Buruk Berita, Media Dibelah

Kamis, 6 Desember 2018 | 08:23 WIB
0
78
Buruk Berita, Media Dibelah
Prabowo Subianto (Foto: Waspada.co.id)

Dalam siklus setiap bulan, wanita mengalami apa yang dinamakan dengan menstruasi. Dan ini normal, justru kalau tidak mentruasi setiap bulan bisa jadi ada masalah dengan kesehatannya. Efek dari menstruasi bisa mempengaruhi psikologisnya. Seperti sensitif atau mudah tersinggung, baper, dan kadang mudah uring-uringan.

Nah, bulan-bulan sekarang sampai bulan April 2019 adalah bulan atau tahun politik di mana kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden terkadang seperti mengalami efek menstruasi, yaitu mudah baper, tersinggung,uring-uringan atau sampai tingkat marah. Masalah yang kecil bisa dibesar-besarkan dan saling lapor ke BAWASLU. Masalah kecil disentil-sentil supaya membesar atau saling goreng isu-isu murahan.

Ada salah satu calon presiden yang marah-marah hanya gara-gara media nasional atau televisi tidak memberitakan Reuni 212 pada Minggu 2/12/2018.

Dalam salah satu rekaman video sang calon presiden dengan ekspresi wajah penuh emosi, sambil menuding-nuding para wartawan. Pancaran wajahnya benar-benar marah, bahkan diikuti gerakan tangan untuk mendorong para wartawan yang mengikutinya dan disertai dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Kamu TV mana? Hah? TV mana? Kenapa kamu mau wawancara saya? Orang kemarin 11 juta kamu bilang ga ada orang!" kata sang calon presiden dengan tatapan mata penuh emosi. Bahkan dengan perntanyaan membentak atau meninggi suaranya yang ditujukan kepada para wartawan.

Sang calon presiden marah karena media koran, online atau televisi dianggap tidak memberitakan secara benar atau obyektif REUNI 212 yang menurut calon presiden tersebut jumlah mencapai 11 juta orang. Oalaah hanya gitu saja kok ya marah tho pak, sing sabar.

Ini agak aneh, media televisi seperti Metro TV atau Kompas TV sering diboikot atau dipersekusi setiap meliput acara seperti Reuni 212 atau kegiatan acara keagamaan lainnya. Giliran media tersebut tidak memberintakan secara besar-besaran marah dan menganggap tidak obyektif.

Bukan itu saja, hanya gara-gara Reuni 212 tidak dijadikan Headline di Harian Kompas halaman depan, mereka juga marah-marah gaa jelas seperti mau datang bulan. Mudah tersinggung dan uring-uringan.

Kenapa sang calon presiden tersebut harus marah? Bukankah acara reuni 212 bukan ajang kampanye? Ia hanya tamu undangan, bukan yang punya gawe atau hajatan.

Kalau sampai ia marah hanya gara-gara media nasional tidak meliput atau memberitakan jumlah angka sesuai keinginannya yaitu 11 juta, berarti memang acara reuni 212 adalah ajang kampanye terselubung dengan kemasan acara reuni.

Tentu acara Reuni 212 bagi sang calon presiden teresebut merupakan kampanye gratis yang belum tentu bisa diadakan kembali dengan jumlah massa yang sangat besar. Dan harapannya dalam acara reuni tersebut mendapat pemberitaan yang positif untuk mendongkrak tingkat elektabilitasnya.

Tapi sayang, media nasional tersebut tidak menjadikan reuni 212 sebagai "hot news" tapi hanya diberitakan sekilas info saja, "adem news". Marahlah dan meradang sang calon presiden tersebut.

Belum jadi presiden saja sudah ngancam-ngancam media atau insan pers, gimana kalau jadi presiden beneran?

Ngadem dulu, Pak, biar pikiran dan hatinya tentrem!

***