Ramadhan Seharusnya Bisa Meredam Suhu Panas politik

Merumuskan UUD 1945, melibatkan kaum ulama. Tidak ada saudara-saudara saya, kaum Muslim yang menginginkan hancurnya Indonesia.

Selasa, 14 Mei 2019 | 22:12 WIB
0
105
Ramadhan Seharusnya Bisa Meredam Suhu Panas politik
Ilustrasi politik (Foto: VOA Indonesia)

Ramadhan  menjadi saat yang dirindukan semua muslim di penjuru dunia. Narasi di awal Ramadhan selalu berupa ucapan syukur karena dipertemukan kembali. Karena tak ada yang bisa mengukur, akan bertemu lagikah di Ramadhan selanjutnya?

Situasi dan kondisinya agak berbeda terutama di media sosial. Karena Ramadhan tahun 2019 bertepatan dengan tahun politik. Di mana awal Ramadhan berada pada masa perhitungan suara  Pilpres dan Pileg 2019.

Usai masa pencoblosan 17 april 2019, sore harinya ada sekitar 12 lembaga riset yang mengumumkan hasil hitung cepat/Quick Count, bahwa Pasangan Capres-Cawapres 01 lebih unggul dari Pasangan Capres-Cawapres 02. Saya salah satu masyarakat yang percaya pada hasil hitung cepat. Karena hitung cepat menggunakan metododologi, artinya sesuatu aktifitas yang dilakukan menggunakan dasar-dasar keilmuan yang bisa dipertanggung jawabkan.

Sayangnya, entah mengapa pasangan Capres-Cawapres 02, tidak menerima hasil hitung cepat. Kalau berdasarkan peraturan memang harus menunggu rekapitulasi Real Count KPU yang bakal diumumkan tanggal 22 mei 2019.

Persoalannya, Kubu 02 bukan hanya tidak menerima hasil hitung cepat/Quick Count, bahkan menolak dan lebih gilanya, mengklaim kubu 02 yang menang. Ditandai dengan sujud syukur dan deklarasi.

Mungkin saya bukan orang cerdas tapi saya punya akal sehat, Peraturan pemilu bukan dibuat sepihak. Ada KPU sebagai lembaga Indpenden yang menyelenggarakan pemilu. Kalau Kubu 02 tidak percaya KPU, mengapa dulu mendaftar/mencalonkan diri sebagai Capres-Cawapres? Kan daftarnya ke KPU? Kok lucu sekarang ikut maunya sendiri?

KPU sudah mengatur jika terindikasi kecurangan, ada mekanisme yang harus diikuti, hingga nanti ke Mahkamah Konstitusi. Kondisi ini melahirkan guyonan, “Besok kalau ada Pilpres jangan kasih tahu Prabowo, abisnya ribet”

Balik lagi dalam kondisi bulan Ramadhan, di mana seharusnya dijadikan waktu untuk memperbanyak kebaikan, meningkatkan iman dan takwa. Di dalamnya terdapat upaya menahan diri, mengalah, melayani, membaca kalam ilahi dan sebagainya. Apa yang terjadi dalam situasi politik, menurut saya harusnya, bulan Ramadhan bisa menjadi peredam panasnya, suhu politik.

Jika semua mau melakukan 10 hal berikut:

1.       Stop membangun literasi kecurangan

2.       Ikuti mekanisme yang ada, Percaya pada KPU

3.       Kawal perhitungan surat suara mulai dari TPS, kelurahan, kecamatan, Kotamadya, propinsi hingga Nasional.

4.       Lakukan sesuai prosedur. Jika semua saksi hadir dan ada mengikuti perhitungan, maka tidak ada alasan petugas tidak menandatangani Plano C1

5.       Data kecurangan bukan berdasarkan prasangka.

6.       Kumpulkan data kecurangan dan serahkan pada KPU & Bawaslu

7.       Bangun literasi dukungan untuk KPU

8.       Bangun literasi pentingnya menjaga keamanan dan kedamaian

9.       Bangun literasi Persatuan Indonesia

10.   Bangun literasi Indonesia maju, adil dan makmur

Jika sadar dan tahu mulianya bulan Ramadhan. Maka saya percaya saudara-saudara saya , kaum muslim akan bersama-sama menjaga situasi dan kondisi bangsa dan Negara agar tetap kondusif. Saya percaya islam sejatinya adalah kasih dan kebaikan.

Jika ada yang bertolak belakang dengan Islam yang saya pahami, maka jangan salahkan saya jika saya beranggapan itu “Islam” yang tak sejalan dengan apa yang diyakini saudara-saudara saya, islam NU dan Muhammadiyah.

Baca Juga: Waspadai Maraknya Kelompok Perusuh NKRI

Mengikuti perkembangan sejarah Islam di Indonesia hingga lahirnya NKRI, bisa dibaca dan dipelajari. Merumuskan UUD 1945, melibatkan kaum ulama. Jadi saya percaya dan yakin betul, tidak ada saudara-saudara saya,  kaum Muslim yang menginginkan hancurnya Indonesia.

Upaya meredam panasnya suhu politik juga bisa dilihat dari ramainya meme kocak yang mendukung KPU. Saya percaya orang-orang dibalik pembuat konten meme tersebut adalah orang-orang yang cinta damai.

Siapapun pemenang Pilpres 2019, percaya deh, kita tetap harus berdoa dan berusaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Siapapun pemenang pilpres nggak otomatis membuat kehidupan menjadi lebih mudah tapi paling nggak kondisi aman dan damai, membuat masyarakat bisa beraktifitas dengan nyaman. Sehingga bisa lebih produktif dan masyarakatnya bisa lebih bahagia.

***