Harianto Badjoeri [36]: “Kendel” Sejak Kecil

Ketika merantau di Ibu Kota ini, karier HB di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI pada era 70-an cepat naik, karena ditunjang oleh keberaniannya dan kemampuannya membangun jejaring pergaulan.

Sabtu, 30 November 2019 | 10:05 WIB
0
196
Harianto Badjoeri [36]:  “Kendel” Sejak Kecil
Mayjen (purn.) Heriyono (Foto: Dok. pribadi)

Jikalau Harianto Badjoeri yang akrab disapa HB oleh koleganya sekarang ini identik dengan legendanya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI tidak bikin heran teman-temannya semasa kecil.

“Dia memang ‘kendel’ (pemberani –Jawa red) sejak kecil,” demikian salah seorang teman HB semasa kecil, mantan Koordinator Staf Ahli KASAD, Mayor Jenderal (purnawirawan) Heriyono dalam  kesaksiannya.

Jiwa pemberani HB itu terlihat dalam pergaulan sehari-hari. Dia waktu kecil tidak pernah takut bergaul dengan anak-anak yang usianya lebih dewasa daripadanya. Keberaniannya dalam bergaul lintas usia, sering membuatnya menemui berbagai persoalan dengan anak-anak lainnnya. Ujungnya adalah perkelahian.

HB tidak pernah lari bila mesti harus berkelahi, sekalipun dia dikeroyok. HB juga tidak pernah menangis, karena dia bukan tipe anak “gembeng” (gampang menangis – Jawa red).

Jiwa pemberaninya ini juga digunakan untuk melindungi teman-temannya sepermainan seperti Heriyono, dokter Nanang Subiyanto, Anoeng Setyomono, Andi Yudiarto, dan Ismu. HB selalu tampil di depan bilamana teman-teman sepermainannya ini dinakali oleh anak-anak dari kelompok lain.

Wataknya yang demikian itu semakin terpupuk ketika HB dan kawan-kawannya tadi masuk dalam kelompok Pramuka penggalang.  Mereka di dalam kelompok Pramuka itu sering berlatih disiplin laksana militer, seperti baris berbaris, kemah, menjelajah alam, solidaritas tim, serta cinta tanah air.

“Di Pramuka ini kami diajari tentang integritas dan komitmen hidup,” kata Heriyono.

Yang memberi pelatihan kepramukaan kepada HB dan kawan-kawan waktu itu adalah Djati Pernomo, anak dari Bupati Blitar waktu itu. Di tangan anak bupati ini, HB dan kawan-kawan diajari tentang pentingnya kesetiakawanan dan persahabatan.

“Makanya, Harianto itu selalu menjaga hubungan baik dengan semua temannya semasa kecil,” kata Heriyono.

Bagi seorang berjiwa pemimpin, membangun setia kawan dan persahabatan adalah kebutuhan mutlak, karena di situ terkandung pesan tujuan jangka panjang. Sampai ada pepatah “jika Anda mau cepat sampai tujuan maka jadilah pelari cepat seorang diri, sedangkan jika Anda ingin menjadi pelari jarak jauh maka berlarilah bersama-sama dalam kelompok”.

Di dalam kelompok ada unsur saling membantu satu sama lainnya. Setiap kesulitan tidak dipikul sendiri, tetapi dipikul bersama, sehingga beban menjadi ringan.

Dalam cerita rakyat di Jawa juga ada dongeng tentang Kancil yang terkenal sebagai pelari cepat dikalahkan oleh kura-kura yang berjalan lamban dalam sebuah lomba lari jarak jauh. Kancil yang berlari seorang diri diperdaya oleh kura-kura yang berjejer di dalam air mulai garis start hingga garis finish.

Ketika Kancil yang berlari di tepi sungai memanggili kura-kura yang dia ajak bertanding lari cepat jarak jauh tadi, barisan kura-kura di depan Kancil selalu menjawabnya. Begitu terus sampai garis finish.

Kura-kura bisa menang, karena dia memperdayai Kancil. Kura-kura dibantu teman-temannya di sepanjang aliran sungai untuk menjawab ketika sang Kancil memanggil dan menanyakan posisinya di sungai.

Jikalau dijalankan secara normal, Kancil mana mungkin bisa dikalahkan oleh kura-kura yang gerakannya terkenal lamban. Namun, karena kura-kura tadi dibantu oleh sahabatnya maka dia punya kekuatan besar untuk memperdaya hingga mengalahkan si Kancil yang terkenal sebagai hewan yang mampu berlari cepat seorang diri.

“Pesan yang terkandung di dalam lomba lari antara Kancil dan kura-kura tadi adalah bahwa sekuat-sekuatnya orang bila hanya seorang diri, akan mudah dikalahkan oleh musuhnya yang lemah, namun bekerja secara terorganisasi”.

Cerita rakyat ini dipahami oleh HB secara natural sejak kecil. Dia menempatkan kawan-kawannya sebagai kekuatannya dalam mengarungi kehidupan baik di kampung sampai merantau di Ibu Kota ini.

Ketika merantau di Ibu Kota ini, karier HB di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI pada era 70-an cepat naik, karena ditunjang oleh keberaniannya dan kemampuannya membangun jejaring pergaulan. Sebagai birokrat pemula di Dinas Pariwisata, nama HB cepat populer di kalangan pengusaha maupun preman.

Semua itu karena HB punya keberanian yang bisa diandalkan dalam menjinakkan preman yang sering mengganggu pengusaha. HB bukan hanya punya otoritas, tetapi dia juga punya keberanian bila harus fight di lapangan.

Pernah suatu saat HB dimintai tolong oleh salah seorang pengusaha nasional yang sedang membangun hotel bintang lima di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Pengusaha itu merasa terganggu dengan kehadiran sekelompok preman yang bertujuan mengganggu proyek hotelnya. Si pengusaha lalu meminta bantuan HB untuk menjinakkan kelompok preman itu.

HB yang terbiasa dengan dunia keras menyanggupinya. HB dengan seorang diri mendatangi kelompok preman itu di lokasi proyek. Dengan keberaniannya, HB berhasil menjinakkan kelompok preman itu tanpa gaduh.

Sejak itulah nama HB menyebar di kalangan pengusaha pariwisata. Mereka sering meminta bantuan HB untuk mengamankan lingkungan usaha pariwisata bilamana mendapat gangguan dari kelompok preman maupun hambatan birokrasi.

Bagi HB sendiri, kondusivitas usaha pariwisata mesti dijaga dengan baik. Sebagai birokrat, HB berkepentingan untuk menjaga iklim usaha pariwisata tetap kondusif agar roda perekonomian berputar dan menghasilkan devisa bagi negara.

Kekuatan HB dalam mendorong pertumbuhan sektor wisata pada awal pembangunan Ibu Kota membuat salah seorang pengusaha hotel pernah berseloroh bahwa HB sebenarnya tiangnya dari usaha hiburan malam. Tidak mungkin industri hiburan malam bisa sesemarak sekarang ini bila tidak ada peran HB di dalamnya.

“Bagaimana juga, Pak Harianto Badjoeri itu adalah orang kuat di Ibu Kota ini,” kata salah seorang pengusaha yang enggan disebut jati dirinya ini.

Krista Riyanto

***

Tulisan sebelumnya: Harianto Badjoeri [35]: Terbuka untuk Wawancara Meski Tak Pandai Bicara