Verawaty, Hamil 3 Bulan Main di Asian Games

Prestasi di ganda yang menonjol di antaranya, ketika berpasangan dengan Imelda Wigoena sebelum 1980-an pernah juara di Asian Games 1978 Bangkok.

Rabu, 22 September 2021 | 11:13 WIB
0
176
Verawaty, Hamil 3 Bulan Main di Asian Games
Verawaty (Foto: Kompas.id)

Sudah cukup sering saya ikut sama-sama rombongan bulu tangkis saat meliput. Saya lupa menghitung. Yang pasti, tidak hanya di Indonesia, akan tetapi juga di berbagai turnamen dunia seperti Piala Thomas dan Piala Uber (di Malaysia, Hongkong dan tempat lain), Taipei Open, Japan Open, All England waktu itu masih di Wembley London belum di Birmingham, Danish Open di Kopenhagen, Swedish Open di Malmoe, juga Piala Sudirman di Groningen Belanda.

Belum lagi SEA Games di Singapore, Asian Games 1988 di Seoul. Sangat sering ketemu Verawaty yang selalu ramah, dan banyak cerita...

Tetapi kali ini khusus mewawancarai Verawaty ketika kembali mengayun raket, setelah berhenti total 7 bulan, pada bulan November 1984. Januari tahun itu, Verawaty cedera di turnamen Taipei Open – kebetulan saya juga ikut rombongan tim ke Taiwan. Verawaty putus sebagian urat pengikat tendon achilles-nya ketika bertanding lawan pemain Denmark, Dorte Kjaer.

Sempat dirawat 10 hari di RS Advent, Taipei sebelum dibawa ke Jakarta, dirawat dr Sularto spesialis Orthopedi di RSCM Cipto Mangunkusumo. Enam bulan kemudian, sudah boleh berlatih kecil. Dan setelah 7 bulan, Vera mengayun raket lagi meski di nomor ganda dulu, sebelum main tunggal lagi.

Saya temui juara dunia 1980 Verawaty di Wisma Atlet (Senayan) – tempat tinggal Verawaty yang mendapat privilese boleh tinggal sama suaminya Fajrin, yang pengawai Departemen Agama waktu itu. Saya potret di wisma, Verawaty menggendong anaknya, Yandi yang waktu itu masih umur 1,5 tahun.

Cerita tentang Yandi ini pun sungguh Verawaty banget. Ketika bertanding di Asian Games 1982 New Delhi, India, Verawaty dalam keadaan hamil 3 bulan, ya mengandung Yandi ini. Ia nekat main dalam keadaan hamil, karena mengaku “utang janji”. Rupanya itu “janji” dengan KONI (Komite Olimpiade Nasional Indonesia) untuk ikut berupaya meraih medali untuk Indonesia.

Janji itu ia katakan saat ia menikah dengan Fajrin, pada 1979. Memang bukan janji tertulis. Ia katakan pada KONI (di antaranya Sekjen KONI MF Siregar, waktu itu), bahwa ia akan menunda dulu punya anak sampai 4 tahun setelah nikah. Waktu menikah, Verawaty masih top, umur pun masih 22 tahun.

Tapi manusia boleh berkehendak, Tuhan juga yang di atas menentukan. Ketika tengah bersiap di pelatnas untuk Asian Games New Delhi 1982, tak disangka perut Verawaty pun “berisi”.

“Pak Tahir (Tahir Djide, pelatih fisik pelatnas bulu tangkis) tidak tahu kalau saya hamil. Semua orang juga tidak tahu, kecuali suami. Maka saya dapat porsi latihan seperti yang lain-lain..,” tutur Verawaty, pada saya di Wisma Atlet Senayan.

Memang, prestasi di Asian Games 1982 Verawaty hanya sampai perempat final, kalah lawan pemain nomor satu Korea Selatan Kim Yun-ja, belum sempat ketemu pemain-pemain China. Di Asian Games 1978 Bangkok Verawaty dapat medali emas bersama pasangannya Imelda Wigoena di ganda putri.

“Saya bersyukur Yandi lahir sehat,” tutur Verawaty pula, “sekarang baru terpikir, bagaimana bahayanya kalau saja saya mengalami keguguran waktu itu...,” tutur Vera pula.

Utang Janji lagi

Utang janji pula, kata Verawaty, ketika saya tanya kenapa ia mengayun raket setelah dua kali gantung raket? Gantung, ayun, gantung dan ayun lagi. Kurang lebih seperti itu perjalanan Verawaty setelah menikah tahun 1979. Gantung raket pertama ketika ia bersiap melahirkan, dan gantung raket kedua setelah putus urat pengikat tendonnya saat tanding di Taipei.

Saya temui Verawaty usai berlatih Selasa (13/11/1984). Kendala utama kata Vera setelah lama nggak main, adalah berat badannya. Membengkak 7 kg, setelah tujuh bulan tak main bulu tangkis sampai mencapai 80-82 kg. Ketika masih top beratnya hanya 72-73 kg.

Turun bermain lagi di nomor ganda, mula-mula berpasangan pemain muda Merry Herliem, pernah juga dengan Dwi Elmiati sebelum kemudian berpasangan cukup lama dengan Ivana Lie. Pernah pula berpasangan dengan Ruth Damayanti, Elizabeth Latif dan juga Rosiana Tendean, Lili Tampi.

Prestasi di ganda yang menonjol di antaranya, ketika berpasangan dengan Imelda Wigoena sebelum 1980-an pernah juara di Asian Games 1978 Bangkok. Vera/Imelda juga juara di All England (1979). Di Kejuaraan dunia 1980, Verawaty juara tunggal dan di ganda bersama Imelda meraih perak kalah lawan pasangan Inggris, Nora Perry/Jane Webster.

Sedangkan bersama Ivana Lie, menjuarai Taipei Open (1986), China Open (1986) dan Indonesia Open (1986). Bersama Susi Susanti juga pernah hampir juara, dan dapat perak di Indonesia Open (1987). Ketika berpasangan dengan Yanti Kusmiati, Vera malah juara Indonesia Open (1988). Tahun itu bersama Yanti Kusmiati, Vera juga juara di Kejuaraan Asia di Lampung.

Di Ganda Campuran Verawaty juga berkali-kali juara. Verawaty/Eddy Hartono juara Piala Dunia (1986), Malaysia Open (1988), Dutch Open (1989), Indonesia Open (1989) dan World Grand Prix Finals (1989). Dengan Bobby Ertanto, Verawaty juga pernah juara Malaysia Open (1986).

Pokoknya komplet dah, Verawaty!

JIMMY S HARIANTO, Wartawan Kompas 1975-2012

Keterangan: klipping tulisan saya di Kompas 15 November 1984 hasil wawancara dengan Verawaty di Wisma Atlet Senayan – kini sudah jadi Plaza Senayan Mall