Danantara Menopang Transformasi Ekonomi melalui Proyek Hilirisasi

Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:29 WIB
0
0
Danantara Menopang Transformasi Ekonomi melalui Proyek Hilirisasi
Presiden Prabowo Subianto

Oleh: Bara Winatha

Transformasi ekonomi Indonesia memasuki fase baru melalui penguatan agenda hilirisasi yang digerakkan secara terstruktur dan masif. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara hadir sebagai salah satu instrumen strategis negara untuk memastikan sumber daya alam tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Melalui serangkaian proyek strategis, Danantara diarahkan menjadi motor penggerak yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas penting.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria mengatakan bahwa lembaganya tengah menyiapkan total 21 proyek hilirisasi dengan nilai investasi mendekati Rp500 triliun. Ia menjelaskan bahwa pada pekan sebelumnya telah dilakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase pertama, dan dalam waktu dekat sekitar sepuluh proyek tambahan akan kembali memasuki tahap peletakan batu pertama. Menurutnya, rangkaian proyek tersebut bukan sekadar seremoni pembangunan, melainkan bagian dari desain besar untuk memperkuat struktur ekonomi nasional melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

Dony menuturkan bahwa proyek-proyek yang dijalankan mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari smelter aluminium dan smelter grade alumina refinery di Mempawah, pengembangan kapasitas di Kuala Tanjung, hingga pembangunan pabrik bioetanol di Glenmore dan biorefinery penghasil bioavtur di Cilacap. Ia juga menyampaikan bahwa proyek dimetil eter atau DME berbasis gasifikasi batu bara bersama PT Bukit Asam menjadi salah satu agenda penting berikutnya. Hilirisasi energi melalui DME akan mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain sektor energi dan pertambangan, Danantara juga menggarap proyek peternakan unggas terintegrasi di berbagai daerah seperti Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Fasilitas integrated poultry tersebut ditargetkan mampu menambah produksi hingga 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur per tahun, sekaligus menciptakan sekitar 1,46 juta lapangan kerja baru. Menurutnya, proyek ini menjadi bukti bahwa hilirisasi juga menyasar sektor pangan strategis yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks sektor peternakan, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa proyek hilirisasi poultry yang dijalankan melalui skema Danantara bertujuan utama menjaga stabilitas harga di tingkat produsen maupun konsumen. Ia memandang keterlibatan BUMN melalui skema hilirisasi Danantara menjadi langkah strategis untuk menjamin suplai ke peternak kecil. Dalam jangka panjang, model ini diharapkan mampu memperkuat daya saing industri pangan nasional sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Dari perspektif pasar modal dan tata kelola investasi, Pengamat ekonomi dan pasar modal Dr. Farid Subkhan mengatakan bahwa kekhawatiran terhadap peran Danantara di pasar dinilai terlalu dini. Ia menjelaskan bahwa Danantara sebagai sovereign wealth fund memiliki fungsi strategis dalam mengelola aset negara dan melakukan investasi untuk memperoleh imbal hasil optimal. Kepemilikan saham atau partisipasi Danantara di berbagai entitas merupakan aktivitas investasi yang lazim dilakukan oleh lembaga sejenis di berbagai negara.

Farid menuturkan bahwa Danantara bukan regulator, melainkan market player yang beroperasi dalam koridor hukum dan tata kelola yang berlaku. Fungsi pengaturan dan pengawasan tetap berada di tangan Otoritas Jasa Keuangan. Dalam kerangka tersebut, kehadiran Danantara justru dapat berperan sebagai market driver sekaligus market balancer yang membantu menjaga stabilitas dan meningkatkan kepercayaan investor. Ia mencontohkan bahwa banyak negara seperti Singapura, Qatar, dan China juga melakukan praktik serupa sebagai bagian dari strategi investasi nasional. 

Farid menilai bahwa dengan tata kelola yang baik, Danantara dapat memperkuat daya saing perusahaan negara dalam persaingan global. Investasi di sektor hilirisasi akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian, baik melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan penerimaan negara, maupun penguatan struktur industri nasional. Menurutnya, selama pengawasan tetap berjalan ketat dan profesional, kehadiran Danantara justru menjadi katalis positif bagi pendalaman pasar keuangan domestik.

Sinergi antara kebijakan sektor riil dan penguatan struktur keuangan inilah yang menjadikan Danantara sebagai instrumen penting dalam transformasi ekonomi. Proyek hilirisasi di sektor aluminium, bioenergi, DME, peternakan unggas, hingga garam menunjukkan pendekatan yang komprehensif dan lintas sektor. Pabrik garam dengan teknologi mechanical vapor recompression di Gresik, Manyar, dan Sampang, misalnya, ditujukan untuk memperkuat swasembada garam sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Strategi hilirisasi yang digerakkan Danantara telah memperlihatkan arah kebijakan yang terintegrasi antara stabilisasi domestik dan ekspansi nilai tambah global. Di satu sisi, proyek poultry dan garam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga dalam negeri. Di sisi lain, proyek smelter, bioetanol, biorefinery, dan DME meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan memperkuat ketahanan energi.

Transformasi ekonomi melalui hilirisasi menuntut konsistensi, koordinasi, dan tata kelola yang kuat. Dengan dukungan kebijakan sektoral dari kementerian teknis, eksekusi investasi oleh Danantara, serta pengawasan regulator yang independen, agenda ini diharapkan mampu mengubah struktur ekonomi Indonesia dari berbasis komoditas mentah menjadi berbasis industri bernilai tambah tinggi. Dalam kerangka tersebut, Danantara terus menjadi penopang utama transformasi ekonomi nasional menuju pertumbuhan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.