Sebuah masyarakat dan negeri yang memiliki peradaban tinggi serta gemah ripah loh jinawi (adil, makmur, sentosa) dimulai dari kepekaan orang per orang dalam menghargai prestasi dan kerja keras orang lain. Dengan menempatkan kepekaan dalam menghargai prestasi dan kerja keras berarti ikut memupuk kehidupan menuju peradaban yang lebih tinggi.

Dan Uha adalah sedikit dari sekian banyak orang yang mendapat pernghargaan dari lingkungannya atas prestasi dan kerja kerasnya dalam menyelematkan lingkungannya dari musibah. Prestasi dan kerasnya itu kemudian membuahkan rasa suka cita dan bahagia buat Uha dan keluarganya maupun buat lingkungannya juga.

Tanpa kerjas keras, Uha tidak mungkin bisa menorehan prestasi dan dikenal oleh banyak orang. Tanpa keras kerasnya, Uha juga tidak mungkin bisa mendapat penghargaan dari sana-sini, termasuk beberapa stasiun televisi yang menjadikannya sebagai bintang tamu.

Apa yang dijalankan HB dengan memberi perhatian khusus kepada Uha tersebut adalah karena semata-mata dia ingin memberi kebahagiaan dan menghadirkan suka cita kepada orang-orang berprestasi dan bekerja keras dalam hidupnya.

HB ingin memberi inspirasi bahwa semua orang mesti menghargai orang lain, entah itu antara pimpinan menghargai anak buahnya, majikan menghagai buruhnya, direksi terhadap karyawannya, kepala daerah kepada warganya, maupun presiden kepada rakyatnya.

Begitu juga setiap orang mesti bekerja keras agar menghasilkan prestasi atau memberi manfaat kepada lingkungannya. Cepat atau lambat, setiap kerja keras  akan mendatangkan kebahagiaan dan rasa suka cita, karena hukum alam telah mengaturnya.

Itulah mengapa HB selalu berpesan kepada orang-orang di sekitarnya, terutama kaum muda untuk selalu menjunjung semangat “sekali tampil harus berhasil”. Artinya, setiap hari harus diisi dengan kerja keras agar menghasilkan prestasi yang kemudian mendatangkan bahagia dan suka cita.

“Kerja keras tidak akan pernah membohongi hasilnya,” ujar HB berfilosofi.

HB sudah membuktikan folosofinya itu. Selama menjadi birokrat di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, HB tergolong birokrat yang bukan sekadar masuk pagi pulang sore. Dia sejak awal mula menjadi pegawai negeri sipil selalu ingin melebihi pegawai lainnya. Dia jarang pulang sesuai jam kantor atau bolos. Dia selalu pulang lebih lamban dibanding rekan-rekannya. Dia juga bukan tipe pegawai yang hanya bergaul dengan orang-orang sekantornya, tapi selalu membuka relasi kepada banyak orang.

Ketika rekan-rekannya sekantor sudah pulang di rumah masing-masing, HB masih sibuk di kantornya atau bertemu dengan banyak orang di luar kantornya untuk membangun relasi.

Pola kerja seperti ini dijalankan HB selama dia menyandang predikat sebagai birokrat kurang lebih 35 tahun lamanya. Hasilnya bisa dilihat sendiri. HB punya banyak relasi di luar lingkungannya bekerja. Relasinya mulai dari tukang sampah, preman, penegak hukum, pengusaha, aktivis, politikus, polisi, tentara, sampai artis. Relasinya juga beragam status sosial ekonominya. Mulai dari rakyat melarat sampai konglomerat.

Banyaknya relasi ini membuat HB tidak pernah sepi di hari tua. Setiap hari masih banyak orang ingin bertemu dengannya. Mulai dari yang kangen rasa humornya, ada juga yang meminta bantuan, meminta tolong mutasi pekerjaan, meminta tolong dicarikan pekerjaan, sampai meminta konsultasi perceraian.

Itulah HB yang meyakini bahwa setiap kerja keras akan dipetik di hari kemudian! 

 Krista Riyanto

***

Tulisan sebelumnya: Harianto Badjoeri [46]: Muslim, Tapi Membagi-bagikan Hadiah Natal