Pra Ciputra, 24 Agustus 1931 hingga 27 November 2019

Hanya perlu waktu kurang dari lima tahun setelah terpuruk karena krisis ekonomi 1997-2000, Ciputra kembali menjadi raksasa properti Indonesia.

Jumat, 6 Desember 2019 | 08:37 WIB
0
81
Pra Ciputra, 24 Agustus 1931 hingga 27 November 2019
Ciputra (Foto: Liputan6.com)

Kisah tentang seorang Ciputra adalah suatu pembuktian kemenangan keteguhan dan kerja keras atas kepahitan dan kesulitan hidup. Kesulitan hidup yang dialami di masa kecil membuat Ciputra menangis, karena ia tidak bisa menikmati masa kanak-kanak sebagaimana mestinya. Saat itu, keinginan untuk merasakan makanan yang enak-enak pun tidak pernah kesampaian, karena orangtuanya tidak mampu.

“Waktu kecil, saya ingin sekali makan duren, tapi tidak pernah kesampaian karena orangtua saya tidak punya uang untuk beli duren. Sekarang, saya sudah punya uang untuk beli duren, tapi dokter melarang saya makan duren," Ciputra membuka pembicaraan.

Mengutip salah satu kata-kata mutiara dari pujangga Lebanon, Kahlil Gibran, Ciputra adalah orang yang meraih fajar setelah melalui perjalanan malam. Dengan nama lengkap Pra Ciputra, laki-laki kelahiran Parigi Sulawesi Tengah 24 Agustus 1931 ini, setiap pulang sekolah harus berjualan kue yang dibuat ibunya, keliling kampung. Itu ia lakukan agar tetap bisa bersekolah.

Sebelum meninggal, ayahnya pernah berpesan kepada Ciputra: apapun keadaanya, Ciputra harus tetap sekolah. Kerja keras Ciputra bersama Sang Ibu akhirnya berhasil mengantarkan Ciputra hingga lulus SMA.

Tahun 1955 pemuda Ciputra menapakkan kakinya di Bandung untuk belajar arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Yang pertama dilakukan Ciputra di Kota Kembang adalah mencari teman yang bisa ia tumpangi. Dengan kepandaiannya bergaul, tidak sulit bagi Ciputra mendapatkan teman yang siap menampungnya berbagi derita.

Entrepreneurship Ciputra mulai terlihat, bahkan sebelum ia tamat kuliah. Ciputra mendirikan sebuah perusahaan bersama beberapa temannya. Perusahaan konsultan arsitektur ini adalah bata pertama yang ia susun, yang kemudian menjadi salah satu imperium bisnis properti Indonesia.

Melewati Hari Terkelam

Perjalanan bisnis Ciputra tidak seluruhnya diwarnai sukacita. Ketika badai krisis menerpa tahun 1997, piramida bisnis yang ia susun berpuluh-puluh tahun, nyaris ambruk berantakan. Februari 1998, Ciputra bersama beberapa manager lapangan meninjau ke proyek-proyek yang mulai terbengkalai. Di proyek-proyek itu ada rumah yang baru dibuat fondasinya, ada yang baru dindingnya berdiri, ada yang sudah beratap tapi belum diplester.

“Pekerjaan di proyek terhenti sama sekali, tinggal beberapa orang satpam yang masih berjaga. Waktu itu saya menangis ketika para pembeli rumah berdatangan, menangih janji: mana rumahnya?” kenang Ciputra.

The darkest days in his life. Penjualan anjlok, hutang ke bank, ke pemegang bond Ciputra di dalam dan luar negeri yang nilainya melonjak hingga 6 kali lipat, karena bond yang diterbitkan dalam denominasi US dollar. Teori ekonomi tidak bisa menjelaskan kondisi saat itu.

Ciputra bercerita, kewajiban kepada pembeli, yang bisa diatasi dengan sisa uang kas, dibayar dengan tunai. Tapi ada juga yang dibayar dengan tanah kavling atau rumah setengah jadi, seperti kewajiban kepada para pemborong dan pemasok material. Beruntung saat itu Ciputra membangun rumah selalu lebih banyak jumlahnya daripada yang dipesan. “Jadi, misalnya ada dua rumah yang belum jadi, dibayarkan untuk satu rumah.”

Saat itu Ciputra harus lebih sering menerangkan kondisi perusahaan kepada rekanan yang menagih haknya. Yang mau dibayar dengan tanah kavling, dibayar dengan tanah kavling. Yang mau dibayar dengan rumah, dibayar dengan rumah.

“Saya, anak-anak saya, menantu, dan seluruh pimpinan Ciputra Group menghadapi konsumen satu persatu. Kami tidak pernah menolak telepon. Saat itu saya melihat peran dan pengorbanan keluarga dan para professional yang sangat besar dalam melewati krisis. Waktu krisis 1998 itu, kami tidak meninggalkan Indonesia. Karena hutang adalah hutang, harus dibayar!” tegas Ciputra.

Menurut Ciputra, kalau penanganan satu masalah bisa didelegasikan, ia delegasikan. Tapi untuk kondisi yang paling buruk, harus Ciputra sendiri yang menanganinya. Di pasar modal, harga saham Ciputra anjlok hingga Rp75 per lembar. Kapitalisasi pasarnya pun melorot dari Rp600 miliar menjadi hanya Rp120 miliar.

Sedangkan untuk menangani kewajiban kepada perbankan atau pemegang surat berharga yang diterbitkan Ciputra Group, dilakukan melalui perundingan, hingga tercapai kesepakatan untuk dilakukan restrukturisasi dan dijadwal-ulang pembayarannya. Untuk urusan ini, Ciputra punya tim yang bertugas di garis depan, yakni Harun Hajadi, Nanik Joeliawati, dan Tulus Santoso.

Namun, kondisi yang teramat buruk ketika krisis saat itu mendatangkan kesadaran bahwa mengatasi krisis harus dimulai sebelum krisis itu datang. Poin-poinnya antara lain, semua uang pinjaman (kredit), yang jumlahnya ratusan juta dollar dan triliunan Rupiah, harus dipakai dengan benar untuk proyek yang direncanakan. Sehingga, apapun kondisinya akan lebih mudah menjelaskan kepada para kreditur. Ciputra yakin, properti adalah kebutuhan dasar manusia, sebagai tempat tinggal, kantor, pasar, mall, hotel, pasarnya akan tetap ada dan tumbuh.

“Jadi, kalau suatu saat bisnis properti terpuruk, kita yakin matahari pasti terbit. Kita harus tekun, bekerja keras dan bersandar pada kasih karunia Tuhan,” ujarnya.

Benar saja. Hanya perlu waktu kurang dari lima tahun setelah terpuruk karena krisis ekonomi 1997-2000, Ciputra kembali menjadi raksasa properti Indonesia. Bahkan, telah menjelma menjadi global player, dengan merambah ke sejumlah negara. Bagi Ciputra, krisis adalah adalah kuncup fajar yang siap merekah.

“Misi hidup saya bukan untuk makan atau material, tapi untuk spiritual. Dalam hidup, jika moral dan spiritual kita benar, kita akan makin sukses dalam bisnis atau kehidupan lainnya, makin terbuka jalan yang kita tempuh.”

Telur Entrepreneurship

Untuk mampu menjadi seorang entrepreneur, Ciputra menganalogikan, seperti mengembangbiakan ayam: modalnya dua, ayam dan telur. Menurut Ciputra, ayam adalah orangtua yang memiliki ilmu kewirausahaan. Dan telur adalah ilmu kewirausahaan yang didapat dari sekolah. Dengan analogi itu, sebagian besar anak-anak Indonesia tidak memiliki ayam karena orangtuanya bukan pengusaha, dan juga tidak mendapatkan telur, karena di sekolahnya tidak diajarkan pendidikan kewirausahaan.

Berangkat dari asumsi-analogi itu, Ciputra yakin, methoda paling ampuh untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia adalah pendidikan yang membekali peserta didiknya dengan ilmu kewirausahaan.

Karena sebagian besar anak-anak yang belajar di sekolah-sekolah atau kampus-kampus umum tidak mendapat pelajaran kewirausahaan, Ciputra ingin supaya ‘telur entrepreneurship’-nya tidak hanya ada oleh sekolah-sekolah dan kampus-kampus Ciputra. Ia akan menyebarkan sistem kreatif entrepreneur itu disebarkan ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus di seluruh Indonesia.

“Di rumah mereka tidak punya ayam, di sekolah juga tidak mendapatkan telur. Mereka tidak mungkin mendapatkan ayam, yang mungkin adalah mendapatkan telur. Nah saya akan bagikan ‘telur-telur’ saya ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.”

Selamat jalan, Pak Ci. RIP

***

Keterangan: Naskah ini saya tulis tahun 2008 dan sudah direvisi