Netral

Rabu, 9 Januari 2019 | 06:19 WIB
0
641
Netral
Aa Gym (Foto: Fajar.co.id)

Aa Gym menyatakan netral. Artinya ia tidak akan keluarkan dalil-dalil agama untuk mendukung salah satu capres. Mungkin karena sadar bahwa fatwanya tidak efektif di Pilkada Jabar. Atau sedang tobat menekuri kenapa Tuhan tidak mengabulkan doanya di Pilkada Jabar.

Gus Mus dan Quraish Shihab juga netral. Seingat saya, mereka selalu netral. Mereka memilih duduk di posisi ulama, yang sepenuhnya sadar bahwa politik itu permainan duniawi, yang tidak pantas bila ayat-ayat suci diperdagangkan untuk keperluan itu.

Ada pula orang-orang yang netral karena kedua calon yang bertarung tidak ada yang menggairahkan. Ibarat tidak bergairahnya orang menonton pertandingan Persija vs Persib, karena ia berharap ada pertarungan sekelas Manchester City vs Liverpool.

Netral itu biasa saja. Orang punya banyak alasan untuk itu, dan itu terserah dia. Orang yang netral, tidak kita ketahui pilihannya. Bisa saja ia membuat pilihan yang sama denganmu, bisa pula berbeda. Berbeda, artinya bisa saja ia memilih kandidat sebelah sana, atau tidak memilih. Semua itu sah dalam demokrasi.

Seandainya ia tidak memilih pilihan yang sama denganmu, apakah kamu akan memusuhinya? Lha, emang lu siapa? Kamu mau bilang mereka goblok? Silakan sih, tapi emang apa pengaruhnya?

Dalam hal hiruk pikuk pilpres, saya netral, dalam arti saya tidak bergairah mendukung salah satu calon. Saya memilih untuk meluruskan informasi dan cara berpikir saja. Soal pilihan saya, itu urusan saya. Saya mau coblos dinding bilik suara juga tidak ada urusan dengan siapa pun.

Saya heran dengan orang yang masih saja mengomeli pilihan orang-orang untuk golput. Ada yang mencaci goblok, menuduh arogan, apatis, tidak peduli nasib bangsa, dan sebagainya. Lha, kok repot sih? Saya nggak pernah mempermasalahkan pilihanmu, kok. Orang mau pilih Prabowo aja nggak saya sebut goblok, apalagi milih Jokowi.

Tapi jangan koar-koar, dong, kata mereka. Lha, elu koar-koar dengan pilihanmu, kok boleh? Apa karena kamu sadar bahwa koar-koarmu sebenarnya tidak makin membuatmu yakin bahwa calon yang kamu dukung bakal menang? Kamu khawatir pengaruhku lebih kuat? Kalau begitu, apa kamu pikir memaki orang itu akan membuat dia jadi beralih untuk memilih pilihan yang sama denganmu?

Coba renungkan kembali, apa substansi kampanye itu!

***