Belum Dimuat Kompas, Belum Sah sebagai Penulis

Saya lalu bernazar: tidak menulis artikel lagi. Kecuali: diminta Redaksi. Saya ingin fokus ke buku. Sebab lebih menantang dalam segala hal. Baik dari segi uang maupun tantangan intelektualitasnya.

Rabu, 7 Juli 2021 | 22:22 WIB
0
466
Belum Dimuat Kompas, Belum Sah sebagai Penulis
Wajah saya sebagai kolomnis.

Pasti banyak yang tidak setuju. Meski pahit. Tapi itulah faktanya!

Judul artikel ini sungguh menampar. Tidak bermaksud lain. Jika tidak percaya, coba saja! Kirim artikel Anda ke Kompas. Bukan "Kompasiana" lho. Beda banget. Kompas yang koran terbesar Asia Tenggara yang didirikan Pak Jakob dan PK Ojong itu lho. Rasakan!

Jika ingin tembus, baca buku Kang Pepih dulu. Bagaimana cara menembus Kompas?

Beruntung. Atau untungnya. Sejak mahasiswa, saya sudah nembus Kompas.

Tulisan saya pertama dimuat Kompas. Judulnya. "Tindakan Preventif untuk Mengurangi Penurunan Budaya Mangkok Merah" (Kompas, 11 Maret 1984). 

"Tanpa Kompas, serasa belum pas!"--kata Pak Jakob. Saya suka katanya. Kemudian, jadi tagline iklan. Nancap bagai  jarum suntik dalam teori ilmu komunikasi. Itulah the power of words and media.

Kata orang. Sangat musykil bagi penulis pemula nembus Kompas. Saya biasa-biasa saja waktu itu. Tembak sekali, langsung kena! Mungkin bukan karena tulisannya yang hebat. Melainkan karena topiknya yang krusial. Dan tak ada pakar yang menulis. Itu sebuah analisis kecil. Tentang kerusuhan etnis di Kalimantan Barat waktu itu.

Tak dinyana. Tahun 1990, saya bertemu sekaligus berguru dengan salah satu pendiri Kompas, Jakob Oetama. Satu di antara banyak ilmu, sekaligus pelajaran darinya yang senantiasa saya ingat. "Tanpa Kompas, serasa belum pas!"--kata Pak Jakob.

Ada citarasa berbeda dengan Kompas. Mungkin kalau orang Indonesia, belum makan nasi, belum makan. Seperti itu kira-kira tamsilnya.

Nah. Pelajaran pertama saya. Sebagai penulis di Kompas: Tulislah topik yang menarik perhatian banyak orang. Carilah celah. Di mana tidak banyak pesaing. Kuatkan! Branding dirimu sebagai pakar di bidangnya.

Dan saya memang kemudian dikenal sebagai "pakar" ke-DAYAK-an. Kemudian, baru merambah bidang sastra, budaya, dan juga filsafat. Selain dunia perbukuan dan creative writing yang menjadi vak. Sekaligus makan-minuan saya sehari-hari karena mengajar topik itu sebagai mata kuliah di Universitas Multimedia Nusantara. Tempat saya ditugaskan kompeni selama 5 tahun, sebelum saya memutuskan bebas dari nine to five (kerja kantoran).

Kata orang, "Kalau tulisan belum nembus Kompas, belum sah jadi penulis (artikel). Tak peduli berapa banyak tulisan Anda dan dimuat media lain. Kalau BELUM BISA NEMBUS KOMPAS, BELUM PENULIS SEJATI!

Demikian pula. Jika naskah buku Anda belum terbit di Gramedia (GPU biangnya), belum sah jadi penulis/ pengarang.

Sejak 1984, saya malang melintang menulis di berbagai media. Dari kelas teri hingga kelas Paus. Sudah kenyang. Pernah, sebulan dimuat: 14 tulisan. Honor saya jauh lebih banyak daripada gaji saya!

Sejak 2005, saya memutuskan: Tidak lagi menulis artikel. Terlalu gampang! Harus naik kelas, nulis buku.


Entah persis foto, entah dibikin sketsa. Wajah buruk rupa saya pun banyak menghiasi media massa era 1980-2005. Menjadi ilustrasi kolom di Harian Media Indonesia dan kolom Didaktika Harian Kompas 1994-1997. Sayang, saya tak punya asli fotonya yang full color. Seingat saya, aslinya di Pusdok Kompas. Entah masih ada apa tidak arsipnya, apalagi ketika pindah, wallah u walam bisawab.

Di zaman keemasan sebagai penulis, saya bisa nulis dan dimuat 14 artikel/ bulan. Honor yang didapat, sedikitnya 1,5 juta/bulan. Kurs rupiah terhadap dolar saat itu rp 3.000. Pernah sampai lebih rp 3 juta.

Saya mengawali menerima honor di Kompas (1984) dengan rp 25.000. Kemudian, naik drastis (1985) dengan rp125.000. Tahun 1992, honor Kompas yang tertinggi/ per artikel Rp 750.000. Diikuti The Jakarta Post, 450.000, Bisnis Indonesia rp 150.000, dan Media Indonesia Rp 150.000.

Terakhir, tahun 2010. Setelah memutuskan gantung-komputer nulis artikel di koran/ majalah. Harga saya di Suara Pembaruan waktu itu  a rp 1 juta/artikel. Sedangkan Kompas menghargai saya per artikel rp2.500.000.

Saya lalu bernazar:  tidak menulis artikel lagi. Kecuali: diminta Redaksi. Saya ingin fokus ke buku. Sebab lebih menantang dalam segala hal. Baik dari segi uang maupun tantangan intelektualitasnya.

Jadi, sejak 2005. Hingga Agustus 2020. Saya total berhenti nulis artikel.

Kembali sudi nulis, di bawah pengaruh kuat kuasa magnit tiga sahabat: Yansen Tipa Padan, Pepih Nugraha, dan Dodi Mawardi. Lagi pula, saya berpikir. Di zaman now. Amat perlulah kita menyampaikan gagasan, ide, impian, apa pun namanya yang positif kepada dunia. Medianya? Ya medsos, antara lain.

Selain agar kepakaran kita tidak mati.

Saya telah mengkhianati keputusan sendiri. Mengingkar nazar.

C'est la vie. Begitulah hidup!

***